Menghidupkan Warisan KH Ahmad Dahlan di Era Digital Bagi Generasi Z

www.majelistabligh.id -

*)Oleh: Dr. Sholikh Al Huda, M. Fil. I
Wakil Ketua Majelis Tabligh PWM Jatim & Wakil Direktur Sekolah Pascasarjana UM Surabaya

Di tengah derasnya arus zaman, kita sering terpaku pada simbol dan melupakan substansi. Termasuk dalam hal mengenang tokoh besar seperti KH Ahmad Dahlan. Kita tahu beliau adalah pendiri Muhammadiyah, tokoh pembaharu Islam, bahkan pahlawan nasional. Tapi pertanyaannya: apa arti warisan beliau bagi kita hari ini?

Apakah cukup dengan mengenang beliau tiap tahun? Atau menyebut-nyebut namanya dalam acara formal organisasi? Atau justru ada yang lebih penting — menghidupkan nilai-nilai perjuangan beliau dalam kehidupan nyata?

Islam yang Mencerahkan dan Membebaskan

KH Ahmad Dahlan mengajarkan bahwa Islam itu membawa pencerahan dan pembebasan — dari kebodohan, dari kemiskinan, dari keterbelakangan, bahkan dari fanatisme buta. Dalam konteks sekarang, pencerahan itu bisa berarti memberantas hoaks keagamaan, menolak politik identitas yang menyesatkan, dan membuka ruang dialog antarumat dengan cara yang elegan.

Sementara pembebasan berarti memberdayakan umat, bukan sekadar menyuruh taat. Kita harus mulai dari pendidikan yang mencerahkan, dakwah yang merangkul, dan aksi sosial yang nyata.

Warisan KH Ahmad Dahlan bukan Islam yang kaku, bukan pula Islam yang sekadar ritual, tapi Islam yang membumi dan berdampak.

Pendidikan Sebagai Kunci Perubahan

Bagi KH Ahmad Dahlan, pendidikan bukan sekadar tempat menuntut ilmu, tapi alat perubahan sosial. Sekolah Muhammadiyah yang didirikannya kala itu adalah bentuk perlawanan terhadap ketertinggalan umat. Ia menggabungkan ilmu agama dengan ilmu umum — sebuah langkah progresif yang belum lazim pada masanya.

Hari ini, pendidikan kita masih menghadapi tantangan: komersialisasi, ketimpangan akses, dan rendahnya literasi. Merawat warisan beliau berarti berani membuat pendidikan kembali menjadi ruang pembebasan, bukan hanya tempat menghafal teori atau mengejar ijazah.

Bagi para pendidik, mahasiswa, aktivis, bahkan orang tua — ini adalah panggilan untuk meneruskan semangat beliau: mencerdaskan umat, bukan membodohinya dengan dogma yang dangkal.

Dakwah Sosial: Dari Mimbar ke Aksi Nyata

Satu hal yang luar biasa dari KH Ahmad Dahlan adalah kepeduliannya terhadap rakyat kecil. Beliau tidak hanya bicara di mimbar, tapi juga mendirikan lembaga sosial: rumah sakit, panti asuhan, hingga layanan untuk orang miskin.

Dalam dunia sekarang yang penuh ketimpangan, kita membutuhkan lebih banyak “Ahmad Dahlan baru” — yang dakwahnya bukan hanya bicara akhirat, tapi juga memperjuangkan hak-hak dasar: pendidikan, kesehatan, dan keadilan.

Kita perlu ingat, dakwah tanpa kepedulian sosial hanya akan menjadi kata-kata kosong. Maka mari kita bertanya pada diri sendiri: sejauh mana Islam yang kita pahami dan sebarkan benar-benar menyentuh realitas umat?

Berani Melawan Taklid dan Fanatisme

Salah satu warisan intelektual penting KH Ahmad Dahlan adalah keberanian berpikir kritis. Ia menolak taklid buta, menantang praktik keagamaan yang tidak berdasar, dan mendorong umat untuk membaca langsung Al-Qur’an dengan pemahaman, bukan sekadar hafalan.

Zaman sekarang, tantangan serupa masih ada. Banyak yang membela kebenaran semu dengan semangat fanatisme, bukan ilmu. Banyak yang lebih sibuk berdebat di media sosial, saling menyalahkan, tapi lupa pada esensi ajaran Islam: rahmatan lil ‘alamin.

Merawat warisan beliau berarti terus mendorong lahirnya generasi yang kritis, bukan sekadar patuh. Yang berani berpikir dan bertindak demi kebaikan umat, bukan demi pembenaran golongan sendiri.

Keteladanan: Ikhlas, Sederhana, Melayani

KH Ahmad Dahlan bukan hanya guru, tapi teladan. Ia hidup sederhana, tidak haus jabatan, dan sepenuhnya mendedikasikan hidup untuk perjuangan. Ia tidak sibuk membela organisasi, tapi membela nilai.

Ini menjadi pengingat penting di era sekarang, ketika banyak yang berlomba jadi “tokoh”, tapi lupa jadi pelayan. Banyak yang ingin jadi pemimpin, tapi enggan bersusah payah di bawah. Warisan KH Ahmad Dahlan adalah tentang keikhlasan, bukan popularitas.

Bagi siapa pun yang mengaku pengikutnya, atau sekadar terinspirasi oleh perjuangannya, mari kita bertanya: Apakah saya sudah meneladani beliau, atau hanya memujinya dari kejauhan?

Menghidupkan, Bukan Menghafal

Warisan KH Ahmad Dahlan bukan untuk dihafal, tapi untuk dihidupkan. Ia mengajarkan kita bahwa Islam tidak boleh mati di teks, tapi harus menyala dalam aksi. Dari sekolah ke jalanan, dari masjid ke rumah sakit, dari lisan ke keteladanan.

Di era yang penuh tantangan ini — digitalisasi, degradasi moral, konflik identitas — kita membutuhkan lebih banyak pemuda dan pemudi yang siap meneruskan jejak beliau. Bukan dengan nostalgia, tapi dengan kerja nyata.

Mari kita rawat warisan KH Ahmad Dahlan bukan hanya sebagai sejarah, tapi sebagai energi untuk membangun masa depan. Masa depan yang lebih cerdas, adil, dan beradab — sebagaimana yang beliau perjuangkan seumur hidupnya.

“Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah.”
– KH Ahmad Dahlan. (*)

Tinggalkan Balasan

Search