Mengapa Bahasa Arab Terasa Sulit? Ini Tips Mudah dari Dosen UMM

www.majelistabligh.id -

Bahasa Arab kerap kali dianggap sebagai bahasa yang sulit dipelajari, khususnya bagi pemula. Kekayaan kosakata, kompleksitas tata bahasa, dan keberagaman dialeknya membuat banyak orang merasa ragu untuk memulai.

Namun, Ahmad Fatoni, Lc, M.Pd, dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), memiliki pandangan yang berbeda.

“Anggapan bahwa bahasa Arab itu sulit memang umum terdengar, tapi sebenarnya itu bisa diatasi dengan metode belajar yang tepat dan sikap yang positif,” ujar Fatoni membuka penjelasannya.

Dia menjelaskan bahwa salah satu tantangan utama dalam mempelajari bahasa Arab adalah struktur morfologisnya yang unik.

Tidak seperti bahasa Indonesia atau Inggris, bahasa Arab membentuk kata-kata dari akar kata (jadzr) yang bisa menghasilkan berbagai turunan makna.

“Contohnya dari akar kata ك-ت-ب, bisa muncul كَتَبَ (menulis), كِتَاب (buku), كَاتِب (penulis), bahkan مَكْتَب (kantor). Jadi, pemahaman tentang pola kata ini sangat penting agar mudah mengerti konteks kalimat,” jelasnya.

Menurut Fatoni, kerumitan bahasa Arab bukan hanya pada struktur, tetapi juga fonologi atau bunyi-bunyi khas yang tak lazim dalam banyak bahasa lain.

“Beberapa huruf seperti ‘ع’ atau ‘ص’ sangat sulit diucapkan oleh penutur non-Arab. Huruf ‘ق’ misalnya, sepintas terdengar seperti ‘k’, tapi diucapkannya dari bagian tenggorokan yang lebih dalam,” ungkapnya.

Tantangan lainnya datang dari sistem penulisan. Bahasa Arab ditulis dari kanan ke kiri, yang tentu membingungkan bagi mereka yang terbiasa menulis dari kiri ke kanan.

Ditambah lagi, bentuk hurufnya berubah tergantung pada posisi dalam kata. “Huruf ب, misalnya, akan berbeda bentuknya jika berada di awal, tengah, atau akhir kata. Hal ini menuntut pelajar untuk lebih teliti dan tekun,” kata Fatoni.

Meski demikian, ia menekankan bahwa semua kesulitan itu bisa diatasi dengan strategi yang tepat. Salah satu pendekatan yang ia rekomendasikan adalah metode komunikatif.

Metode ini menekankan penggunaan bahasa dalam konteks nyata, terutama untuk keperluan percakapan sehari-hari.

“Belajar bahasa bukan sekadar menghafal kosakata, tapi mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan role play, diskusi kelompok, dan simulasi percakapan, siswa akan lebih cepat terbiasa dan percaya diri,” terangnya.

Selain itu, bagi mereka yang ingin mendalami bahasa Arab untuk memahami kitab-kitab klasik yang tidak memiliki harakat, Fatoni menyarankan pendekatan berbasis hafalan mufrodat (kosakata) dan qowaid (struktur kalimat).

“Ini penting agar mereka tidak hanya paham makna harfiah, tapi juga menangkap pesan yang lebih mendalam dalam teks,” tambahnya.

Fatoni juga memberikan tiga solusi agar minat masyarakat terhadap bahasa Arab meningkat. “Pertama, sederhanakan metode pengajaran agar terasa menyenangkan.

Kedua, libatkan media dan teknologi digital yang dekat dengan generasi muda. Ketiga, perkuat kesadaran bahwa bahasa Arab adalah bahasa penting di dunia Islam dan juga dalam kajian keilmuan global,” tegasnya.

Menurutnya, teknologi digital menjadi jembatan yang sangat efektif dalam pembelajaran bahasa. Berbagai aplikasi, video pembelajaran, hingga platform interaktif bisa dimanfaatkan untuk memperkaya pengalaman belajar.

“Dengan teknologi, orang bisa belajar dari mana saja, kapan saja. Yang penting adalah motivasi dan strategi belajar yang menyenangkan. Teknologi ini benar-benar mempermudah dan mempercepat proses penguasaan bahasa,” katanya.

Di akhir penjelasannya, Fatoni menyampaikan pesan penting bagi para pembelajar. Dia mengakui bahwa belajar bahasa Arab memang membutuhkan proses, namun bukan sesuatu yang mustahil.

“Jangan menyerah hanya karena kesulitan awal. Bangun motivasi yang kuat, punya sikap mental positif, dan temukan cara belajar yang sesuai dengan karakter masing-masing. Belajar bahasa Arab itu menyenangkan jika kita tahu caranya,” pungkasnya. (*/wh)

Tinggalkan Balasan

Search