Mengusap Air Mata Ibu Pertiwi Agar Tak Berlinang Lagi

*) Oleh : Chusnun Hadi
Editor majelistabligh.id
www.majelistabligh.id -

Kulihat bu Pertiwi, sedang bersusah hati. Inilah gambaran atas bencana yang tak kunjung usai menimpa Bangsa Indonesia. Saat ini, banjir dan longsor yang terjadi Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat, masih dalam penanganan.

Masyarakat seakan berusaha menghibur agar Ibu Pertiwi tidak larut dan terus menitikkan air mata. Bantuan dan dukungan masyarakat pada para penyintas menjadi bukti bahwa kesetiakawanan sosial masih ada pada bangsa ini.

Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN) yang diperingati setiap tanggal 20 Desember, mengingatkan kembali bahwa bangsa ini memilki ciri khas berupa gotong royong, mengatasi masalah bersama, dan berempati pada saudara sebangsa yang sedang dilanda bencana. Solidaritas sosial semakin erat untuk mencapai tujuan bersama.

Posisi Indonesia berada di salah satu wilayah paling aktif secara geologis dan meteorologis di dunia. Itu sebabnya bencana alam bisa terjadi kapan saja. Hingga Oktober 2025, Indonesia mengalami 2.590 kejadian bencana alam, didominasi bencana hidrometeorologi sebesar 99,03 persen dan bencana geologi 0,97 persen yang meliputi banjir, cuaca ekstrem, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), longsor, hingga kekeringan.

Sejak awal tahun 2025 ini, bencana datang silih berganti, di antaranya:

  1. Banjir dan Tanah Longsor di Pekalongan pada 21 Januari 2025, dilaporkan korban tewas mencapai 20 orang, dan 14 lainnya mengalami luka. Selain korban jiwa, tanah longsor juga menimbun beberapa rumah warga dan menyeret beberapa kendaraan yang sedang melintas di wilayah tersebut.
  2. Bencana banjir bandang juga terjadi di Demak pada tanggal 8 Februari 2025. Menurut laporan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Demak, tercatat 21 desa di 3 kecamatan tergenang air. Dampaknya juga besar, lebih dari 56.785 jiwa terdampak, 15.126 KK, dan 4.508 rumah tergenang air.
  3. Bulan Juli 2025, terjadi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sulawesi Selatan, dengan luasan mencapai 474,91 hektare. Dari jumlah itu, sebagian besar kebakaran berada di kawasan Areal Penggunaan Lain (APL) yaitu sekitar 444,34 hektare, dan sisanya 30,57 hektare berada di kawasan hutan produksi.
  4. Pada November 2025,  terjadi tanah longsor di Banjarnegara. Jumlah korban meninggal dalam peristiwa longsor tersebut mencapai 10 orang, sementara 18 orang masih dalam pencarian. Kerusakan pun tak sedikit, sebanyak 48 rumah roboh atau hilang, dan 195 rumah terdampak. Selanjutnya, ada 934 jiwa dari 335 keluarga yang harus mengungsi.
  5. Gunung Semeru di Jawa Timur mengeluarkan awan panas guuran pada 19 November 2025. Aktivitas vulkaniknya meningkat. Hampir 1.000 orang mengungsi terdiri dari 950 orang dari Kecamatan Pronojiwo dan Candipuro menempati sejumlah titik pengungsian.
  6. Disusul banjir bandang dan tanah longsor di Aceh,Sumatra Utara dan Sumatra Barat yang sudah 1000 orang lebih jadi korban.

Kesetiakawanan sosial telah ditunjukkan oleh bangsa ini. Dari berbagai unsur dan profesi, mereka  berempati, bergorong royong membantu saudara yang sedang tertimpa musibah. Memang banyak suara sumbang atas musibah ini, tetapi membantu secara nyata jauh lebih penting.

Ibu Pertiwi tengah bersedih, Ibu Pertiwi sedang menangis, Airmata Ibu Pertiwi berlinang. Karena itu, mari kita tunjukkan kesetiakawanan sosial nasional sebagai karakter Bangsa ini, agar kita bisa mengusap Air Mata Ibu Pertiwi agar tak berlinang lagi. (*)

Tinggalkan Balasan

Search