Mengkhianati Amanah Dakwah

*) Oleh : Syahrul Ramadhan, SH, M.Kn, C.LQ
Sekretaris LBH AP PDM Lumajang
www.majelistabligh.id -

Dakwah adalah panggilan suci, bukan panggung pencitraan. Dakwah adalah amanah, bukan alat meraih keuntungan pribadi. Sayangnya, banyak dusta muncul dalam gerakan dakwah karena lemahnya keikhlasan dan rapuhnya tauhid para pelakunya.

Lemahnya keikhlasan menyebabkan seseorang menjadikan dakwah sebagai alat mencari pujian, harta, atau kekuasaan. Rapuhnya ketauhidan membuatnya lebih takut kehilangan jabatan daripada murka Allah. Inilah awal dari dusta dalam dakwah.

يَا أَيُّهَا ٱلَّذِينَ آمَنُوا۟ لَا تَخُونُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ وَتَخُونُوٓا۟ أَمَـٰنَـٰتِكُمْ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad), dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahuinya.”
(QS Al-Anfāl [8]: 27)

Ayat ini menegaskan bahwa pengkhianatan terhadap amanah, termasuk dalam tugas dakwah, adalah bentuk kedustaan terhadap Allah dan Rasul-Nya. Ini bukan sekadar kesalahan manajemen, tetapi kecacatan iman dan tauhid.

Ketika Dusta Menghiasi Dakwah

Dusta dalam dakwah terjadi saat orang:

  • Menyalahgunakan fasilitas organisasi untuk urusan pribadi
  • Membungkus ambisi duniawi dengan retorika dakwah
  • Memanipulasi data atau narasi demi mempertahankan posisi
  • Berbicara amar ma’ruf nahi munkar namun lalai menegakkannya pada dirinya sendiri

Padahal Rasulullah saw bersabda:

إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِندَ اللَّهِ صِدِّيقًا

“Sesungguhnya kejujuran itu membawa kepada kebaikan, dan kebaikan itu membawa ke surga. Seseorang yang senantiasa berkata jujur akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur (ṣiddīq).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hak Pribadi vs Hak Organisasi: Jangan Disamakan

Hak pribadi adalah milik individu: waktu, pikiran, aset pribadi.
Hak organisasi adalah milik umat: jabatan, fasilitas, data umat, aset lembaga, keputusan lembaga.

Mencampuradukkan keduanya adalah bentuk pengkhianatan. Lihat bagaimana Rasulullah saw menegur Ibnu al-Lutbiyyah yang mengira hadiah karena tugas dakwah adalah miliknya. Beliau berkata:

“Mengapa engkau tidak duduk saja di rumah orang tuamu? Apakah mereka akan memberimu hadiah?” (HR. Bukhari dan Muslim)

Umar bin Khattab: Keteladanan Pemisahan Hak

Ketika Umar bin Khattab dituduh mengambil dua helai pakaian padahal seharusnya hanya satu, ia dengan jujur menjelaskan bahwa satu helai lagi adalah milik anaknya.

Umar tidak mau menggunakan kekuasaan untuk menutupi persoalan, karena ia memahami bahwa kekuasaan adalah amanah, bukan milik pribadi.

Akar Dusta: Lemahnya Keikhlasan dan Tauhid

وَمَا أُمِرُوا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.” (QS Al-Bayyinah [98]: 5)

Ikhlas adalah fondasi amal. Jika rapuh, maka amal hanya menjadi topeng.

Tauhid adalah fondasi keberanian menegakkan kebenaran, bukan keberanian membela kelompok sendiri.

Solusi: Bersihkan Niat dan Tegakkan Amanah

Luruskan niat hanya karena Allah, bukan karena organisasi, tokoh, atau ambisi

Bedakan mana hak pribadi, mana hak organisasi

Bangun sistem kontrol internal agar dakwah tetap bersih dari konflik kepentingan

Libatkan musyawarah dan syura dalam setiap pengambilan keputusan

إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا۟ ٱلْأَمَـٰنَـٰتِ إِلَىٰٓ أَهْلِهَا

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya…” (QS An-Nisā’ [4]: 58)

Jangan biarkan dakwah menjadi rusak karena kepentingan pribadi. Jika kita berdusta dalam dakwah, sesungguhnya kita telah mengkhianati Allah dan mencederai tauhid kita sendiri. Mari kita jaga dakwah dengan keikhlasan dan ketauhidan sejati. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search