*) Oleh: Agus Santoso Budiharso
Wakil Ketua IV BAZNAS Provinsi Sulawesi Utara, Mahasiswa Program Doktor Filantropi Islam – UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Pagi itu di Masjid Al-Ikhlas, Kompleks Maharaja Blok O dan P, suasana terasa berbeda. Kuliah subuh kali ini diisi oleh seorang dai muda dari Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) yang baru saja kembali dari medan dakwahnya di pedalaman Sulawesi. Dengan suara teduh dan wajah yang sarat pengalaman, ia bercerita tentang perjuangan menembus hutan, membawa cahaya Islam ke Suku Tau Taa Wana—suku asli Indonesia yang hidup dalam keterasingan di kawasan Cagar Alam Morowali.
Apa yang ia sampaikan bukan kisah dramatis, tapi kesaksian ruhani tentang iman, cinta, dan ketabahan. Tentang bagaimana Islam diperkenalkan dengan kasih sayang dan keteladanan, bukan paksaan. Cerita itu menjadi panggilan nurani bagi setiap Muslim untuk menghidupkan kembali semangat dakwah sejati: dakwah yang menghidupi dan memanusiakan.
Dalam perjuangan ini, DDI tidak berjalan sendiri. Mereka memiliki Lembaga Amil Zakat (LAZ DDI) yang bersinergi erat dengan BAZNAS Republik Indonesia. Bersama-sama mereka mencerdaskan bangsa, memberdayakan umat, dan membangun masyarakat yang bertakwa kepada Allah SWT. Dakwah adalah hasil kerja kolektif seluruh umat.
Suku Tertua di Tengah Rimba
Suku Tau Taa Wana hidup di tengah belantara hutan tropis Sulawesi, masih mempertahankan gaya hidup leluhur mereka. Rumah-rumah mereka terbuat dari kayu dan daun, dihuni beberapa anggota keluarga, tanpa sekat dan tanpa listrik. Mereka memasak dengan kayu, tidur di tikar pandan, dan menggunakan obor sebagai penerangan.
Sebagian besar dari mereka belum mengenal agama formal, hidup dalam sistem kepercayaan lokal yang menyatu dengan hutan. Dakwah kepada mereka bukan hanya mengenalkan ajaran, tapi menggugah cara hidup, meretas keterbatasan, dan menumbuhkan harapan baru.
Untuk mencapai mereka, para dai harus menempuh 9 jam perjalanan dengan motor trail dan jika hujan, harus berjalan kaki selama dua hari penuh melewati sungai, tebing, dan semak belukar. Jalan ini bukan hanya fisik, tapi juga jalan jihad yang penuh pengorbanan.
Namun, di balik segala keterbatasan itu, terbentang keindahan dan potensi besar. Suara burung endemik, udara segar hutan, dan tawa anak-anak menjadi semangat baru bagi para dai untuk tidak mundur.
Pendidikan: Pilar Dakwah Peradaban
Sebelum ada intervensi dakwah, pendidikan di suku ini nyaris tidak ada. Anak-anak tumbuh tanpa mengenal huruf dan angka. Namun kini, berkat kerja keras para relawan dan dai, telah berdiri sekolah dasar hingga kelas 4. Ini adalah tonggak sejarah yang mengubah peradaban.
Dari 50 anak yang dulu belajar, hanya 25 yang bertahan. Sisanya berhenti karena menikah di usia 14–16 tahun—tradisi yang masih kuat dipegang. Namun, justru di situlah medan dakwah menemukan tantangannya yang sejati: mengubah cara pandang, menyadarkan bahwa Islam membawa ilmu, kemuliaan, dan masa depan yang lebih baik.
Dakwah ini telah berlangsung sejak tahun 2002, dan benihnya mulai tumbuh. Kini, anak-anak suku ini telah menghafal 2, 3, hingga 5 juz Al-Qur’an. Bahkan beberapa telah dikirim ke pesantren di Jawa untuk memperdalam ilmu agama dan akan kembali sebagai pendakwah dari dalam komunitasnya sendiri. Inilah wujud transformasi dakwah: dari luar masuk ke dalam, dan dari dalam menyala terang.
Jalan Dakwah: Bukan Aspal, Tapi Lumpur dan Air Mata
Perjalanan menuju lokasi dakwah bukan hal mudah. Medan yang berat, banjir dadakan, binatang buas, dan keterbatasan logistik menjadi sahabat harian para dai. Mereka tidur di tenda atau rumah penduduk, makan dengan singkong, dan bertahan dalam sunyi.
Namun mereka tidak pernah mengeluh. Karena dakwah bukan kemewahan, tapi pengorbanan. Mereka datang bukan sebagai penguasa, melainkan sebagai saudara, sebagai pelayan umat yang membawa keteladanan dan cinta. Mereka belajar bahasa lokal, membantu di ladang, mengobati luka anak-anak, dan menyatu dalam kehidupan masyarakat.
Dari kedekatan inilah hati mulai terbuka. Pertanyaan tentang Tuhan, tentang shalat, tentang Islam, mulai hadir. Dakwah yang lahir dari peluh dan cinta ini perlahan mengubah keraguan menjadi penerimaan.
Dakwah adalah Kehadiran, Bukan Ceramah
Satu kisah menyentuh datang dari seorang tokoh adat yang awalnya menolak dakwah Islam. Namun ia luluh bukan karena debat, melainkan karena melihat sendiri ketulusan sang dai yang merawat anak-anaknya, membantunya bertani, dan tidak pernah meminta imbalan.
“Inilah orang yang datang tidak untuk menguasai kami. Ia datang untuk mencintai kami,” katanya. Dari situ, obrolan tentang Tuhan, doa, dan Al-Qur’an mulai muncul. Dakwah tidak dilakukan dari mimbar tinggi, tapi dari dapur yang hangus, ladang yang becek, dan hati yang bersih.
Di sinilah makna dakwah sejati: menghidupkan cinta, bukan menyampaikan hafalan; membimbing jiwa, bukan sekadar membagi pengetahuan.
Dakwah: Jalan Panjang, Tapi Tak Sepi
Banyak yang menyangka para dai berjalan sendiri. Padahal, di belakang mereka seharusnya ada kita. Dakwah butuh lebih dari semangat: ia butuh dana, logistik, mushaf berbahasa lokal, papan tulis reyot, hingga motor trail yang kuat.
Semua itu bagian dari amal jariyah yang akan terus mengalir pahalanya. Ketika seorang dai menyalakan obor iman di satu dusun, seluruh umat Islamlah yang semestinya menjadi pelita yang menopangnya. Kita mungkin tak bisa hadir di sana, tapi kita bisa menjadi sebab dakwah itu terus menyala.
Keteladanan Rasul: Jalan Sunyi Penuh Cahaya
Rasulullah SAW juga memulai dakwah dalam keterbatasan. Dihina, diusir, dan disakiti, tapi tidak pernah menyerah. Beliau menunjukkan bahwa dakwah bukan sekadar menyampaikan pesan, tetapi mengubah hati, membangun peradaban, dan memanusiakan manusia.
Dai-dai DDI di pedalaman hari ini berjalan di jejak yang sama. Bukan mencari tepuk tangan, tapi mencari ridha Allah. Dan selama masih ada yang berjalan di jalan sunyi itu, Islam akan tetap hidup di hutan-hutan terdalam dan hati-hati yang paling terpencil.
Ayo Bangkitkan Semangat Umat!
Cerita ini tidak boleh berhenti di Masjid Al-Ikhlas. Ia harus menjadi api yang membakar semangat umat. Kita bisa:
Menjadi donatur tetap dakwah pedalaman
Menyumbangkan buku, alat belajar, atau makanan
Menyebarkan kisah inspiratif ini kepada yang lain
Menjadikan masjid kita sebagai mitra dakwah suku pedalaman
Setiap rupiah yang kita keluarkan, setiap dukungan yang kita berikan, adalah lentera yang tak pernah padam di akhirat. Setiap anak yang menghafal Al-Qur’an karena kita, adalah syafaat yang tak tergantikan.
Dakwah bukan tugas satu orang. Ia adalah panggilan bagi seluruh umat. Jangan biarkan para dai berjuang sendiri. Jangan biarkan hutan tetap gelap dari suara azan.
Mari kita hidupkan kembali semangat Rasulullah SAW. Mari hadir bersama mereka—dengan semangat, dengan cinta, dan dengan pengorbanan. Karena selama kita masih peduli, cahaya dakwah tidak akan pernah padam, bahkan di tengah hening hutan sekalipun. (*)

MasyaAllah. Sangat menggugah