Masa kanak-kanak adalah masa emas bagi tumbuh kembang anak, termasuk dalam pembentukan karakter dan nilai-nilai spiritual. Di usia dini, anak-anak menyerap informasi dengan cepat dan kuat dari lingkungan sekitarnya.
Salah satu metode yang sangat efektif untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan pada anak adalah melalui kisah atau cerita. Metode ini bukan hanya menyenangkan, tetapi juga membangun pemahaman emosional, imajinasi, dan moral secara alami.
Kisah dalam Perspektif Pendidikan Islam
Pendidikan Islam telah lama menjadikan kisah sebagai media pembelajaran. Dalam Al-Qur’an, banyak sekali kisah yang dikisahkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW dan umat manusia, seperti kisah Nabi Yusuf, Nabi Musa, Ashabul Kahfi, dan lainnya. Allah SWT berfirman:
لَقَدْ كَانَ فِيْ قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُوْلِي الْأَلْبَابِ
“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Yusuf: 111)
Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menekankan pentingnya mendidik anak dengan cara yang sesuai perkembangan jiwa mereka, termasuk dengan kisah dan perumpamaan. Kisah membantu anak memahami nilai baik dan buruk melalui tokoh-tokoh yang mereka kagumi.
Landasan Psikologi: Anak Belajar Melalui Imajinasi
Menurut teori perkembangan kognitif Jean Piaget, anak usia dini berada pada tahap praoperasional (2–7 tahun), di mana mereka belum bisa berpikir logis secara penuh, tetapi sangat kuat dalam berpikir simbolik dan imajinatif. Dalam tahap ini, kisah sangat efektif digunakan karena anak belajar melalui gambar, suara, dan tokoh imajinatif.
Bruno Bettelheim, seorang psikolog anak, dalam bukunya The Uses of Enchantment, menyatakan bahwa cerita dan dongeng membantu anak memahami konflik batin dan emosi mereka sendiri, serta memberikan solusi melalui narasi yang bisa diterima pikiran mereka.
Manfaat Kisah dalam Pendidikan Anak Usia Dini
- Menanamkan Nilai Moral dan Agama
Anak-anak akan lebih mudah memahami konsep seperti kejujuran, kesabaran, keberanian, dan kasih sayang melalui contoh tokoh cerita. Misalnya, kisah Nabi Ibrahim AS mengajarkan keteguhan iman dan keberanian menghadapi kebenaran. - Mengembangkan Imajinasi dan Bahasa
Kisah memperluas kosa kata, memperbaiki struktur kalimat, dan mengembangkan kemampuan berpikir naratif. Ini menjadi dasar bagi kemampuan literasi anak di kemudian hari. - Membangun Kedekatan Emosional dengan Orang Tua
Membacakan kisah setiap malam menjelang tidur, misalnya, menjadi rutinitas yang bukan hanya edukatif, tetapi juga emosional. Momen ini menciptakan ikatan cinta dan rasa aman bagi anak. - Mengembangkan Empati dan Kecerdasan Emosional
Saat anak memahami perasaan tokoh dalam cerita, ia belajar berempati dan mengenali emosi. Ini penting bagi perkembangan sosial-emosionalnya. - Membentuk Karakter Positif
Kisah Nabi Muhammad SAW yang penyabar dan penyayang, atau sahabat seperti Abu Bakar yang dermawan, adalah contoh nyata karakter yang dapat diteladani oleh anak-anak sejak dini.
Implementasi Praktis di Rumah dan Lembaga PAUD
Berikut beberapa cara menerapkan kisah dalam pendidikan anak usia dini:
- Membacakan kisah sebelum tidur
Pilih cerita Islami, kisah nabi, atau dongeng yang mengandung pesan moral. Gunakan intonasi dan ekspresi yang menarik. - Menggunakan media boneka, buku bergambar, atau video edukatif
Anak usia dini cenderung visual. Menggunakan alat bantu visual membuat cerita lebih menarik dan mudah dipahami. - Mengajak anak berdialog setelah cerita
Tanyakan kepada anak: “Menurutmu, kenapa tokoh itu membantu temannya?” atau “Apa yang bisa kita pelajari dari cerita tadi?” - Menyusun cerita bersama anak
Biarkan anak menciptakan akhir cerita atau melanjutkan cerita. Ini menumbuhkan kreativitas dan percaya diri mereka.
Teladan Nabi SAW dalam Pendidikan Anak
Rasulullah SAW adalah pendidik utama yang memberikan keteladanan luar biasa dalam mendidik anak-anak. Beliau tidak pernah membentak anak, selalu memanggil mereka dengan nama kesayangan, dan senang bermain serta bercanda dengan mereka.
Bahkan saat cucunya naik ke punggungnya ketika sujud, Rasulullah memperlama sujudnya agar cucunya puas bermain.
Dalam hadis disebutkan:
يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا، وَبَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا
“Permudahlah, jangan mempersulit! Gembirakan, jangan membuat orang lari!” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini sangat tepat diterapkan dalam pendidikan anak: penuh kelembutan, tanpa kekerasan, dan mengedepankan pendekatan hati.
Pendidikan Anak Dimulai dari Rumah
Mendidik anak melalui kisah bukan hanya tugas guru atau lembaga pendidikan, tetapi dimulai dari rumah. Orang tua adalah madrasah pertama dan utama.
Dengan menyediakan waktu untuk membaca dan bercerita, orang tua tidak hanya mengajarkan nilai, tetapi juga menyemai cinta dan kedekatan yang tak ternilai.
Dunia anak adalah dunia cerita. Melalui cerita, anak belajar memahami dunia, mengenal Tuhannya, dan meneladani Rasul-Nya.
Maka, mari hidupkan kembali tradisi berkisah dalam keluarga dan pendidikan kita. Sebab di balik kisah, ada nilai, cinta, dan harapan masa depan. (*)

mantap, baarokallah ilmunya ustadz