Bulan Syawal tidak hanya menjadi momen kemenangan setelah satu bulan penuh berpuasa, tetapi juga menjadi waktu yang sarat makna bagi umat Islam.
“Tiga makna penting yang dapat dipetik dari bulan Syawal yang dikenal dengan istilah 3R, yaitu Refresh, Recreation, dan Reunion,” kata Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Abdul Mu’ti dalam kegiatan Silaturahim Majelis Dikdasmen Pendidik Non Formal (PNF) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Surabaya, Rabu (23/4/2025).
Dalam kesempatan tersebut, beliau memaparkan refleksi mendalam mengenai bagaimana bulan Syawal dapat menjadi momentum perbaikan dan peningkatan kualitas diri pasca-Ramadan.
1. Refresh (Penyegaran Spiritualitas)
Makna pertama dari 3R adalah refresh, yaitu penyegaran jiwa secara spiritual setelah menjalani ibadah Ramadan. Dalam sebulan penuh, umat Islam ditempa secara ruhani melalui puasa, salat, zikir, dan membaca Al-Qur’an. Ini menjadi proses pembersihan hati dan penyucian jiwa.
“Kita menyegarkan spiritualitas kita. Sehingga sebagian ada yang menafsirkan makna Idulfitri itu tak hanya sekadar kembali makan, tetapi juga ‘iddun ilal fitrah atau kembali kepada fitrah kita. Manusia itu sesuai dengan fitrahnya adalah makhluk yang lahir bersih dari segala dosa,” ungkap Mu’ti.
Dia mengingatkan bahwa setiap manusia memiliki potensi ketuhanan dalam dirinya. “Dalam diri manusia ini ada god spot atau noktah ketuhanan, yang dengan itu manusia senantiasa terdorong dan senantiasa memiliki kecenderungan untuk menjadi makhluk berketuhanan,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menyinggung sabda Nabi Muhammad saw bahwa “setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah”, dan lingkunganlah yang kemudian membentuknya.
Maka, Idulfitri adalah momen untuk menyadari kembali potensi spiritual tersebut dan memperkuat komitmen kepada nilai-nilai ketuhanan.
2. Recreation (Menumbuhkan Kreativitas dan Semangat Baru)
Makna kedua dari 3R adalah recreation. Meski kata ini kerap diasosiasikan dengan hiburan atau bersenang-senang, namun Prof. Mu’ti menekankan bahwa makna recreation dalam konteks Syawal adalah bangkit dengan semangat baru, menjadi lebih kreatif dan produktif.
“Harus ada semangat baru, dan semangat untuk kita lebih baik lagi. Itulah kenapa maknanya Syawal,” ujar beliau.
Dia menyebut bahwa dalam Al-Qur’an terdapat enam ayat yang menggunakan redaksi berbeda-beda namun bermakna serupa, yaitu dorongan untuk berjalan di muka bumi. Ini menjadi ajakan untuk berpikir, mengambil pelajaran dari lingkungan sekitar, dan berinovasi dalam kehidupan.
Artinya, bulan Syawal harus dijadikan titik awal baru untuk menciptakan karya, ide, dan inisiatif positif. Setelah Ramadan memberi ketenangan batin, Syawal adalah saatnya untuk menyelaraskan ketenangan itu dengan semangat berkarya dalam kehidupan nyata.
3. Reunion (Memperkuat Silaturahim dan Persaudaraan)
Makna terakhir dari 3R adalah reunion, yaitu momen untuk mempererat kembali hubungan antarmanusia, baik keluarga, teman, maupun sesama umat.
Mu’ti menjelaskan bahwa silaturahim bukan sekadar tradisi saling berkunjung atau berkirim pesan di Hari Raya, melainkan memiliki dimensi spiritual dan sosial yang dalam.
“Silaturahim berasal dari dua kata yaitu sila dan rahim. Sila artinya menyambung, dan rahim berkaitan dengan kasih sayang,” terang beliau.
Dalam konteks itu, silaturahim adalah upaya menyambung tali yang sempat putus atau mengurai hubungan yang sempat ruwet.
Momentum Syawal menjadi ajang strategis untuk saling memaafkan, menjalin kembali hubungan yang renggang, serta mempererat ukhuwah Islamiyah yang mungkin sempat terlupakan.
Dengan memahami konsep 3R dalam bulan Syawal—refresh, recreation, dan reunion—umat Islam dapat menjadikan bulan ini sebagai landasan untuk membangun kehidupan yang lebih baik, tidak hanya secara spiritual, tetapi juga dalam aspek sosial dan profesional.
Ramadan telah menyucikan jiwa, dan kini Syawal memberi energi untuk kembali ke dunia nyata dengan semangat baru, semangat untuk berubah, dan semangat untuk bersatu kembali. (*/wh)
