*) Oleh: As’ad Bukhari, S.Sos., MA
Analis Intelektual Muhammadiyah Islam Berkemajuan
Tidak mudah untuk menjadi warga Muhammadiyah dan tidak pula susah menjadi bagian warga Muhammadiyah, jika mampu menjalani dengan tulus lagi ikhlas. Tidak semua warga Muhammadiyah itu sama, karena sejatinya semua berangkat dari latar belakang masing-masing.
Ada yang turun-temurun, ada yang dari perkaderan, ada yang melalui amal usaha, ada yang dari jalur regenerasi, dan lain sebagainya. Umumnya warga Muhammadiyah yang paling aktif adalah yang menjadi pimpinan struktural baik di ranting, cabang, daerah, wilayah, pusat, ortom, pimpinan amal usaha, bekerja di amal usaha maupun yang terlibat setiap saat di Muhammadiyah atau hidup di lingkungan Muhammadiyah maupun amal usaha Muhammadiyah.
Tetapi juga ada yang aktif di Muhammadiyah sekalipun profesi, pekerjaan, dan kesibukannya tidak di dalam lingkungan amal usaha Muhammadiyah, entah bekerja sebagai PNS, ASN, pejabat, politisi, pengusaha, pedagang, pebisnis, motivator, staf, admin, dan berbagai jenis profesi lainnya. Semua dapat mengabdi dan berjuang untuk Muhammadiyah baik secara nyata dan praktis maupun secara digital sosial media atas keaktifan serta keberpihakannya kepada Muhammadiyah.
Setiap warga dan kader Muhammadiyah memiliki ragam perbedaan dalam bermuhammadiyah. Ada yang proaktif, ada yang stabil aktif, ada yang sedikit aktif, ada yang pasif mendingan, ada pula yang pasti total, ada yang lari dan ada yang hilang ditelan bumi.
Semua tergantung pada kesibukan dan aktivitasnya masing-masing, sebab jihad bekerja dan jihad mencari nafkah keluarga memang lebih utama. Hanya saja, tak semua bisa dinilai sama. Yang terpenting adalah bisa memberikan kontribusi dan wujud nyata kepada Muhammadiyah walau sekecil apa pun itu, karena kebaikan sekecil bihdzarrah saja bisa lebih diterima Allah daripada sebesar istana tapi penuh dengan intrik kepalsuan.
Pada intinya, berjuang, beribadah, berdakwah, dan bergerak bersama persyarikatan Muhammadiyah untuk dapat mewujudkan masyarakat Islam yang sebenarnya. Muhammadiyah hadir untuk memberikan solusi bagi umat dan bukan untuk kegaduhan apalagi tarik-menarik dalam arogansi beragama.
Mengabdi setulus hati bersama Muhammadiyah merupakan jalan dakwah yang mulia dengan harapan mendapatkan ganjaran kebaikan dan pahala tentunya. Memilih bergerak bersama Muhammadiyah itu mudah-mudah sulit dan sulit-sulit mudah.
Hal itu disesuaikan dengan dinamika di tempat atau daerahnya masing-masing ketika bermuhammadiyah. Ada yang bermuhammadiyah di lingkungan yang dominan penuh warga Muhammadiyah, ada yang setengah warga Muhammadiyah, ada pula yang sepertiga warga Muhammadiyah, dan ada yang masih minoritas kecil warga Muhammadiyah.
Itu juga belum dilihat dari amal usahanya, masih dilihat dari segi keanggotaan maupun jamaahnya saja, apalagi ortom yang belum terus berkembang, bahkan cabang atau ranting yang belum berdiri ataupun yang sudah mati suri.
Karena di Muhammadiyah tidak seperti mekanisme negara yang dengan nikmatnya alokasi anggaran atau subsidi, maka yang dibutuhkan adalah kemandirian, kecakapan, dan kemampuan membangun serta memberdayakan potensi yang ada.
Hal ini tentu harus ada upaya semangat terus mengabdi di Muhammadiyah hingga ajal memisahkan, seperti kisah Kiai Ahmad Dahlan. Pengabdian yang tulus dan ikhlas, meskipun hanya sebagai warga Muhammadiyah kelas menengah, kelas akar rumput, dan kelas paling bawah pun tetap masih bisa mengabdi bersama Muhammadiyah.
Apalagi mereka yang berada di level elite, tokoh, dan kelas atas warga Muhammadiyah yang jauh lebih luas pengabdiannya. Semangat bermuhammadiyah tidak dilihat dari ukuran status sosial dan kekayaan harta saja, melainkan ketulusan dan keikhlasan dalam pengabdian bersama Muhammadiyah.
Banyak cara untuk mengabdikan diri di Muhammadiyah, tidak hanya yang berada di AUM atau pimpinan struktural saja yang aktif dalam pengabdian. Semua yang merupakan warga Muhammadiyah memiliki NBM, memiliki garis ortom, dan yang berada dalam keluarga besar Muhammadiyah bisa mengabdikan diri dengan caranya masing-masing ataupun aktif mengikuti setiap program kegiatan yang telah direncanakan oleh pimpinan struktural setempat.
Aktif, berpartisipasi, dan membantu sudah termasuk bagian dari pengabdian bersama Muhammadiyah, baik itu sedikit atau banyak, besar atau kecil, luas atau sempit, banyak atau sedikit, dan seterusnya menjadi bagian dari saksi pengabdian.
Menjadi khadimul ummah, khadimul Islam, dan khadimul Muhammadiyah dengan setulus hati, seikhlas hati, dan sebaik hati. Terlepas dari masih adanya kekurangan dan kelemahan, hal itu terus diperbaiki dan berusaha menjadi kader Muhammadiyah yang baik sebaik-baiknya.
Mengabdi setulus hati bersama Muhammadiyah tanpa lagi menjadi perhitungan apalagi merasa paling besar lagi segalanya. Anggap saja selalu memulai dari bawah untuk terus berjuang bersama Muhammadiyah.
Keteguhan hati dan keteguhan iman yang dimiliki harus terus dijaga ketika mengabdikan diri di Muhammadiyah. Sehingga menghindari dari keburukan, kelemahan, dan kebusukan penyakit hati yang hanya selalu terpaut dalam materi duniawi.
Sebab, ketika mengabdi dengan setulus hati, maka rasanya dunia lebih terasa sejuk apalagi berada di Persyarikatan Muhammadiyah ini. Takkan pernah lelah berjuang bersama Muhammadiyah, walau masih dipandang sebelah mata, walau dianggap kecil lagi menderita, dan walau dianggap lemah tak berdaya tetap cinta pada Muhammadiyah tanpa ada duanya dan tiada tara.
Karena sekali Muhammadiyah tetaplah Muhammadiyah. Karena pesan Kiai Ahmad Dahlan itu, jangan duakan Muhammadiyah dengan berbagai macam alasan apa pun itu. Yang terpenting mengabdi setulus hati hanya untuk Muhammadiyah hari ini, kemarin, dan selamanya. (*)