*)Oleh: Ahmad Afwan Yazid, M.Pd
Suatu sore menjelang takbir Iduladha dikumandangkan, seorang ayah duduk di samping putrinya yang berusia tujuh dan tiga tahun. Di hadapan mereka, seekor kambing sedang diberi makan. Dengan penuh kasih, sang ayah mulai bercerita, bukan tentang dunia kartun atau dongeng, tetapi tentang seorang nabi yang luar biasa: Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.
Ia menceritakan kisah ketaatan yang dahsyat saat Nabi Ibrahim bersedia menyembelih putranya, Ismail, demi menjalankan perintah Allah. Sang anak mendengarkan dengan mata berbinar, kagum sekaligus penasaran.
Momen sederhana itu bukan sekadar pengantar tidur atau pengisi waktu luang. Itu adalah pendidikan. Pendidikan akidah. Pendidikan tentang cinta yang hakiki kepada Sang Pencipta. Nilai-nilai itu tidak diajarkan melalui ceramah berat atau buku tebal, melainkan melalui kisah, kedekatan emosional, dan praktik nyata yang membekas di hati anak.
Kurban: Pendidikan Hati dan Rasa Syukur
Mengajarkan anak tentang ibadah kurban adalah mengenalkan mereka pada makna pengorbanan, ketundukan, dan cinta yang tulus kepada Allah. Bahkan, anak usia dini sudah mampu menyerap nilai ini secara perlahan dan alami, melalui pendekatan yang lembut dan penuh makna.
Allah berfirman:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
“Sesungguhnya Aku perintahkan kepada kamu agar menyembelih (berkurban)…” (QS. Al-Kautsar: 2)
Dan dalam ayat lain ditegaskan:
لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya…” (QS. Al-Hajj: 37)
Nilai kurban bukan tentang daging semata, melainkan keikhlasan dan ketundukan. Anak-anak perlu dibimbing untuk memahami bahwa setiap bentuk ibadah, termasuk kurban, adalah bentuk cinta kepada Tuhan yang Maha Pengasih.
Mengajarkan dengan Keteladanan dan Keterlibatan
Anak-anak tidak belajar dari nasihat semata. Mereka belajar dari keteladanan. Mengajak anak menyaksikan proses penyembelihan, memberi makan hewan qurban, atau bahkan menyisihkan uang tabungan bersama untuk membeli hewan qurban, adalah bentuk pendidikan konkret yang membangun keterlibatan batin mereka.
Usia dini adalah fase emas perkembangan spiritual dan emosional anak. Pada masa ini, apa yang tertanam kuat akan membentuk fondasi keyakinan dan kepribadian anak di masa depan. Maka, memperkenalkan mereka pada ibadah yang sarat makna seperti qurban akan mengajarkan anak untuk:
- Bersyukur atas nikmat Allah,
- Tidak cinta berlebihan terhadap harta benda,
- Belajar berbagi dan peduli terhadap sesama,
- Membangun hubungan vertikal yang kokoh dengan Allah.
Ketika hari Iduladha tiba, anak bisa diajak menyaksikan suasana shalat Ied, mendengar gema takbir, dan melihat bagaimana daging qurban dibagikan kepada yang membutuhkan. Mereka akan belajar bahwa kurban bukan hanya tentang menyembelih hewan, tapi juga tentang kepekaan sosial, berbagi kepada sesama, dan bentuk cinta kasih yang diajarkan oleh Islam.
Anak akan memahami bahwa tidak semua orang bisa makan daging setiap hari, dan melalui kurban, kita bisa membuat banyak orang tersenyum.
Mengajarkan kurban kepada anak bukan tentang menyuruh mereka memahami konsep fikih atau hukum syariah di usia dini. Tapi tentang menyemai nilai cinta kepada Tuhan yang kelak akan tumbuh menjadi pohon keimanan yang kokoh. Karena cinta kepada Allah, anak belajar memberi. Karena cinta kepada Allah, anak belajar mengikhlaskan. Dan karena cinta kepada Allah, anak belajar menaati meskipun berat.
Dengan pengalaman langsung seperti ini, anak-anak perlahan akan memahami bahwa kurban adalah bentuk kecintaan dan ketundukan kepada Allah. Mereka akan tumbuh dengan kesadaran bahwa ibadah tidak hanya dilakukan dengan shalat dan puasa, tetapi juga dengan tindakan nyata yang membawa manfaat untuk sesama.
Firman Allah dalam QS. Al-Ma’idah ayat 27 mengingatkan bahwa Allah hanya menerima kurban dari orang-orang yang bertakwa, dan dalam hadits Nabi disebutkan bahwa setiap tetes darah hewan kurban adalah pengampunan dosa. Maka, sejak dini, anak-anak harus diajak untuk mencintai Allah dengan cara-cara yang sesuai dengan tahap tumbuh kembang mereka, salah satunya adalah dengan belajar tentang kurban, bukan sekadar sebagai ritual, tetapi sebagai nilai kehidupan yang agung.
Iduladha bukan hanya hari besar umat Islam, tapi juga momen pendidikan spiritual keluarga. Mari jadikan kurban sebagai ruang tumbuh cinta Ilahi di hati anak-anak kita. (*)
*) Guru SD Muhammadiyah 4 Kota Malang, Praktisi Pendidikan dan Parenting Keluarga
