Pertanyaan klasik tentang mengapa Allah tidak menampakkan diri secara langsung kembali dibahas dalam sebuah podcast Ramadan yang menghadirkan Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PWM DKI Jakarta, Nur Fajri Romadhon, Kamis (19/2/2026). Diskusi tersebut menjadi bagian dari program Ramadan Series The Sungkars yang ditayangkan menjelang waktu berbuka puasa.
Dalam episode perdana itu, pembahasan berangkat dari pertanyaan yang sering muncul di kalangan masyarakat modern: jika Tuhan benar-benar ada, mengapa Dia tidak menampakkan diri secara jelas agar manusia semakin yakin dan bertakwa?
Menanggapi pertanyaan tersebut, Nur Fajri menjelaskan bahwa isu ini dikenal dalam filsafat agama sebagai divine hiddenness argument atau argumen ketersembunyian Tuhan. Argumen ini kerap digunakan sebagian pemikir ateis untuk mempertanyakan keberadaan Tuhan.
Ia menyebutkan bahwa gagasan tersebut dipopulerkan oleh filsuf agama John L. Schellenberg, yang menilai bahwa jika Tuhan ingin manusia beriman, seharusnya Tuhan menampakkan diri secara jelas sehingga hubungan manusia dengan-Nya menjadi pasti.
Namun, menurut Nur Fajri, argumen tersebut mengandung kekurangan mendasar karena tidak memasukkan satu variabel penting dalam pandangan Islam, yaitu dunia sebagai alam ujian. “Kalau ujian sudah diberikan kunci jawaban di depan mata, maka hilanglah makna ujian itu sendiri,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa dalam perspektif Islam, ketidakterlihatan Allah bukan berarti ketiadaan. Justru kehidupan manusia dirancang sebagai ruang pembuktian iman melalui usaha intelektual, spiritual, dan moral.
Menurutnya, Allah tidak sepenuhnya “tersembunyi”. Dalam sejarah kenabian, beberapa nabi memperoleh pengalaman komunikasi langsung dengan Tuhan. Nabi Musa dikenal sebagai Kalimullah karena berbicara langsung dengan Allah, sementara peristiwa Isra Mikraj menjadi salah satu bentuk pengalaman spiritual Nabi Muhammad.
Perbedaan pendapat ulama memang muncul mengenai apakah Nabi Muhammad melihat Allah secara langsung atau melalui pengalaman batin, tetapi hal itu menunjukkan adanya bentuk komunikasi ilahi dalam sejarah wahyu.
Nur Fajri juga mengkritik kecenderungan sebagian orang yang hanya percaya pada sesuatu jika dialami langsung. Ia menyebutnya sebagai problem epistemologis yang dekat dengan aliran empirisisme, yakni keyakinan bahwa pengetahuan hanya sah jika diperoleh melalui pengalaman indrawi pribadi.
Padahal, dalam kehidupan sehari-hari manusia mempercayai banyak hal berdasarkan kesaksian ilmuwan, penelitian, maupun transmisi pengetahuan tanpa harus menyaksikan sendiri. “Kalau semua harus dilihat sendiri baru percaya, kehidupan tidak akan berjalan,” ujarnya.
Al-Qur’an Sudah Mengabadikan Pertanyaan Serupa
Menariknya, pertanyaan meminta Tuhan menampakkan diri bukan fenomena baru. Al-Qur’an sendiri mencatat permintaan serupa dari umat terdahulu, seperti dalam Surah Al-Furqan ayat 21, ketika sebagian manusia meminta agar Allah berbicara langsung atau menampakkan diri.
Namun Al-Qur’an juga menjelaskan bahwa sekalipun bukti luar biasa ditunjukkan, tidak semua orang otomatis beriman. Dalam Surah Al-Hijr disebutkan bahwa bahkan jika pintu langit dibukakan, sebagian manusia tetap akan menganggapnya sebagai sihir atau ilusi.
Ia mencontohkan pernyataan tokoh ateis modern seperti Richard Dawkins, yang dalam sebuah wawancara menyatakan bahwa sekalipun Tuhan tampak, ia masih mungkin menganggapnya sebagai ilusi atau fenomena lain.
“Jadi masalahnya bukan sekadar melihat atau tidak melihat, tetapi kesiapan hati menerima kebenaran,” katanya.
Dalam penjelasannya, Nur Fajri menekankan bahwa Islam tidak meminta manusia beriman secara buta. Keimanan dibangun melalui berbagai lapis bukti, antara lain:
- keteraturan dan kompleksitas alam semesta,
- validitas risalah para nabi,
- akhlak dan integritas Nabi Muhammad,
- mukjizat serta konsistensi ajaran Al-Qur’an.
Ia menegaskan bahwa Islam justru mendorong verifikasi rasional terhadap klaim kenabian, bukan sekadar menerima pengakuan tanpa bukti. Salah satu poin penting yang disampaikan adalah pentingnya kejujuran intelektual dalam mencari kebenaran. Ia menyinggung fenomena sebagian orang yang mengaku mencari Tuhan tetapi enggan mempelajari sumber utama ajaran Islam, termasuk Al-Qur’an.
Menurutnya, pencarian spiritual menuntut kesungguhan, bukan sekadar skeptisisme tanpa usaha memahami. “Kalau mencari konsep Tuhan yang benar, tidak bisa melewati Al-Qur’an begitu saja,” ujarnya.
Di akhir diskusi, Nur Fajri menekankan bahwa jika Allah menampakkan diri secara mutlak sehingga semua orang pasti percaya, maka iman kehilangan nilai moralnya. Keimanan, menurutnya, justru menjadi istimewa karena lahir dari pilihan sadar manusia setelah mempertimbangkan bukti, refleksi, dan pengalaman spiritual. (*/tim)
