*) Oleh: Sigit Subiantoro,
Anggota Majelis Tabligh PDM Kabupaten Kediri
Iblis tidak dikeluarkan dari Surga karena menyembah berhala, bukan pula karena mabuk atau melakukan perbuatan maksiat lainnya. Ia terusir dari rahmat Allah karena sikap sombong dan pembangkangan terhadap perintah-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَاِذْ قُلْنَا لِلْمَلٰٓئِكَةِ اسْجُدُوْا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوْۤا اِلَّاۤ اِبْلِيْسَ ۗ اَبٰى وَاسْتَكْبَرَ ۖ وَكَانَ مِنَ الْكٰفِرِيْنَ
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: Sujudlah kamu kepada Adam! Maka mereka pun sujud, kecuali iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan yang kafir.”
(QS. Al-Baqarah: 34)
Dari ayat ini, kita mengetahui bahwa iblis awalnya adalah makhluk yang taat dan dimuliakan, bahkan dikisahkan berada di barisan para malaikat, meski asalnya dari golongan jin. Namun, satu sifat saja—yaitu sombong—cukup untuk menjatuhkannya dari tempat paling mulia ke tempat paling hina.
Iblis menolak bersujud kepada Adam. Ia merasa lebih mulia karena diciptakan dari api, sementara Adam diciptakan dari tanah. Ia tidak rela tunduk kepada makhluk yang dianggapnya lebih rendah. Dari sinilah awal mula kejatuhannya.
Yang mencengangkan, sebab Iblis diusir dari surga bukanlah karena dosa-dosa yang biasa kita sangka besar, melainkan karena penyakit hati: kesombongan. Dan inilah yang sering dilakukan manusia dari zaman ke zaman.
Manusia kerap meremehkan orang lain:
-
Merasa lebih pintar.
-
Merasa lebih mulia karena keturunan.
-
Merasa lebih tinggi karena jabatan, kekayaan, atau bahkan amal ibadahnya.
Padahal, kesombongan adalah penyakit yang sangat dibenci Allah. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walau sebesar biji sawi.”
(HR. Muslim)
Kesombongan tidak hanya muncul dalam bentuk meremehkan orang dewasa. Bahkan terhadap anak kecil pun bisa muncul rasa angkuh, seolah kita lebih baik hanya karena lebih tua atau lebih banyak pengalaman.
“Jangan sombong,” kata seorang alim, “ketika kau melihat anak kecil, katakan dalam hatimu: ‘Dosamu belum banyak, aku sudah bergelimang dosa.’“
Begitu pula terhadap orang tua, orang miskin, atau bahkan mereka yang berbeda agama. Sikap merendahkan mereka adalah bentuk kesombongan, dan kesombongan adalah warisan Iblis.
Rahmat Allah justru datang ketika kita merasa hina, penuh dosa, dan tidak pantas untuk surga. Bukan ketika merasa diri paling benar dan paling layak masuk surga.
Jangan merasa diri penghuni surga dan yang lain akan masuk neraka. Ketika seseorang mulai merasa paling suci, maka ia sedang menyerupai sikap Iblis—yang merasa paling mulia dan akhirnya diusir dari surga.
Waspadalah terhadap kesombongan, sekecil apa pun bentuknya. Karena Iblis tidak diusir dari surga karena zina, mabuk, atau mencuri, tetapi karena satu sifat buruk yang sering kali dianggap sepele: sombong.
Akankah kita mengikuti jejak Iblis? Semoga Allah menjaga hati kita dan menjauhkan kita dari sifat yang membinasakan.
Barakallahu fiikum.
