Dalam perjalanan hidup, tak jarang jiwa manusia terjerat oleh kekusutan rasa, konflik, dan kealpaan diri. Di tengah keruhnya hubungan dan beratnya beban batin, Halal Bihalal hadir bukan sekadar seremoni, melainkan sebagai ikhtiar mulia untuk mengurai benang kusut kehidupan, menapis jiwa hingga kembali jernih pada fitrah suci.
Dalam Halalbihalal Muhammadiyah Jawa Timur di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), pada Sabtu (26/4/2025), Ustaz Adi Hidayat (UAH) mengajak setiap hati untuk merenung: sudahkah kita kembali pada kejernihan hakiki, sebagaimana tujuan suci Ramadan dan Idulfitri?
Menurut UAH, halalbihalal bukan sekadar tradisi rutin pasca-Idulfitri, melainkan sebuah mekanisme ruhani untuk mengurai berbagai kekusutan hidup manusia.
Tujuannya adalah untuk membawa kembali jiwa manusia pada kondisi fitrah, keadaan asli yang bersih, jernih, dan selaras dengan nilai-nilai luhur Al-Qur’an dan semangat Idulfitri.
Mengawali ceramah, UAH mengulas makna kata “ḥalāl” dari perspektif bahasa Arab klasik. Ia mengutip rujukan dari kitab Mughnī al-Labīb ‘an Kutub al-A‘ārīb karya ulama besar Ibn Hisyam al-Anshari.
Dijelaskan bahwa istilah “halal” berasal dari akar kata ḥalla-yaḥillu, yang bermakna “mengurai sesuatu yang kusut hingga menjadi jelas, teratur, dan bebas hambatan.”
Dia memberikan analogi konkret dari makna ini. Dalam bahasa Arab, jika benang kusut berhasil diurai hingga kembali lurus, itu disebut ḥill al-aḥbāl ḥalālan.
Air keruh yang disaring hingga menjadi jernih dinamai ḥill al-mā’ ḥalālan. Demikian pula dalam kehidupan sosial, hubungan antar manusia yang semula tegang dan keruh, bila berhasil diperbaiki hingga nyaman dan bersih, itu disebut ḥill al-musykilah ḥalālan.
“Dengan demikian,” lanjut UAH, “Halal Bihalal bukan hanya sekadar saling meminta maaf secara lahiriah, tetapi lebih dari itu, ia adalah proses penguraian kekusutan emosional, sosial, dan bahkan spiritual.”
Lebih jauh, wakil ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah itu mengaitkan makna Halal Bihalal dengan tiga dimensi utama kehidupan manusia: dimensi fisik, intelektual, dan spiritual.
Dia menyoroti bahwa kata “ḥalāl” dalam Al-Qur’an disebutkan sebanyak 55 kali, dan dalam berbagai konteks tersebut, dia selalu berhubungan dengan aktivitas manusia dalam ketiga dimensi ini.
“Halalbihalal, jika dipahami secara utuh, merupakan implementasi nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan nyata. Ini adalah upaya untuk membersihkan interaksi fisik, meluruskan cara berpikir, serta menyucikan hubungan spiritual kita dengan Allah dan sesama,” terangnya.
UAH juga menjelaskan bahwa bulan Ramadan sejatinya merupakan masa pelatihan intensif bagi umat Muslim untuk mengurai berbagai kekusutan hidup: dari pengendalian hawa nafsu, penyelesaian konflik sosial, hingga perbaikan cara berpikir yang mungkin selama ini melenceng.
Maka, saat Ramadan berakhir dan datangnya Idulfitri, Halal Bihalal menjadi momen untuk memperkuat hasil latihan tersebut, memastikan bahwa kita kembali kepada fitrah yang suci dan hubungan antarmanusia tetap harmonis.
“Pada hari ini, tepat tanggal 27 Syawal,” kata Ustaz Adi, “saatnya kita bertanya kepada diri sendiri: apakah fitrah yang telah kita capai selama Ramadan masih terjaga? Halal Bihalal hadir untuk mengecek, menyempurnakan, dan memelihara kondisi tersebut.”
Dalam uraian yang lebih filosofis, Ustaz Adi juga mengaitkan pentingnya halalbihalal dengan karakter dasar manusia sebagaimana digambarkan dalam Al-Qur’an melalui lima istilah: basyar, ins, insān, banī Ādam, dan al-nās. Walaupun kelimanya sering diterjemahkan dengan kata yang sama, yakni “manusia”.
Namun sebenarnya masing-masing memiliki makna spesifik yang membentuk algoritma kehidupan manusia.
“Jika dalam kehidupan ini kita merasa kusut, berat, atau kehilangan arah, seringkali itu karena kita menjauh dari karakter hakiki kita yang dijelaskan dalam kelima istilah tersebut. Maka Ramadan, Idulfitri, dan Halal Bihalal berfungsi sebagai proses penyaringan untuk mengembalikan kita pada jati diri sejati,” jelas UAH.
Dalam konteks MuhammadiyahUAH menggarisbawahi bahwa Halal Bihalal memiliki relevansi mendalam dengan prinsip dasar gerakan persyarikatan, yaitu berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah.
Halalbihalal memperkuat tekad Muhammadiyah untuk terus melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar, tidak hanya di lisan, tetapi benar-benar dalam praktik kehidupan sehari-hari.
Sebagai penutup, Ustaz Adi mengingatkan fenomena sosial di mana ada ketidaksesuaian antara ibadah formal dan akhlak nyata.
Dia menyinggung, bagaimana bisa seseorang rajin melaksanakan salat, namun masih mudah berbuat tidak jujur atau curang? Hal ini menunjukkan pentingnya memahami dan mengamalkan ajaran agama secara holistik, bukan sekadar ritual.
“Halalbihalal adalah momen untuk menjahit kembali hubungan yang sempat kusut, membersihkan hati dari noda, dan menyiapkan diri melangkah menuju kehidupan baru yang lebih baik, lebih jernih, dan lebih produktif, selaras dengan visi besar Muhammadiyah,” pungkas Ustaz Adi, disambut dengan tepuk tangan dan antusiasme tinggi dari para hadirin. (*/wh)
