Mengajarkan Bersyukur Melalui Tadabbur di Sawah Mbah

Ilustrasi: Syakila, Khadijah dan Fatimah (mulaidari belakang) menikmati bentangan sawah mbah di kampung halaman.
*) Oleh : Ahmad Afwan Yazid, M.Pd.
Wakil Kepala SD Muhammadiyah 4 Kota Malang, Praktisi Pendidikan dan Parenting Keluarga
www.majelistabligh.id -

Liburan kali ini terasa berbeda. Bukan ke mal, bukan ke tempat wisata modern, bukan pula ke wahana permainan mahal. Kami memilih pulang kampung ke desa Medalem, kecamatan Modo di Lamongan kampung suami, menyusuri jalan kecil yang di kanan kirinya terbentang hamparan hijau. Tujuan kami sederhana: mengajak anak-anak bermain dan bertadabbur di sawah mbah Bu (nenek) dan mbah kung (kakek).

Di kota, sawah hanya terlihat di buku pelajaran atau layar YouTube. Anak-anak tahu beras, tapi tidak kenal siapa yang menanam. Mereka makan nasi tiap hari, tapi jarang memikirkan bagaimana proses panjangnya. Karena itu, mengajak mereka melihat sawah bukan hanya sekadar rekreasi, tapi pelajaran kehidupan.

Di desa, anak-anak berlarian di pematang, tertawa ketika kaki terkena lumpur, menyaksikan petani menanam padi sambil bercakap santai. Bagi orang desa, ini pemandangan biasa. Tapi bagi anak kota, ini pengalaman langka bahkan berharga.

Di sinilah tadabbur bekerja: Melihat kehijauan daun padi, menatap langit luas tanpa gedung tinggi, menyaksikan tetes keringat petani, bermain air dan lumpur serta merasakan betapa Allah memberi rezeki lewat tangan-tangan sederhana.

Islam Mengajarkan Tadabbur Alam

Al-Qur’an berkali-kali mengajak manusia merenungi alam. Bukan sekadar dilihat, tapi dipikirkan dan diambil pelajaran. Allah berfirman:

اِنَّ فِىۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضِ وَاخۡتِلَافِ الَّيۡلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الۡاَلۡبَابِ ۚۖ‏  الَّذِيۡنَ يَذۡكُرُوۡنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوۡدًا وَّعَلٰى جُنُوۡبِهِمۡ وَيَتَفَكَّرُوۡنَ فِىۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضِ​ۚ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ هٰذَا بَاطِلًا ۚ سُبۡحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ‏

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang berakal. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau berbaring, dan mereka memikirkan penciptaan langit dan bumi seraya berkata: ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia…” (QS. Ali Imran: 190–191)

Di sawah, anak belajar bahwa makanan bukan datang dari magic rice cooker, tapi dari bumi yang Allah tumbuhkan.

Allah juga mengingatkan manusia untuk memperhatikan sumber makanan mereka:

فَلۡيَنۡظُرِ الۡاِنۡسَانُ اِلٰى طَعَامِهٖۤۙ‏ اَنَّا صَبَبۡنَا الۡمَآءَ صَبًّا ۙ‏ثُمَّ شَقَقۡنَا الۡاَرۡضَ شَقًّا ۙ‏ فَاَنۡۢبَتۡنَا فِيۡهَا حَبًّا ۙ‏

“Maka hendaklah manusia memperhatikan makanannya. Kami benar-benar telah mencurahkan air (hujan), kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya, lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu…” (QS. ‘Abasa: 24–27)

Di sawah, ayat ini terasa hidup. Anak melihat langsung tanah, air, tanaman, dan proses tumbuhnya rezeki. Allah pun menegaskan bahwa bumi ini disiapkan untuk manusia agar disyukuri:

هُوَ الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الْاَرْضَ ذَلُوْلًا فَامْشُوْا فِيْ مَنَاكِبِهَا وَكُلُوْا مِنْ رِّزْقِهٖۗ وَاِلَيْهِ النُّشُوْرُ ۝

“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kalian, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah dari rezeki-Nya.” (QS. Al-Mulk: 15)

Dalam firman-Nya yang lain:

هُوَ الَّذِىۡۤ اَنۡزَلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءً​ لَّـكُمۡ مِّنۡهُ شَرَابٌ وَّمِنۡهُ شَجَرٌ فِيۡهِ تُسِيۡمُوۡنَ‏, يُنۡۢبِتُ لَـكُمۡ بِهِ الزَّرۡعَ وَالزَّيۡتُوۡنَ وَالنَّخِيۡلَ وَالۡاَعۡنَابَ وَمِنۡ كُلِّ الثَّمَرٰتِ​ؕ اِنَّ فِىۡ ذٰ لِكَ لَاٰيَةً لِّـقَوۡمٍ يَّتَفَكَّرُوۡنَ‏

“Dialah yang telah menurunkan air (hujan) dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuhan, padanya kamu menggembalakan ternakmu. Dengan (air hujan) itu Dia menumbuhkan untuk kamu tanam-tanaman, zaitun, kurma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berpikir.” (QS. An-Nahl: 10–11)

Mendidik Anak Agar Lebih Bersyukur

Dengan melihat sawah, anak belajar:

  1. Bahwa rezeki tidak jatuh begitu saja.
  2. Bahwa ada jerih payah petani yang Allah muliakan.
  3. Bahwa makanan adalah nikmat yang patut disyukuri.

Inilah pendidikan tauhid: menghubungkan kehidupan dengan kebesaran Allah.

Tanpa harus duduk kaku di kelas, tanpa banyak ceramah, alam menjadi guru terbaik. Orang tua hanya perlu membimbing dengan kalimat sederhana: “Lihat Nak, begini cara Allah memberi kita nasi. Karena itu kita harus bersyukur, tidak menyia-nyiakan makanan, dan menghormati para petani.”

Tadabbur di sawah mungkin terlihat sepele, tapi sesungguhnya ia membekas jauh ke dalam hati. Di tengah dunia yang serba cepat, mengajak anak berhenti sejenak, memandang bumi, dan mengingat Allah adalah investasi iman yang besar.

Semoga anak-anak kita tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya cerdas, tapi juga bersyukur, rendah hati, dan dekat dengan Allah. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search