Dalam kehidupan yang penuh ujian dan godaan, istiqamah dan kesabaran adalah dua kekuatan yang dapat menghantarkan seorang hamba pada kabar gembira yang dijanjikan Allah.
Allah tidak menilai hasil semata, tetapi bagaimana proses itu dijalani dengan keikhlasan dan keteguhan. Kabar gembira bukan sekadar rezeki materi, tetapi juga berupa ketenangan batin, petunjuk hidup, hingga balasan surga di akhirat.
1. Makna Istiqamah: Keteguhan di Jalan Lurus
Istikamah berasal dari akar kata qaama yang berarti berdiri tegak. Secara istilah, istiqamah berarti konsisten dalam ketaatan kepada Allah, terus berada di jalan yang lurus tanpa menyimpang, meski menghadapi tantangan.
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Tuhan kami ialah Allah’, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati, dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu’” (QS Fussilat).
Dalam hadis, Rasulullah bersabda saat diminta nasihat yang ringkas namun bermakna:
“Katakanlah: ‘Aku beriman kepada Allah’, lalu beristikamahlah!”
(HR Muslim).
Makna istikamah bukan hanya bertahan dalam ibadah, tetapi juga dalam kejujuran, amanah, dan akhlak, baik dalam suka maupun duka. Ia adalah fondasi dari keimanan yang kokoh.
2. Kesabaran: Pilar Kekuatan
Kesabaran dalam Islam tidak berarti pasrah tanpa daya, tapi sebuah kekuatan jiwa untuk tetap taat, menahan diri dari maksiat, dan menerima takdir dengan lapang dada.
Nabi Muhammad saw bersabda: “Sabar adalah cahaya.” (HR Muslim).
Dan dalam Al-Qur’an, Allah menyebut kesabaran sebagai sebab dicurahkannya kasih sayang dan pertolongan-Nya:
“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS Al-Baqarah).
Pondasi kesabaran dalam tiga bentuk:
- Sabar dalam ketaatan
- Sabar menjauhi maksiat
- Sabar terhadap takdir dan musibah
Orang yang sabar akan diberi kecukupan pahala tanpa batas:
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahala mereka tanpa batas.” (QS Az-Zumar).
3. Buah dari Konsistensi dan Keteguhan
Kabar gembira yang dijanjikan Allah bukan untuk semua orang, tetapi bagi mereka yang memenuhi syarat: beriman, istiqamah, dan sabar. Kabar gembira itu datang di dunia dalam bentuk ketenangan jiwa, husnul khatimah, dan di akhirat berupa rida Allah serta surga.
Dari hadis sahih riwayat Bukhari-Muslim, Rasulullah bersabda:
“Tiada seorang pun yang bersabar atas musibah, kecuali Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik.” (HR Bukhari dan Muslim).
Dan dari Al-Qur’an: “Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS Al-Baqarah).
Kabar gembira ini bukan hanya janji kosong, tetapi bentuk keistimewaan dari Allah kepada mereka yang bersungguh-sungguh dalam imannya.
Istiqamah dan kesabaran adalah pasangan yang tak terpisahkan dalam meniti jalan iman. Siapa pun yang mampu mempertahankannya akan diganjar dengan kabar gembira yang hakiki.
Maka, tetaplah teguh dalam iman, sabar dalam ujian, dan yakinlah bahwa janji Allah adalah benar. (*)
