Dalam surat Al-Ma’arij, Allah menyebutkan karakter buruk yang ada dalam diri manusia, tepatnya pada ayat ke-19 hingga 21. Pada ayat ke-19, Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah.”
Ya, manusia memang sering mengeluhkan apa yang dirasakannya dalam kehidupan ini—baik ketika diberi nikmat sedikit maupun banyak. Ketika nikmat sedikit, ia mengeluh. Ketika nikmat melimpah, ia tetap merasa kurang.
Kemudian pada ayat ke-20, Allah berfirman, “Apabila ia ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah.” Dalam kehidupan di dunia, setiap individu pasti akan mengalami ujian.
Hal ini sangatlah lumrah dan wajar karena dalam banyak ayat lainnya, Allah menegaskan bahwa manusia pasti akan diuji—baik dengan kesulitan, kesedihan, maupun kekurangan.
Namun, banyak manusia salah dalam merespons ujian ini. Tak jarang kita temui keluh kesah mereka disampaikan secara terbuka di media sosial, seolah-olah mereka lupa bahwa setiap ujian adalah bentuk kasih sayang dan didikan dari Allah.
Selanjutnya, pada ayat ke-21, Allah berfirman, “Dan apabila mendapat kebaikan (harta), dia menjadi kikir.” Tatkala Allah melapangkan rezeki, manusia sering kali menjadi lalai, sombong, bahkan pelit.
Kisah Qorun
Jika kita menelusuri sejarah, sifat-sifat tersebut tidak berbeda jauh dengan kisah Qorun. Sebelum menjadi orang yang kaya raya, Qorun adalah seseorang yang miskin dan tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Ia sering mengeluh tentang kondisi hidupnya.
Suatu hari, karena sudah tidak tahan dengan keadaannya, Qorun datang kepada Nabi Musa ‘alaihissalam. Ia memohon didoakan agar menjadi orang kaya dengan harapan bisa lebih dekat kepada Allah melalui kekayaannya.
Doa Nabi Musa dikabulkan. Qorun menjadi sangat kaya hingga kunci-kunci gudang hartanya pun tidak mampu dipikul oleh puluhan orang.
Namun, ketika Nabi Musa mengingatkannya untuk menginfakkan sebagian hartanya di jalan Allah, Qorun dengan sombong menjawab, “Kekayaan ini aku peroleh bukan karena Allah, melainkan hasil dari kerja keras dan pikiranku sendiri.”
Karena kesombongan dan kekikirannya, Allah pun menenggelamkan Qorun bersama seluruh hartanya ke dalam bumi.
Membangkitkan Rasa Optimisme
Setelah kita membaca dan mentadabburi ayat 19–21, sejatinya manusia memiliki potensi untuk mengubah rasa keluh kesah menjadi rasa optimisme.
Pada ayat selanjutnya, Allah menyebutkan pengecualian: “Kecuali orang-orang yang melaksanakan salat, mereka yang tetap setia menjaga salatnya.” (Al-Ma’arij: 22–23). Mengapa orang-orang yang salat dikecualikan?
Pertama, orang yang senantiasa mendirikan salat akan hatinya diliputi ketenangan. Ia tidak mudah mengeluh atau berkeluh kesah. Dalam ayat lain, Allah berfirman:
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (Ar-Ra’d: 28)
Kedua, salat membangun hubungan yang kuat antara hamba dan Tuhannya. Dalam diri orang yang salat akan tumbuh rasa optimisme, keyakinan bahwa setiap kesusahan pasti akan diiringi kemudahan, dan bahwa rezeki bisa datang dari arah yang tidak disangka-sangka.
“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (At-Talaq: 2–3)
Ketiga, orang yang sudah memiliki hubungan spiritual yang kuat dengan Allah, hatinya akan tenang dan penuh keyakinan.
Dengan ketenangan dan optimisme tersebut, ia akan mampu mengembangkan potensi dalam dirinya untuk menciptakan peluang baru, yang pada akhirnya akan membantunya keluar dari kesulitan hidup.
Kesimpulan
Dalam kehidupan ini, setiap manusia pasti menghadapi ujian. Ujian adalah bagian dari sunatullah yang tak bisa dihindari. Oleh karena itu, saat ujian datang, tidak pantas bagi kita untuk berkeluh kesah atau mengeluh secara berlebihan.
Ujian adalah proses spiritual agar kita kembali kepada Allah dan memperkuat hubungan yang mungkin telah lama terabaikan. Dalam proses itulah optimisme akan tumbuh, dan potensi diri kita pun akan berkembang untuk menghadapi ujian itu sendiri.
Mari kita perbaiki hubungan dengan Allah dengan memperbanyak zikir dan salat. Dengan demikian, akan tumbuh keyakinan bahwa di balik setiap kesulitan selalu ada kemudahan. Mari kita ubah keluh kesah menjadi optimisme. (*)
