Dalam beberapa waktu terakhir, bangsa kita kembali diuji oleh berbagai musibah dan bencana. Dari ujung barat hingga timur negeri ini, kita mendengar kabar duka: banjir, tanah longsor, gempa, dan berbagai bencana lainnya. Setiap kali musibah datang, kita berduka, kita berdoa. Namun lebih dari itu, sudah sepatutnya kita juga bermuhasabah, melakukan introspeksi diri.
Tidak ada satu musibah pun yang menimpa manusia kecuali karena ulah manusia itu sendiri. Inilah pesan Allah yang perlu kita renungkan dalam-dalam. Mungkin selama ini kita banyak melupakan kewajiban kita kepada Allah. Apa yang diperintahkan belum kita laksanakan dengan sungguh-sungguh, sementara yang dilarang justru sering kita lakukan. Maka dari itu, bencana mestinya menjadi cermin bagi bangsa, bukan sekadar peringatan yang lewat begitu saja.
Di tengah cobaan semacam ini, doa dan munajat menjadi kekuatan umat. Sebagaimana yang kita lakukan di Masjid Istiqlal ini, bersama para ulama, habaib, dan umat Islam dari berbagai penjuru kita mengetuk pintu langit—memohon keselamatan bangsa. Kita yakini bahwa setiap doa yang tulus tidak akan pernah sia-sia.
Tetapi doa harus diiringi dengan taubat dan istighfar, sebagai bentuk kesadaran dan penyesalan atas kekhilafan. Dengan istighfar, hati menjadi lapang, dan dengan taubat, langkah kita kembali berada di jalan yang benar. Inilah hakikat keimanan: selalu kembali kepada Allah setiap kali kita tergelincir.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) bukan hanya milik para pengurus yang dilantik. MUI adalah milik seluruh umat Islam Indonesia, bahkan milik bangsa Indonesia. Karena itu, tanggung jawab MUI adalah membersamai pemerintah dan masyarakat, untuk mewujudkan bangsa yang damai, sejahtera, dan diridhai Allah Swt—sebuah negeri yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.
Ulama memiliki peran penting sebagai mitra pemerintah dalam membangun bangsa, bukan sebagai pihak yang berjarak. Kesuksesan pembangunan Indonesia adalah juga kesuksesan umat Islam Indonesia. Demikian pula sebaliknya, bila bangsa ini gagal membangun keadilan dan kesejahteraan, maka itu juga menjadi tanggung jawab umat Islam untuk memperbaikinya bersama-sama.
Kunci dari semua itu adalah persatuan. Kita harus terus memperkuat ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama umat Islam), menjalin ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sebangsa dan setanah air), serta memupuk ukhuwah insaniyah (persaudaraan sesama umat manusia).
Dalam situasi dunia yang penuh ketegangan, menjaga persatuan bangsa menjadi kewajiban moral dan spiritual. Umat Islam seharusnya menjadi teladan dalam mewujudkan perdamaian, mulai dari keluarga, masyarakat, hingga antarbangsa.
Akhirnya, mari kita panjatkan doa untuk pemimpin-pemimpin negeri ini, khususnya Bapak Presiden Republik Indonesia. Tanggung jawab beliau dan para pemimpin bangsa kian berat, di tengah tantangan nasional dan global yang kompleks.
Mudah-mudahan Allah menganugerahkan kekuatan lahir dan batin kepada mereka, agar mampu membawa negeri ini menuju kedamaian dan kemuliaan bersama.
Kita berdoa agar dunia ini dijauhkan dari peperangan dan permusuhan. Karena setiap perang, di mana pun terjadi, akan membawa derita yang pada akhirnya sampai juga kepada kita. Semoga Indonesia dan dunia senantiasa berada dalam lindungan Allah Swt—dianugerahi keselamatan, rahmat, dan berkah yang melimpah. || Pidato Ketum MUI pada Pengukuhan Pengurus MUI 2025-2030.
