Mengenal Diri untuk Mengenal Tuhan

www.majelistabligh.id -

*) Oleh: Muhammad Nashihudin, MSI
Ketua Majelis Tabligh PDM Jakarta Timur

Rasulullah bersabda:” barangsiapa yang tahu dirinya, pasti ia akan tahu siapa Tuhannya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَلْيَنْظُرِ الْاِ نْسَا نُ مِمَّ خُلِقَ

“Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apa dia diciptakan.”
(QS. At-Tariq 86: Ayat 5)

خُلِقَ مِنْ مَّآءٍ دَا فِقٍ

“Dia (manusia) diciptakan dari air (mani) yang terpancar,”
(QS. At-Tariq 86: Ayat 6)

يَّخْرُجُ مِنْۢ بَيْنِ الصُّلْبِ وَا لتَّرَآئِبِ

“yang keluar dari antara tulang punggung (sulbi) dan tulang dada.”
(QS. At-Tariq 86: Ayat 7)

Manusia diciptakan oleh Allah SWT untuk beribadah kepadaNya. Sebagai penghambaan dan kepasrahan totalitas.
Adapun orang orang yang ingkar dan tidak mau patuh maka ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab dan direnungkan sebagai bentuk teguran dan sentuhan untuk membuka pola pikir dan perilaku sehari-hari.

Mentadabburi ayat ayat berikut ini agar mereka tahu siapa dirinya dan dari mana mereka diciptakan.

1.Bagaimana bisa kufur kepada Allah SWT

كَيْفَ تَكْفُرُوْنَ بِا للّٰهِ وَكُنْتُمْ اَمْوَا تًا فَاَ حْيَا کُمْ ۚ ثُمَّ يُمِيْتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيْكُمْ ثُمَّ اِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ

“Bagaimana kamu ingkar kepada Allah, padahal kamu (tadinya) mati, lalu Dia menghidupkan kamu, kemudian Dia mematikan kamu, lalu Dia menghidupkan kamu kembali. Kemudian kepada-Nyalah kamu dikembalikan.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 28)

2. Siapa yang bisa menahan nyawa bila sudah sampai di kerongkongan

فَلَوْلَاۤ اِذَا بَلَغَتِ الْحُـلْقُوْمَ

“Maka kalau begitu mengapa (tidak mencegah) ketika (nyawa) telah sampai di kerongkongan,”

وَاَ نْتُمْ حِيْنَئِذٍ تَـنْظُرُوْنَ

“dan kamu ketika itu melihat,”

وَاَ نْتُمْ حِيْنَئِذٍ تَـنْظُرُوْنَ

“dan kamu ketika itu melihat,”
(QS. Al-Waqi’ah 56: Ayat 82- 84)

3. Allah SWT yang maha menciptakan, yang mencabut nyawa manusia

اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ ثُمَّ رَزَقَكُمْ ثُمَّ يُمِيْتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيْكُمْ ۗ هَلْ مِنْ شُرَكَآئِكُمْ مَّنْ يَّفْعَلُ مِنْ ذٰ لِكُمْ مِّنْ شَيْءٍ ۗ سُبْحٰنَهٗ وَتَعٰلٰى عَمَّا يُشْرِكُوْنَ

“Allah yang menciptakan kamu, kemudian memberimu rezeki, lalu mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (kembali). Adakah di antara mereka yang kamu sekutukan dengan Allah itu yang dapat berbuat sesuatu yang demikian itu? Maha Suci Dia dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan.”
(QS. Ar-Rum 30: Ayat 40)

4. Kajian Tafsir Ibnu Katsir tentang rahasia kehidupan
Luqman, ayat 34
{إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنزلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الأرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ (34) }

Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat; dan Dialah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada di dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Apa yang disebutkan oleh ayat ini merupakan kunci-kunci kegaiban yang hanya Allah sendirilah yang mengetahuinya. Maka tiada seorang pun yang dapat mengetahuinya kecuali setelah ia diberi tahu oleh Allah (Subhanahu wa Ta’ala) tentangnya. Pengetahuan mengenai saat hari kiamat tiada seorang pun dari kalangan nabi yang diutus atau malaikat yang terdekat mengetahuinya.

{لَا يُجَلِّيهَا لِوَقْتِهَا إِلا هُوَ}

tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. (Al-A’raf: 187)

Demikian pula mengenai turunnya hujan, tiada yang mengetahuinya selain Allah (Subhanahu wa Ta’ala) Tetapi bila Allah memerintahkan untuk turunnya hujan, barulah para malaikat yang diserahi tugas untuk menurunkannya mengetahuinya, demikian pula orang yang dikehendaki Allah dari kalangan makhluk-Nya. Tiada yang mengetahui apa yang ada di dalam rahim, yakni apa yang bakal diciptakan-Nya selain hanya Dia sendiri. Tetapi bila Allah telah memerintahkan agar yang di dalam rahim menjadi laki-laki atau perempuan, atau menjadi orang yang celaka atau menjadi orang yang bahagia, barulah para malaikat yang diserahi tugas untuk menjaganya mengetahui hal itu, juga orang yang dikehendaki oleh Allah dari kalangan makhluk-Nya (mengetahuinya pula).

 

Tinggalkan Balasan

Search