Saat ini kita berada di bulan Shafar, bulan kedua dalam kalender Islam (Hijriah) setelah bulan Muharram.
Sayangnya, masih banyak orang yang beranggapan dan berkeyakinan bahwa bulan ini adalah bulan kesialan.
Mereka percaya bahwa segala perbuatan yang dilakukan pada bulan ini akan berujung pada kesialan dan kegagalan.
Anggapan seperti itu jelas tidak benar dan bertentangan dengan ajaran Islam yang kita anut.
Dalam Islam, tidak ada satu pun bulan yang secara intrinsik dapat mendatangkan bahaya, kesialan, atau kegagalan.
Semua yang terjadi di dunia ini telah ditentukan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan tidak ada seorang pun yang dapat menghalanginya.
Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an:
“Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hadid: 22)
Ayat ini menegaskan bahwa segala musibah, ujian, dan kesialan yang menimpa seseorang bukan disebabkan oleh bulan tertentu, termasuk bulan Shafar. Semuanya telah ditetapkan di Lauhul Mahfuzh sejak dahulu kala.
Lalu, bagaimana cara agar bulan ini menjadi bulan yang penuh manfaat dan keberkahan?
Jawabannya adalah dengan menyibukkan diri dalam ketaatan serta berusaha meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Setiap waktu yang kita isi dengan amal kebaikan dan ketulusan ibadah akan menjadi waktu yang diberkahi—termasuk bulan Shafar.
Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata:
“Setiap zaman yang membuat seorang mukmin sibuk dalam ketaatan kepada Allah adalah zaman yang diberkahi. Dan setiap zaman yang menyibukkan manusia dalam kemaksiatan kepada Allah adalah zaman kesialan dan tidak diberkahi.”
Dengan demikian, penyebab suatu bulan dianggap sial bukan karena waktu itu sendiri, melainkan karena banyaknya kemaksiatan yang terjadi di dalamnya.
Bila setiap bulan dijalani dengan semangat memperbaiki diri, meningkatkan ibadah, dan menjauhi larangan Allah, maka tidak ada istilah bulan sial dalam kehidupan seorang mukmin.
Oleh karena itu, mari kita jadikan bulan Shafar ini sebagai momentum untuk:
- Menunaikan kewajiban yang Allah tetapkan,
- Meng-qadha kewajiban yang pernah kita tinggalkan,
- Menjauhi semua larangan-Nya,
- Bertobat dengan sungguh-sungguh atas segala dosa yang telah kita lakukan.
Insya Allah, bulan Shafar akan menjadi bulan yang membawa manfaat dan keberkahan bagi kita semua, serta menjadikan kita termasuk dalam golongan hamba Allah yang istiqamah menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya.
Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin. (*)
