Mengapa Tikus Jadi Metafora Perilaku Koruptif?

Koruptor digambarkan sebagai tikus berdasi.
*) Oleh : Chusnun Hadi
Editor majelistabligh.id
www.majelistabligh.id -

Praktik korupsi bangsa ini seakan sudah terjadi di hampir semua lini. Mulai tukang parkir hingga pejabat tinggi tidak lepas dari kasus korupsi. Sudah banyak koruptor yang ditangkap, diadili, dan dihukum, tetapi hal ini tidak membuat efek jera. Korupsi masih saja merajalela.

Koruptor diibaratkan seperti tikus, menggambarkan mereka yang menyalahgunakan amanah dan merampas hak orang lain. Tikus menjadi metafora yang begitu kuat untuk perilaku koruptif, karena Tikus adalah hewan yang dikenal dengan sifatnya yang licik, merusak, dan suka mencuri makanan di tempat yang tidak terlihat. Sifat-sifat inilah yang diibaratkan dengan perilaku koruptor.

Metafora “Tikus” sering kita dengar dalam percakapan sehari-hari, terutama ketika membahas para koruptor. Bahkan tikus muncul dalam berita, karikatur, atau meme politik. Para pelaku korupsi sering digambarkan sebagai tikus berdasi, mengendap-endap mencuri uang rakyat di tengah kegelapan.

Istilah ini tentu tidak muncul begitu saja. Ada makna simbolik dan kultural di baliknya. Bahkan lebih dalam daripada sekadar cercaan. Sebab, ketika kita menyebut “tikus”, kita sedang menggambarkan perilaku yang tersembunyi, rakus, dan sulit diberantas, sama seperti sifat korupsi itu sendiri.

Tikus sebagai metafora dari koruptor pernah diungkapkan oleh beberapa tokoh, seperti:

Budayawan Emha Ainun Nadjib, menyebut tikus melambangkan kekerdilan moral. “Tikus itu kecil, tapi dampak kerusakan yang ditimbulkan karena kejahatannya sangat besar. Sama seperti koruptor, mereka kecil di hadapan hukum, tetapi besar dalam membuat kerusakan moral dan ekonomi.”

Abraham Samad, mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), “Koruptor itu seperti tikus yang menggerogoti sistem dari dalam tanpa terlihat, tapi meninggalkan dampak yang merusak.”

Guru Besar hukum, Romli Atmasasmita, mengatakan bahwa metafora tikus sangat relevan dalam konteks korupsi sistemik. “Tikus hidup di dalam lingkungan yang kotor dan gelap. Koruptor pun tumbuh subur di sistem yang minim transparansi dan akuntabilitas.”

Ekonom Emil Salim mengungkapkan bahwa korupsi bagai tikus yang bisanya mencuri makanan. “Dana publik yang seharusnya digunakan untuk pembangunan justru disalahgunakan, sehingga masyarakat tidak mendapatkan manfaat yang semestinya.”

Koruptor merampas hak masyarakat, seperti tikus yang mencuri tanpa peduli akibatnya bagi pemilik rumah. Kerugian akibat korupsi tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga merusak tatanan sosial. Dalam skala besar, korupsi menciptakan kemiskinan, ketimpangan, dan hilangnya kepercayaan publik terhadap institusi negara.

Islam menekankan pentingnya menjaga amanah dan larangan keras terhadap perilaku yang merugikan orang lain. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:

“Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian dari harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 188)

Ayat ini mengingatkan umat manusia agar tidak menggunakan cara yang tidak benar untuk meraih keuntungan pribadi, apalagi dengan merugikan orang lain.

Tikus dikenal sebagai hewan yang hidup di tempat gelap, kotor, dan sulit dijangkau. Mereka tak suka terlihat manusia, tapi selalu ada di sekitar kita, menunggu celah kecil untuk mencuri makanan, atau merusak barang. Sifat inilah yang sering dijadikan analogi untuk koruptor: mereka bersembunyi di balik jabatan, memanfaatkan celah hukum, dan bekerja di ruang-ruang yang sulit dijangkau pengawasan publik.

Korupsi jarang terjadi di ruang terang. Ia tumbuh di balik meja rapat, di dalam amplop tertutup, dalam angka-angka laporan yang disulap menjadi “sesuai prosedur.” Sama seperti tikus, para koruptor takut pada transparansi dan kejujuran.

Data dari Transparency International menunjukkan bahwa negara-negara dengan tingkat korupsi tinggi memiliki pembangunan ekonomi yang lambat, pelayanan publik yang buruk, dan tingkat kemiskinan yang tinggi. Hal ini menunjukkan betapa destruktifnya praktik korupsi dalam berbagai aspek kehidupan. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search