Sambil menyeka keringat di tengah terik yang menyengat, satu pikiran terlintas kuat di benak saya: “Betapa kuatnya fisik Rasulullah saw.”
***
Hari itu adalah hari ke-9 perjalanan ibadah Umrah dan Kunjungan kami ke Sekolah Indonesia Makkah bersama Keluarga Besar K3S SD/MI Muhammadiyah Kota Surabaya. Saya bersama delapan orang lainnya: Amang Muazam, M. Arifin, A. Munhamir, Priyo Sasongko, Muhammad Ain, Khoirul Anam, Ainoen Najib, serta istri saya– Kocik Ishak, memutuskan untuk melakukan napak tilas ke salah satu titik paling krusial dalam sejarah Islam: Gua Hira.
Menapaki Jalan Setapak Jabal Nur
Kami menapaki jalan setapak di Jabal Nur, atau “Gunung Bercahaya.” Bukit dengan ketinggian sekira 270 meter ini bukanlah medan yang mudah. Diperlukan waktu minimal satu sampai satu setengah jam untuk sampai di puncak. Tanjakan demi tanjakan kami lalui dengan nafas yang mulai memburu. Namun, rasa lelah itu perlahan terkikis oleh bayangan betapa agungnya peristiwa yang terjadi di puncak sana ribuan tahun silam.
Sesampainya di puncak, perjuangan belum usai. Kami harus turun sedikit melewati lereng sekitar 5 meter, menunggu antrian di jalur curam dan sempit, berjubel, harus sabar menunggu antrian antara yang baru sampai dan yang akan kembali. Terkadang keluar kalimat “fasbir, fasbir (bersabarlah-bersabarlah)” dari antara kami para penziarah untuk saling mengingatkan banyaknya orang yang ingin masuk duluan.

Di sana, alam menguji keteguhan kami melalui celah-celah bebatuan besar yang kokoh dan sangat sempit. Untuk melewatinya, posisi badan harus dimiringkan sedemikian rupa. Sebuah jalur alami yang seolah-olah menyaring siapa saja yang benar-benar berniat sampai ke “jantung” sejarah.
Ruang Sempit, Makna Tak Terbatas
Setelah lolos dari celah sempit tersebut, sampailah kami di Gua Hira. Sebuah gua yang sangat sederhana, hanya cukup untuk tempat salat dua sampai tiga orang. Di tempat yang sempit dan tersembunyi inilah, semesta menyaksikan pertemuan paling agung antara penduduk langit dan bumi: Malaikat Jibril dan Rasulullah saw.
Gua Hira bukan sekadar lubang di bebatuan. Ia adalah “kantor” spiritual di mana Rasulullah saw melakukan tahanuts—menyendiri dari kebisingan kota dan keresahan sosial masyarakat Makkah saat itu. Di tempat istimewa inilah, Jibril AS datang membawa mandat dari Allah Swt: Iqra’ (Bacalah). Wahyu pertama yang menjadi tonggak awal perubahan peradaban manusia dari zaman kegelapan menuju cahaya yang terang benderang.
Menemukan Rasulullah saw
Membayangkan Rasulullah berkali-kali mendaki bukit ini di masa lalu memberikan kami perspektif baru tentang ketangguhan fisik dan mental beliau. Beliau tidak hanya mencari ketenangan, tetapi juga sedang mempersiapkan diri menerima amanah yang akan mengubah peradaban manusia. Inilah momentum di mana saya merasa “menemukan” sosok Rasulullah saw—bukan dalam bentuk fisik, melainkan dalam bentuk semangat juang dan ketaatan yang luar biasa kepada Sang Khalik.
Pelajaran dari Kesunyian
Bagi saya dan mereka yang pernah mengalaminya, ini adalah salah satu perjalanan istimewa di antara serangkaian perjalanan spiritual umrah yang tidak banyak orang sampai di titik ini. Dari Gua Hira, ada pelajaran penting yang kami bawa pulang: untuk bisa mendapatkan ketenangan dan menjemput petunjuk Allah, terkadang kita perlu menyendiri.

Gua Hira mengajarkan kita bahwa sebelum melakukan perubahan besar bagi dunia, membentuk generasi masa depan berakhlak mulia, kita perlu membangun kekuatan batin di tempat dan waktu-waktu yang sunyi, jauh dari kebisingan duniawi. Waktu dan tempat yang tepat untuk menyendiri setelah datangnya syariat adalah di waktu sepertiga malam terakhir, di lima waktu, dan tempat tahajud serta sujud-sujud kita.
Semoga perjalanan bersama keluarga besar K3S SD/MI Muhammadiyah Surabaya ini menjadi pengingat bagi kami untuk terus menjaga kekuatan fisik dan kejernihan hati dalam mengemban amanah: mengembangkan pendidikan dan dakwah Muhammadiyah. (*)
