Di antara jutaan langkah para tamu Allah di Tanah Suci, ada kisah penuh haru yang mengajarkan makna ikhlas, sabar, dan cinta tulus tanpa syarat. Kisah ini datang dari pasangan lansia asal Bogor, Soemarno (93) dan istrinya, Yeti (68), yang tertinggal rombongan haji dan sempat kebingungan karena belum melaksanakan umrah wajib.
Sudah tiga hari mereka menunggu di Hotel 701 Makkah, terkurung dalam kebingungan dan keterbatasan informasi. Soemarno yang duduk lemah di kursi roda, nyaris tak bisa melihat, tak mampu mendengar dengan jelas, dan hanya sesekali merespons lirih. Di sampingnya, sang istri yang merawat dan mendampinginya
“Ya makan, mandi, semuanya saya bantu. Ganti baju juga. Saya nggak bisa tinggalin bapak sendiri di kamar,” bisik Yeti, suaranya nyaris tenggelam oleh emosi yang ditahannya. Tiga hari ia hanya bisa berdoa, memohon jalan agar mereka dapat menjalankan umrah yang menjadi rukun haji.
Hingga pagi itu datang. Kamis, 29 Mei 2025. Dengan langkah tertatih, Yeti membawa suaminya turun ke lobi hotel. Harapannya sederhana: ada yang peduli, ada yang mau membantu. Dan doanya dijawab.
Di sanalah mereka bertemu M. Abdurrahman, seorang petugas haji untuk layanan lansia. Saat melihat Soemarno tertidur di kursi roda, nalurinya sebagai pelayan tamu Allah langsung tersentuh.
“Saya kira beliau sakit. Tapi setelah saya tanya, ternyata belum umrah karena tertinggal rombongan,” tuturnya.
Tanpa banyak tanya, Abdurrahman mengambil inisiatif. Malam itu juga, dalam suhu yang lebih bersahabat, ia memberangkatkan Soemarno dan Yeti bersama tiga lansia lainnya menuju Terminal Jabal Kakbah. Di sana, ujian sesungguhnya dimulai.
Jarak dari terminal ke Masjidil Haram sekitar 500 meter, dan jalannya menanjak. Tapi Abdurrahman mendorong kursi roda Soemarno seolah tak ada rasa lelah dalam dirinya. Di lantai dua tempat thawaf, ia membimbing Soemarno melafalkan talbiyah, meneteskan air zamzam ke bibirnya yang kering, bahkan mengusap wajah dan kepala lansia itu dengan air suci.

“Labbaikallaahumma labbaik…” suara Abdurrahman menggema, disambut lirih oleh suara renta Soemarno. Lalu mereka thawaf. Tujuh putaran. Mereka sa’i. Tujuh lintasan. Hingga akhirnya tahalul. Abdurrahman sendiri yang menggunting rambut Soemarno.
Jam sudah menunjukkan dini hari, Jumat, 30 Mei 2025. Tapi wajah Abdurrahman tak menampakkan keletihan. Hanya haru dan syukur. “Kita sisir satu per satu yang belum umrah wajib. Yang wajib-wajib kita dahulukan. Alhamdulillah, semua bisa tuntas,” katanya dengan mata berkaca-kaca.
Di sela kesibukannya, Abdurrahman mengaku sering teringat pada orang tuanya sendiri. “Sering kali kita semua menangis, teringat mbah, orang tua. Jadi dijalani saja, dengan ikhlas,” ucapnya, seraya menyeka air mata.
Petugas seperti Abdurrahman bukan hanya sekadar pendamping ibadah. Mereka adalah tangan kasih, hati yang hadir, dan pelita bagi para jemaah lansia. Dari menyuapi makanan, membantu ke kamar mandi, hingga mencari jemaah demensia yang tersesat—semuanya dilakukan dengan cinta.
“Ini bukan pekerjaan. Ini pengabdian kepada tamu-tamu Allah. Kita bantu seperti membantu orang tua kita sendiri. Insya Allah, semua akan dimudahkan,” ujar Abdurrahman.
Kisah ini bukan hanya tentang menunaikan rukun haji. Ini adalah kisah cinta—cinta Yeti yang tak berpaling dari suaminya, cinta Abdurrahman yang menyerahkan tenaga dan air matanya demi para lansia. Ini adalah kisah keikhlasan yang dibayar tuntas dengan keberkahan.
Di tengah hiruk pikuk jutaan jemaah, kisah Soemarno dan Yeti menjadi napas sunyi yang mengingatkan kita: haji bukan hanya perjalanan fisik, tapi juga perjalanan hati. Sebuah perjalanan yang tak jarang menuntut lebih dari sekadar tenaga—tapi juga kesabaran, pengorbanan, dan cinta yang tak bersyarat.
Semoga kisah ini menjadi cermin bagi kita semua, bahwa mengabdi pada orang tua dan melayani sesama bukanlah beban, tapi kehormatan. Sebab di situlah letak sejati dari sebuah amal yang ikhlas sampai tuntas. (afifun nidlom)
