Imam Ahmad pernah ditanya tentang seorang laki-laki yang hanya duduk di rumah atau di masjid seraya berkata: ”Aku tidak mau bekerja sedikitpun, sampai rezekiku datang sendiri”.
Maka beliau berkata: “Ia adalah laki-laki yang tidak mengenal ilmu. Sungguh Nabi saw telah bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menjadikan rizkiku melalui tombakku.”
Dan beliau bersabda: “Sekiranya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya Allah memberimu rezeki sebagaimana yang diberikanNya kepada burung-burung, berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang“.
Dalam hadits tersebut dikatakan, burung-burung itu berangkat pagi-pagi dan pulang sore hari dalam rangka mencari rezeki.
Selanjutnya Imam Ahmad berkata: “Para sahabat juga berdagang dan bekerja dengan pohon kurmanya. Dan mereka itulah teladan kita.”
Banyak orang mungkin memiliki persepsi bahwa tawakal hanya berarti pasrah dan menyerah kepada keadaan, tetapi sesungguhnya tawakal adalah sikap yang penuh makna dan kedalaman.
Tawakal mengajarkan kita untuk menggabungkan dua unsur penting dalam kehidupan: usaha yang maksimal dan kepasrahan total kepada Allah SWT.
Sebuah kombinasi yang sempurna antara ikhtiar dan tawakal akan menghasilkan ketenangan batin dan kebijaksanaan dalam menghadapi segala bentuk tantangan hidup.
Seorang muslim diperintahkan untuk berusaha sekuat tenaga dalam setiap aspek kehidupan. Hal ini terlihat dalam banyak ayat Al-Qur’an yang mendorong seorang muslim untuk bekerja keras dan melakukan ikhtiar.
Allah SWT berfirman: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (Al-Baqarah [2]: 286)
Ayat ini menunjukkan bahwa Allah SwT memberikan kemampuan bagi setiap hamba-Nya untuk berusaha, dan ia akan diberi pahala sesuai dengan usahanya.
Ikhtiar atau usaha adalah bagian dari tanggung jawab kita sebagai manusia. Seperti dalam kehidupan sehari-hari, kita dituntut untuk bekerja, belajar, dan berinovasi agar dapat mencapai tujuan kita, entah itu dalam karier, pendidikan, keluarga, atau aspek kehidupan lainnya.
Namun, ikhtiar saja tidak cukup. Islam mengajarkan bahwa kita harus mengiringi setiap usaha dengan tawakal. Tawakal adalah sikap hati yang menerima ketentuan Allah SwT setelah kita melakukan usaha terbaik yang kita mampu. Hal ini sejalan dengan firman-Nya:
Katakanlah, “Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah pelindung kami.” Dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakal. (At-Taubah [9]: 51)
Tawakal bukanlah sikap menyerah tanpa usaha, melainkan penyerahan hasil akhir kepada Allah SWT setelah kita melakukan usaha terbaik. Ini adalah bentuk kepercayaan kita kepada Allah SWT bahwa Dia lebih mengetahui apa yang terbaik bagi kita, bahkan jika itu berbeda dari apa yang kita harapkan.
Tawakal memberi kita ketenangan batin karena kita meyakini bahwa segala sesuatu sudah ditentukan oleh-Nya, dan kita hanya perlu berusaha dengan sungguh-sungguh, lalu menyerahkan hasilnya.
Dalam bukunya Tafsir al-Azhar, Buya Hamka mengingatkan bahwa tawakal adalah sikap penuh keyakinan bahwa segala hasil dari usaha kita adalah bagian dari takdir Allah SwT, yang lebih besar dari apa yang bisa kita rencanakan.
Usaha (ikhtiar) adalah kewajiban manusia, sedangkan tawakal adalah penyerahan diri yang total kepada Allah SWT setelah melakukan usaha terbaik. Ini adalah bentuk pengakuan atas kehendak Allah SWT yang tak terduga dan tidak selalu sesuai dengan apa yang kita inginkan.
Lebih jauh Buya Hamka juga menerangkan bahwa tawakal membuat seseorang tidak mudah putus asa, karena ia selalu percaya bahwa Allah akan memberikan yang terbaik meskipun tidak selalu sesuai dengan harapan atau rencana awal kita.
Dengan tawakal, hati kita lebih tenang, lebih sabar, dan siap menerima apapun yang datang, karena kita yakin Allah tidak akan memberikan cobaan di luar kemampuan kita.
