Fenomena kontras antara tingginya praktik keagamaan dan maraknya korupsi di Indonesia kembali menjadi sorotan. Di satu sisi, masyarakat dikenal religius, masjid penuh saat Ramadan, ibadah umrah meningkat tajam, dan berbagai ritual keagamaan dijalankan secara masif. Namun di sisi lain, praktik korupsi, kejahatan, hingga kemaksiatan tetap merajalela.
Pertanyaan mendasar pun muncul: di mana letak masalahnya?
Hal ini disoroti oleh Prof. Dr. K.H. Hamid Fahmy Zarkasy, M.A.Ed., M.Phil., Guru Besar Filsafat Islam Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor, dalam kuliah yang disampaikan di Mimbar Masjid Jami’ UNIDA Gontor, Ponorogo, yang kemudian diunggah melalui kanal YouTube Nasihat Peradaban.
Ia mengawali dengan pengalaman pribadi saat ditanya seorang wartawan asing.
“Saya pernah ditanya oleh seorang wartawan Radio Australia di Melbourne. Dia baru pulang dari Indonesia pada waktu itu bulan puasa. Pertanyaannya, di Indonesia sekarang ini bulan puasa luar biasa. Orang berbondong-bondong pergi tarawih ke Masjid. Di bulan puasa jumlah jemaah umrah itu sampai puluhan ribu, karena memang umrah di bulan puasa pahalanya besar. Tapi, kenapa korupsi juga merajalela? Pembunuhan di beberapa kasus merajalela? Maksiat di mana-mana? Di mana letaknya Islam ini, Ustaz?”
Menurutnya, pertanyaan tersebut tidak bisa dijawab secara sederhana. Ia menjelaskan, persoalan utama terletak pada pemahaman Islam yang berhenti pada level ritual, belum menyentuh dimensi keimanan yang sejati.
“Kita ini dianggap negara yang paling religius di dunia. Tapi di sisi lain ada lagi survei yang menyatakan kita negara paling korup di dunia. Ini di mana letak salahnya?” tandasnya
Ia bahkan menulis buku berjudul Minhaj untuk menjawab problem tersebut secara komprehensif. Menurutnya, banyak umat Islam menjalankan rukun Islam secara lahiriah, namun tidak diiringi perubahan perilaku.
Rukun iman dijalankan, umrah ya umrah, salat jumat-salat jumat, lima waktu-lima waktu. Tapi di luar salatnya, di luar kuasanya, di luar umrahnya, dia tidak berubah sama sekali.
Fenomena itu bahkan merambah kalangan pejabat. Bahkan para pejabat itu kalau setelah korupsi, dia mengumrahkan orang satu kampung. Dia anggap dengan itu membersihkan harta korupsinya. Cara berfikirnya yang salah.
Islam Dipersempit Jadi Ritual
Ia menilai Islam kerap dipahami hanya sebagai simbol ritual, bukan sebagai sistem yang membentuk akhlak. “Di sinilah Islam difahami sebagai sebuah ritual yang orang asing, orang-orang non-muslim itu menganggap religius. Itu orang itu luar biasa loh, sudah melaksanakan umrah berkali-kali. Tapi rupanya dia adalah bandar narkoba, ini terjadi,” Paparnya.
Realitas tersebut menunjukkan ibadah belum memberi dampak pada perilaku sosial. Di sini berarti Islam tidak mempunyai pengaruh terhadap perilaku bangsa kita ini. Belum lagi yang tidak salat. Yang salat saja tidak mempunyai pengaruh terhadap perilakunya.
Menurutnya, inti dari syariat Islam adalah tazkiyatun nafs, proses penyucian jiwa. Tanpa itu, ibadah hanya menjadi rutinitas kosong. “Oleh karena itu, kita harus memahami bahwa syariat Islam adalah sarana tazkiyatun nafs,” katanya
Ia menegaskan manusia memiliki potensi keburukan dalam dirinya. Berarti ada potensi di dalam diri kita itu berbuat jahat. Potensi itu akan kalah dengan potensi kalau kita mendekat kepada Allah. Namun jika ibadah tidak dimaknai sebagai proses penyucian jiwa, maka dampaknya tidak akan terasa.
Ibadah “Transaksional” Jadi Masalah
Ia juga mengkritik fenomena ibadah yang bersifat transaksional, sekadar untuk kepentingan duniawi. Kalau anda membaca Al-Fatihah 40 kali rezeki lancar. Tapi Fatihah itu tidak dihayati, iyya kana budu waiyya ka nasta’in, katanya ini tidak penting. Justru itu pokok Al-Fatihah. Salawat 5.000 kali nanti semua lancar. Inilah ibadah Tutujar. Lu jual, gue beli. Bahasa sekulernya begitu.
Meski demikian, ia tidak menolak doa untuk kebutuhan dunia, namun menekankan pentingnya peningkatan kualitas keikhlasan. “Tidak ada masalah… Cuma dalam hidup ini pada akhirnya kita akan sampai pada suatu posisi. Ya Allah kami tidak membutuhkan apa-apa dalam hidup ini kecuali rida-Mu,” tandasnya.
Ia mengibaratkan doa sebagai anak panah yang kekuatannya bergantung pada kondisi jiwa. Doa itu pun dalam pandangan Ibnu Taimiyah seperti panah, kalau panahnya itu lemah, dia gak akan sampai.
Kelemahan itu, menurutnya, berasal dari lemahnya iman dan ketaatan. “Keimanan kita masih lemah, syariat yang kita jalankan masih lemah, ketaatan kita masih lemah, bagaimana kita akan mengirim busur-busur doa ke langit kalau kita sendiri masih lemah,” tambahnya.
Ia mengajak untuk mengembalikan esensi ibadah sebagai jalan menuju keimanan yang utuh. Cara mengatasi hidup ini dengan cara-cara syari dengan keimanan yang tinggi, sehingga bisa memperolehnya dengan sesuatu yang kita sendiri tidak bisa menyadari. (*/tim)
