Mengejar Ketertinggalan Digital, Muhammadiyah Harus Lakukan Wakaf Teknologi

ilustrasi: Ismail Fahmi, Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah.
*) Oleh : Chusnun Hadi
Editor majelistabligh.id
www.majelistabligh.id -

Pada era Artificial Super intelligence (ASI) yang semakin masif, Muhammadiyah sebagai organisasi keagamaan dihadapkan pada dua pilihan, menulis sejarah atau dilupakan sejarah. Muhammadiyah harus memiliki etalase yang menjadi pusat peradaban digital. Jika tidak segera melakukan transfomasi, maka ASI akan menulis sejarah Islam meninggalkan Muhammadiyah.

Pertanyaan di atas dilontarkan oleh Ismail Fahmi, Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah. Tentu saja pertanyaan ini menjadi bahan pemikiran keluarga besar Muhammadiyah. Karena pada fase paripurna hingga tahun 2045, perkembangan kecerdasan ASI diprediksi sudah melebihi 1 miliar kali lipat dibanding saat ini.

Mengantisipasi era seperti ini, Muhammadiyah harus mengubah orientasi wakaf, dari yang sebelumnya wakaf identik dengan tanah, masjid, atau gedung sekolah (aset fisik) diubah menjadi wakaf Teknologi, yakni membangun infrastruktur digital (Server, Software, Pengembangan AI Dakwah).

Selain itu, wakaf juga diorientasikan agar Muhammadiyah memiliki Energi Mandiri, dengan cara menginvestasi dana wakaf tunai untuk membangun ladang energi terbarukan (Solar Panel). Seluruh atap bangunan kantor Muhammadiyah hingga Amal Usaha Muhammadiyah dipasag solar panel. Ini akan memangkas biaya operasional listrik hingga 50-70 persen dalam jangka panjang, sehingga organisasi akan tahan terhadap krisis energi.

Pada era ASI ke depan, ada serangan wabah yang sangat masif, tapi bukan virus biologis, melainkan kesepian (Loneliness) dan Hilangnya Makna Hidup (Loss of Meaning) akibat dominasi mesin. Orang akan makin terisolasi secara fisik meski terkoneksi secara digital. Tingkat depresi akan melonjak.

Pada posisi ini, pengajian di tingkat ranting Muhammadiyah jangan hanya dalam bentuk ceramah satu arah, tetapi menjadi Support Group atau Community Hub. Tempat orang bertemu fisik, curhat, saling dukung, dan merasakan “sentuhan manusia”. Jadikan masjid-masjid Muhammadiyah sebagai zona bebas sinyal/gadget. Tawarkan “kemewahan” berupa ketenangan batin yang hilang di dunia luar.

Membangun Ekosistem Digital

Muhammadiyah tidak boleh puas dengan jaringan digital yang dimiliki saat ini. Terbukti situs resmi Muhammadiyah saat berselancar di google.com, pada 9 November 2025, hanya memuat 54.200 halaman. Jumlah itu sangat-sangat rendah dibanding dengan situs keislaman lainnya.

Itu artinya, dalam lanskap digital Indonesia, suara Muhammadiyah kalah nyaring dibanding situs keislaman lainnya. Terbukti kunjungan bulanan, pada Oktober 2025, situs resmi Muhammadiyah hanya dikunjungi 940 ribu. Sedangkan situs keislaman di luar Muhammadiyah sudah mencapai 24 juta kunjungan. Akibatnya, Muhammadiyah “tidak terbaca” oleh AI. Fatwa dan putusan Majelis Tarjih yang diputuskan Muhammadiyah pun tidak banyak dibaca AI.

Karena itu, saat ini waktunya untuk melakukan aktivasi aset akademik, dimana semua riset dari PTMA terintegrasi dalam satu pusat data. Dengan demikian, lebih dari 130 PTMA memiliki repository yang terintegrasi, mulai dari tesis, disertasi, hingga jurnal. Integrasi ini diperkirakan memiliki potensi data sebesar 260.000 halaman.

Juga melakukan penulisan direktori AUM, mulai dari profil 11.000 sekolah Muhammadiyah, rumah sakit, klinik, dan panti asuhan dan AUM lainnya. Direktori ini memiliki potensi data sebanyak 110.000 halaman.

Ditambah lagi dengan himpunan putusan tarjih, yang dikemas dalam digitalisasi dakwah, dalil, dan tanya jawab agama, berpotensi menambah 55.000 item konten. Digitalisasi naskah khutbah jumat, idul fitri dan idul adha, panduan ibadah dan pengajian rutin dan reguler, berpotensi menambah 25.000 naskah. Juga ada profil tokoh dan arsip berita berpotensi menambah 100.000 naskah.

Jika semua potensi itu digarap dengan sungguh-sungguh, maka akan tercipta arus informasi yang sesuai dengan nilai kemuhammadiyahan, dan keluar saat dibaca oleh AI. Inovasi dakwah akan menjadi tren terbaru yang dikemas dalam konten berbasis AI. Jika ini dilakukan secara aktif, maka bisa jadi 1000 konten pada tahun pertama, yang didistribusikan pada jaringan medsos, jaringan kampus dan lain-lain, agar menjadi pusat rujukan viral yang posistif, edukatif, dan berideologi Muhammdiyah. (*)

Tinggalkan Balasan

Search