*)Oleh: Agus Priyadi, S.Pd.I
Perubahan merupakan keniscayaan sehingga tidak dapat dielakkan oleh siapapun. Maka bagi yang tidak siap menerima perubahan, akan tertinggal. Agar tidak menjadi korban dari perubahan, santri harus menyiapkan diri dengan berbagai kompetensi yang dibutuhkan.
Seorang santri harus berani mengubah dirinya sendiri sebelum mengubah orang lain. Spirit inilah yang nantinya turut mengubah keadaan lingkungan sekitarnya ke arah yang lebih baik sesuai konteks zamannya. Untuk itu, selain belajar ilmu agama, mereka juga harus belajar ilmu lain sebagai penunjang masa depannya.
Santri era modern harus berpikir maju serta terbuka terhadap perubahan dan hal-hal baru yang baik. Santri masa kini tidak boleh tertutup dan apalagi anti kemajuan karena akan merugikan diri sendiri, ummat dan bangsa.
Selain itu, santri harus bisa menangkap peluang dari kemajuan zaman. Dengan demikian, santri menjadi subyek yang ikut berperan mengisi ruang-ruang publik. Bukan sebagai obyek yang menjadi sasaran dari kemajuan itu sendiri. Untuk itu, santri mau tidak mau harus belajar berbagai disiplin ilmu pengetahuan untuk mengisi peran strategis bangsa dalam menghadapi kemajuan zaman yang kian kompetitif.
Dengan bekal pengalaman, moralitas dan keilmuan yang mumpuni, santri diharapkan dapat mengambil peran pada bidang-bidang strategis yang dibutuhkan ummat. Seperti kesehatan, pendidikan, ekonomi, politik, budaya dan lain sebagainya. Santri harus ikut andil dalam mewarnai perjalanan bangsa dengan karya nyata, bukan sekedar retorika di mimbar-mimbar yang jauh dari realita. Santri harus ikut turun tangan menyelesaikan persoalan bangsa yang kian rumit. Oleh karenanya, santri mesti berkiprah dalam pentas nasional mengisi semua bidang kehidupan.
Sudah saatnya perpolitikan diisi oleh santri agar warna politiknya sejuk, santun dan beradab. Jangan biarkan perpolitikan nasional dikuasai oleh orang-orang yang kurang beretika. Dalam bidang ekonomi juga perlu melahirkan ekonom dan bisnismen yang berjiwa santri sehingga berbisnis dengan cara islami. Tidak monopoli dan tidak memakan riba yang merugikan kaum papa. Santri juga harus mengisi peran-peran lainnya seperti teknokrat, budayawan, dokter, arsitek dan lain sebagainya.
Di era digital ini, santri juga tidak boleh ketinggalan. Santri harus melek teknologi informasi untuk menebar kebaikan. Jangan sampai media sosial dipenuhi oleh orang-orang tak bertanggungjawab yang menebar berita hoaks dan meresahkan ummat.
Kecanggihan digital juga harus direspon positif sebagai media dakwah masa kini. Dakwah masa kini disesuaikan dengan kebutuhan dan media yang ada. Untuk itu, santri dituntut kreatif menggunakan platform digital. Santri semestinya dapat mengisi ruang digital dengan aneka pemikiran yang maju namun sejuk. Menebar kebaikan serta nilai-nilai islami tanpa kenal lelah.
Bonus demografi satu sisi menjadi peluang namun di sisi lain bisa menjadi beban. Bila bonus demografi dikelola dengan baik, maka akan menjadi potensi yang menopang kemajuan bangsa. Akan tetapi bila tidak mampu dikelola dengan baik, kondisi tersebut akan menjadi beban negara. Jumlah penduduk yang besar bila dikelola dengan sungguh-sungguh menjadi kekuatan yang berkontribusi memajukan bangsa diberbagai bidang. Tapi bila tidak, justru akan menambah beban pemerintah.
Sosok santri yang telah digembleng di pondok pesantren untuk menjadi manusia yang mandiri, kreatif dan produktif sesungguhnya sedang dipersiapkan untuk menghadapi zaman yang dinamis. Perubahan demi perubahan tak dapat dihindari. Oleh karenanya, mental santri ditanamkan semangat juang agar tidak gentar menghadapi situasi dan kondisi bahkan saat genting sekalipun.
Maka tidak heran bila ada sejumlah santri yang sukses di berbagai bidang. Pasalnya, santri sudah dibekali dengan ilmu agama dan jiwa enterpreneur. Pondok pesantren pun kini bertransformasi menjadi lembaga pendidikan yang beradaptasi dengan kemajuan zaman. Banyak pondok pesantren yang mendirikan sekolah seperti SMP/Mts, SMA, MA dan SMK, bahkan perguruan tinggi. Tujuannya agar santri kelak menjadi manusia yang cerdas tapi juga mandiri.
Berkaitan dengan Indonesia emas, bertepatan dengan 100 tahun Indonesia merdeka, santri akan menempati posisi strategis di berbgai bidang kehidupan bila disiapkan sejak dini. Bila santri tersebut dipersiapkan dengan baik, tentu akan menjadi potensi yang luar biasa dalam mewujudkan Indonesia emas.
Indonesi emas boleh dikatakan momen di mana Indonesia memiliki jumlah penduduk dengan angka proktif lebih tinggi daripada yang tidak produktif. Dengan demikian, potensi tersebut menjadi modal penting bagi kemajuan bangsa. Maka yang terpenting saat ini adalah menyiapkan anak-anak atau santri dari berbagai jenjang pendidikan untuk menempuh pendidikan sebaik-baiknya dengan didukung kesejahteraan yang layak. Dengan demikian, pada saatnya nanti, santri yang kini berada di pondok pesantren, siap mengisi bidang-bidang yang diperlukan untuk kemajuan bangsa.
Santri merupakan representasi kaum milineal yang potensial dan produktif. Hal ini sebagaimana dikatan oleh Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi bahwa generasi santri bisa berperan penting menjadi dalam mewujudkan Indonesia maju pada momentum Indonesia emas 2045. Sosok santri saat ini merepresentasikan generasi muda yang memiiki pengetahuan, berkarakter dan memilki keterampilan (www.radioidola.com., 5/5/2025).
Pada dirinya melekat jiwa kreatif dan ivovatif, mampu memanfaatkan peluang-peluang untuk kemajuan bangsa. Santri merupakan tipologi orang yang mandiri, kreatif dan tahan terhadap ujian sehingga tidak mudah menyerah dalam menghadapi persaingan yang ketat. Jiwa kemandirian yang diperolehnya di pondok pesantren menjadi spirit untuk berjuang meraih kemajuan.
Selain itu, yang tak kalah pentingnya adalah akhlak. Kaum santri diyakini sebagai sosok yang memiliki akhlak yang baik. Akhlak ini sangat dibutuhkan di era teknologi informasi dan globalisasi dimana orang cenderung berkutat dengan kecerdasan buatan. Sedangkan santri tidak hanya dibekali dengan keilmuan, tapi jyga dengan akhlak mulia. Akhlak mulai tersebut sebagai benteng dari pengaruh negatif dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dengan kata lain, santri memiliki optimisme dan peran penting dalam mewujudkan Indonesia emas 2045 dengan mengisi ruang publik yang strategis berdasarkan kompetensi dan keilmuan yang dimilikinya baik ilmu agama maupun ilmu umum dan disertai dengan akhlak mulia sehingga kemajuan yang dicapai bukan hanya maju secara material namun juga imimaterial (spiritual). Sehingga bangsa Indonesia kelak akan mencapai kemakmuran dan kesejahteraan lahir dan batin. Semoga!
*) Anggota KMM PDM Banjarnegara dan Santri Sekolah Tabligh PWM Jateng di Banjarnegara.
