Menerapkan Semangat Isra Mikraj dalam Ibadah Salat Sehari-hari

*) Oleh : Suharto Fauzan
Simpatisan Muhammadiyah
www.majelistabligh.id -

Mungkin kita pernah merasa salat hanya sekadar rutinitas “berdiri-rukuk-sujud” yang hambar. Atau mungkin merasa salat hanya sebagai penggugur kewajiban di tengah sibuknya tugas sekolah dan pekerjaan. Jika kita pernah merasakan hal seperti itu, mari kita menengok kembali peristiwa Isra Mikraj.

Peristiwa luar biasa ini bukan hanya tentang perjalanan kilat Nabi Muhammad saw. dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu naik ke Sidratul Muntaha. Namun perjalanan yang membawa perintah Allah Swt untuk menunaikan salat lima waktu.

Salat adalah Mi’raj Orang Beriman

Jika Nabi Muhammad saw. “naik” menemui Allah secara fisik saat Mikraj, maka kita “naik” menemui Allah secara spiritual melalui salat. Salat adalah momen di mana kita melepaskan diri sejenak dari hiruk-pikuk dunia (tugas, media sosial, masalah finansial) untuk curhat langsung kepada Sang Pencipta.

Melatih Kedisiplinan dan Menghargai Waktu

Dalam peristiwa Isra Mikraj, waktu seolah terhenti dan menjadi sangat berharga. Perintah salat yang awalnya 50 waktu menjadi 5 waktu menunjukkan kasih sayang Allah, namun juga menegaskan bahwa waktu-waktu tersebut adalah “temu janji” yang tidak boleh dilewatkan.

Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an: “…Sungguh, salat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa: 103)

Salat sebagai Benteng Diri

Semangat Isra Mikraj mengajarkan kesucian. Sebelum berangkat, dada Nabi dibersihkan. Begitu juga kita; salat yang dilakukan dengan benar seharusnya mampu membersihkan hati dan perilaku kita dari hal-hal negatif. QS. Al-Ankabut: 45 menegaskan, “Bacalah Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar…”

Salat adalah Penentu Amal

Rasulullah saw. mengingatkan kita betapa krusialnya posisi salat dalam hidup kita. Dalam sebuah hadits, beliau bersabda: “Amalan hamba yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah salatnya. Jika salatnya baik, maka baik pula seluruh amalnya. Jika salatnya rusak, maka rusak pula seluruh amalnya.” (HR. At-Thabrani)

Tips Praktis Agar Salat Berkualitas

Pahami Artinya: Pelajari arti bacaan dalam salat. Mengetahui apa yang kita ucapkan akan membuat kita lebih khusyuk dan tidak terburu-buru.

Anggap Salat Terakhir: Bayangkan setiap salat yang kita lakukan adalah kesempatan terakhir kita berkomunikasi dengan Allah.

Ciptakan Suasana Nyaman: Gunakan pakaian yang bersih dan wangi. Tempat yang rapi akan membantu pikiran lebih tenang saat menghadap-Nya.

Isra Mikraj bukan sekadar cerita sejarah yang diperingati setiap tahun. Ia adalah pengingat bahwa kita punya “tangga” menuju langit bernama salat. Mari jadikan salat fardhu lima waktu bukan beban, melainkan kebutuhan untuk menjemput ketenangan di tengah hiruk-pikuk dunia. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search