*Oleh: M MAHMUD
Ketua PRM Kandangsemangkon Paciran Lamongan Jatim
Mendidik bukanlah perkara instan. Ia bukan seperti mie diseduh yang hanya butuh beberapa menit untuk disajikan. Mendidik adalah proses panjang yang tak bisa dibentuk dari hal yang mendadak. Ia adalah laku yang memerlukan pembiasaan, keistikamahan dan keikhlasan hati.
Pendidikan sejati bukan hanya dimulai dari kelas, bukan hanya tugas guru di madrasah / sekolah, tetapi berakar sejak dini di rumah, dari teladan orang tua dan tumbuh dalam lingkungan yang mendukung.
Mendidik adalah proses bertumbuh, bukan sekadar mentransfer informasi, tapi menumbuhkan akal, adab, dan akhlak.
Berikut beberapa refleksi yang bisa memperdalam makna “mendidik itu tidak instan”:
Pendidikan Adalah Proses Menanam
• Seperti menanam pohon, hasilnya tidak langsung terlihat. Dibutuhkan waktu, kesabaran, dan pemeliharaan.
• Anak atau peserta didik tidak hanya belajar dari materi, tapi juga dari keteladanan guru dan suasana pembelajaran.
Makna Mendalam dari Kesabaran dalam Mendidik
• Setiap individu punya jalur tumbuh yang berbeda. Mendidik berarti menemani perjalanan mereka, bukan memaksa percepatan.
• Kesalahan dan kegagalan adalah bagian dari proses belajar. Justru di sana nilai pendidikan menjadi nyata.
Mendidik dengan Tujuan Jangka Panjang
• Bukan hanya soal nilai ujian, tapi bagaimana seseorang menjadi pribadi yang utuh dan bermanfaat.
• Pendekatan instan bisa menghasilkan kepatuhan sesaat, tetapi pendidikan sejati menumbuhkan kesadaran dan tanggung jawab.
Dalam Islam, konsep “mendidik itu tidak instan” sangat selaras dengan nilai-nilai tarbiyah (التربية), yang berarti proses pembinaan dan pertumbuhan berkelanjutan.
Berikut kerangka konsep Islam yang menunjukkan bahwa pendidikan adalah proses jangka panjang yang holistik:
1. Tarbiyah: Pendidikan yang Bertahap dan Menyeluruh
• Tarbiyah berasal dari kata rabb, yang artinya Tuhan atau pemelihara.
• Mendidik berarti memelihara potensi manusia, dari aspek spiritual, akhlak, hingga intelektual.
• Prosesnya bersifat tadarruj (bertahap), tidak langsung, dan penuh kesabaran.
2. Kisah Para Nabi sebagai Teladan Proses Pendidikan
• Nabi Nuh mendidik kaumnya selama 950 tahun, walau hanya sedikit yang mengikuti.
• Nabi Ibrahim membangun keimanan anak-anaknya melalui dialog, bukan paksaan.
• Nabi Muhammad ﷺ membina sahabat melalui pengalaman hidup, ujian, dan pembiasaan nilai selama 23 tahun kenabian.
3. Pembiasaan dan Keteladanan: Bukan Sekadar Transfer Ilmu
• Islam mengajarkan bahwa pendidikan terjadi melalui ta’lim (pengajaran) dan ta’dib (pembentukan adab).
• Pembiasaan salat, jujur, amanah, sabar, semua butuh waktu dan teladan nyata, bukan sekadar perintah.
• Rasulullah ﷺ menyampaikan ilmu dengan hikmah dan penuh kelembutan: “Berikanlah kemudahan, jangan mempersulit.”
4. Tujuan Pendidikan dalam Islam: Menjadi Insan Kamil
• Pendidikan bertujuan mencetak pribadi yang seimbang: spiritual, sosial, dan intelektual.
• Proses ini tidak instan karena menyentuh dimensi ruhani dan jasmani secara mendalam.
• Konsep ini terlihat dalam ayat: “Dan didiklah mereka dengan baik” (QS. An-Nisa: 9)
وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوْا عَلَيْهِمْۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا
Terjemah Kemenag 2019
9. Hendaklah merasa takut orang-orang yang seandainya (mati) meninggalkan setelah mereka, keturunan yang lemah (yang) mereka khawatir terhadapnya. Maka, bertakwalah kepada Allah dan berbicaralah dengan tutur kata yang benar (dalam hal menjaga hak-hak keturunannya).
Penerapan konsep mendidik bertahap dalam kehidupan sehari-hari berarti menjadikan proses pembinaan sebagai bagian dari ritme hidup, bukan hanya aktivitas formal. Dalam Islam, proses itu disebut tarbiyah, dan ia bisa hidup di rumah, sekolah, dan masyarakat. Berikut beberapa contoh konkret penerapannya:
1. Dalam Lingkungan Keluarga
• Pembiasaan Ibadah Sejak Dini
Anak kecil mungkin belum mengerti mengapa harus salat, tapi dia bisa diajak salat bersama. Perlahan, makna akan tumbuh seiring usia dan pengalaman.
• Penanaman Adab di Meja Makan
Mulai dari berdoa, makan dengan tangan kanan, hingga menghargai makanan. Bukan dipaksa, tapi dijadikan kebiasaan yang terus-menerus.
2. Dalam Pembelajaran di Sekolah
• Tahapan Pemahaman Konsep
Dari mengenalkan akhlak seperti “jujur” secara cerita atau simulasi, baru kemudian ke aplikasinya dalam tugas kelompok atau amanah organisasi kelas.
• Penguatan Kemandirian Bertahap
Awalnya siswa diberi panduan rinci. Lama-lama diberi ruang berinisiatif, hingga terbiasa bertanggung jawab tanpa disuruh.
3. Dalam Aktivitas Komunitas dan Dakwah
• Pendekatan Tadarruj dalam Pengamalan Syariat
Misalnya, pembinaan mualaf atau remaja. Jangan langsung dituntut ideal, tapi diberi tahapan: memahami dulu makna iman, lalu praktik dasar ibadah, lalu ke etika sosial.
• Pengkaderan Organisasi
Calon pemimpin tidak langsung diberi jabatan, tapi dibina lewat tugas-tugas kecil, diskusi nilai, dan pembiasaan kontribusi bertahap.
Prinsip Inti:
• Kesabaran dan Konsistensi: Tidak semua perubahan langsung terlihat.
• Keteladanan dan Pendampingan: Guru, orang tua, dan tokoh masyarakat harus jadi rujukan hidup, bukan sekadar penyampai aturan.
• Refleksi Berkala: Evaluasi bukan hanya hasil, tapi proses. Bahkan kegagalan adalah bagian dari pembelajaran.
Prinsip tarbiyah Islam seperti tadarruj, hikmah, ta’dib, dan sabr bukan sekadar teori—semuanya bisa dijalankan dalam rutinitas pendidikan harian, baik di rumah, sekolah, maupun masyarakat. Yuk, kita lihat bagaimana prinsip-prinsip itu hidup dalam praktik:
1. Di Rumah: Pendidikan melalui Pembiasaan & Keteladanan
Prinsip Praktik Harian
Tadarruj Mulai dari ajakan salat, lalu belajar makna doa, baru puasa
Sabar Menenangkan anak saat salah, bukan memarahinya langsung
Ta’dib Makan sambil berdoa, tidak bicara kasar, bantu pekerjaan rumah sebagai adab
Hikmah Memberi nasihat sesuai usia, bukan tuntutan yang memberatkan
2. Di Sekolah: Bertahap dan Membangun Tanggung Jawab
Prinsip Praktik Harian
Tadarruj Pemahaman nilai: mulai dari cerita, lalu diskusi, baru praktik kelompok
Sabr Tidak menghukum siswa karena belum sempurna, tapi memberi pendampingan
Ta’dib Menekankan adab di kelas sebelum bicara ilmu—seperti etika bicara dan mendengar
Hikmah Guru menyampaikan materi sesuai daya pikir dan suasana hati siswa
3. Di Komunitas: Pembinaan Sosial dan Dakwah
Prinsip Praktik Harian
Tadarruj Membina anggota baru dengan pelan-pelan: mulai dari akidah, baru amalan
Sabr Tidak mudah kecewa saat hasil dakwah lambat, tetap membina
Ta’dib Mencontohkan akhlak dalam interaksi harian, bukan hanya ceramah
Hikmah Menyampaikan nilai sesuai konteks budaya dan kondisi masyarakat
Intinya, prinsip pendidikan Islam bukan sesuatu yang hanya muncul dalam kurikulum, tapi hidup dalam cara kita bersikap dan membimbing. (*)
