*)Oleh: Fathan Faris Saputro
Koord Divisi Pustaka dan Informasi MPID PDM Lamongan
Dalam dunia pendidikan Islam, terdapat prinsip mendasar yang kerap dilupakan dalam sistem pendidikan modern: adab harus didahulukan sebelum ilmu. Prinsip ini bukan sekadar etika tambahan, melainkan fondasi utama yang menopang seluruh proses pembelajaran.
Imam Malik, seorang ulama besar dalam sejarah Islam, pernah berpesan kepada murid-muridnya, “Pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu.” Nasihat ini bukan tanpa alasan. Ilmu yang tinggi, tanpa disertai adab, ibarat pedang di tangan orang yang tidak terlatih—bukan hanya membahayakan orang lain, tapi juga dirinya sendiri.
Adab adalah cermin budi pekerti, akhlak mulia, dan tata krama yang baik. Dalam bahasa Arab, adab (الأدب) memiliki banyak makna: tingkah laku yang pantas, kehalusan budi bahasa, tata susila, bahkan kesusastraan. Menariknya, istilah ini telah dikenal sejak masa pra-Islam, bahkan sekitar 150 tahun sebelum kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Pada masa Jahiliyah, kata adab mengandung makna “ajakan makan” atau “perjamuan”, yang menunjukkan bentuk awal dari nilai kebersamaan dan keramahan. Namun seiring berkembangnya peradaban Islam, makna adab mengalami transformasi besar. Pada masa awal Islam, adab berarti pendidikan dan akhlak yang baik. Hal ini tercermin dari sabda Rasulullah SAW: “Addabani rabbi fa ahsana ta’dibi” (Tuhanku telah mendidikku dengan sebaik-baiknya pendidikan). Di sini, adab bukan hanya soal tata krama, tetapi mencakup pendidikan karakter yang menyeluruh.
Seseorang yang berilmu namun tidak memiliki adab ibarat api yang tidak terkendali. Ia bisa menjadi sombong, merasa paling benar, bahkan merendahkan orang lain. Inilah yang dikhawatirkan para ulama terdahulu. Ilmu yang sejatinya menuntun kepada kebenaran bisa berubah menjadi alat pembenaran ego, jika tidak dibarengi dengan adab.
Dalam sejarah peradaban, banyak contoh bagaimana orang-orang cerdas justru menimbulkan kerusakan karena tidak dibekali adab. Teknologi canggih bisa digunakan untuk perang. Argumentasi logis bisa dipakai untuk menyesatkan. Maka dari itu, pendidikan tidak boleh hanya berhenti pada aspek kognitif dan akademis, tetapi harus mencakup pendidikan karakter dan spiritual yang berakar dari nilai-nilai adab.
Adab bukan hanya urusan pribadi, tetapi berdampak besar dalam kehidupan sosial. Adab mengajarkan kita untuk menghormati orang tua, guru, sesama manusia, bahkan makhluk hidup lain. Sikap saling menghargai dan beretika menciptakan lingkungan yang harmonis dan penuh keberkahan.
Adab juga menjadi kunci dalam membangun komunikasi yang baik. Tanpa adab, ilmu yang disampaikan bisa terasa kaku atau menyakitkan. Sebaliknya, ilmu yang dibalut dengan adab akan diterima dengan hati terbuka. Seorang guru yang santun akan lebih didengarkan. Seorang pemimpin yang beradab akan lebih dihormati. Maka, pendidikan yang tidak menanamkan adab dari awal akan melahirkan generasi yang cerdas secara akademis, tetapi hampa secara moral.
Pada masa Dinasti Abbasiyah, makna adab mengalami perluasan. Kata ini bukan hanya merujuk pada akhlak, tetapi juga pada semua pengetahuan dan prosedur yang harus diikuti dalam kehidupan ilmiah dan sosial. Istilah seperti adab al-katib (etika menulis), adab al-mujalasah (etika pergaulan), adab al-kasb (etika bekerja), dan adab al-bahs wa al-munazarah (etika berdiskusi dan berdebat) mencerminkan betapa luas dan pentingnya cakupan adab dalam membentuk manusia seutuhnya.
Dalam kitab-kitab hadis dan fkih, istilah adab juga merujuk pada tata cara yang baik dalam menjalankan ibadah dan muamalah. Ada adab dalam berbicara, adab makan dan minum, adab tidur, adab bertamu, adab menuntut ilmu, bahkan adab dalam berbeda pendapat. Islam mengajarkan setiap aspek kehidupan harus dijalani dengan adab, karena dari situlah kemuliaan dan keberkahan muncul.
Di era modern, pendidikan kerap terjebak pada orientasi nilai dan prestasi. Sekolah berlomba mencetak siswa dengan nilai tinggi dan penguasaan teknologi, namun lupa pada aspek pembentukan karakter. Padahal, apa artinya kecerdasan jika digunakan untuk mencurangi ujian? Apa artinya prestasi jika tidak menghormati orang tua dan guru?
Inilah saatnya dunia pendidikan kembali kepada prinsip dasar: mendidik manusia seutuhnya. Kurikulum harus memasukkan adab sebagai bagian penting dalam proses pembelajaran. Bukan hanya pelajaran agama atau budi pekerti, tetapi setiap mata pelajaran bisa menjadi ruang untuk menanamkan nilai-nilai adab. Guru tidak hanya mentransfer ilmu, tapi juga menjadi teladan akhlak. Sekolah bukan sekadar tempat belajar, tapi menjadi taman pembentukan kepribadian.
Pendidikan sejatinya adalah proses memanusiakan manusia. Dan proses itu tidak akan berhasil tanpa adab. Ilmu hanya akan menjadi cahaya jika dibarengi dengan adab. Sebaliknya, ilmu tanpa adab bisa menjadi gelap yang menyesatkan.
Maka pertanyaan “Mengapa pendidikan harus mengajarkan adab lebih dulu?” bukan lagi pertanyaan, melainkan sebuah seruan moral. Seruan untuk kembali menempatkan adab sebagai dasar dalam mendidik. Karena dari adab, lahir rasa hormat. Dari hormat, tumbuh cinta. Dari cinta, muncul keinginan untuk belajar. Dan dari situ, ilmu menjadi berkah.
“Adab adalah cahaya sebelum cahaya ilmu menerangi hati.”
Tanpa adab, ilmu hanya tinggal angka-angka. (*)
