Pada suatu hari, seorang lelaki datang menemui Rasulullah saw. Wajahnya tampak letih. Langkahnya berat. Matanya menyiratkan keputusasaan.
Dia memohon bantuan, berharap Rasulullah memberinya sesuatu untuk meringankan beban hidupnya.
Di hadapan manusia termulia yang tak pernah menolak siapa pun, ia menggantungkan seluruh harapannya.
Namun, yang keluar dari lisan Rasulullah bukan sekadar pemberian materi, melainkan pelajaran hidup yang jauh lebih berharga.
Rasulullah memandang lelaki itu dengan penuh kasih, lalu bersabda:
“Sesungguhnya jika seseorang terus-menerus meminta kepada manusia, maka ia akan datang pada hari Kiamat dalam keadaan wajahnya tidak berdaging.” (HR. Muslim)
Bukan karena beliau tidak peduli, melainkan karena beliau ingin mengangkat derajat jiwa lelaki itu—agar dia tidak hidup dalam ketergantungan kepada makhluk, tetapi kembali menyandarkan harapan sepenuhnya kepada Sang Pencipta.
Pada kesempatan lain, Rasulullah saw memegang pundak Abdullah bin Abbas, yang saat itu masih sangat muda.
Dengan kelembutan seorang guru dan kekuatan visi seorang Nabi, beliau menanamkan prinsip agung dalam hati muridnya:
“Wahai anak kecil, aku ajarkan kepadamu beberapa kalimat: Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat berkumpul untuk memberikan suatu manfaat kepadamu, mereka tidak akan bisa memberikannya kecuali apa yang telah Allah tetapkan untukmu.” (HR. Tirmidzi)
Dua peristiwa ini menggambarkan fondasi ajaran Islam yang kokoh: bahwa menggantungkan harapan kepada manusia adalah kesia-siaan.
Sementara bergantung kepada Allah adalah keteguhan yang melahirkan kemerdekaan batin.
Rasulullah saw tak sekadar melarang ketergantungan, beliau menanamkan kepercayaan bahwa setiap manusia, seberapa pun lemahnya, memiliki nilai dan harga diri yang tidak boleh ditukar dengan belas kasihan makhluk lain.
***
Dalam gemuruh dunia modern, tak sedikit manusia yang menggantungkan seluruh harapan dan hidupnya kepada sesama manusia. Bukan kepada prinsip, bukan kepada nilai-nilai luhur, apalagi kepada Tuhan.
Mereka menjadikan kekuasaan dan sosok-sosok berpengaruh sebagai tumpuan. Sebagai pelita dalam gelapnya ambisi pribadi.
Maka, ketika kekuasaan itu retak, harapan mereka pun hancur. Ketika jabatan direbut, harga diri mereka ikut lenyap.
Mereka hidup dalam ketidakpastian. Selalu waswas. Selalu cemas. Karena sandaran hidup mereka rapuh. Tak ada keyakinan sejati dalam dada mereka. Karakter mereka sangat pragmatis.
Prinsip ditawar. Integritas dijual. Jalan pintas menjadi kebiasaan. Mereka bisa bersikap culas demi mendapatkan apa yang mereka butuhkan. Bisa profan ketika ingin mendapat tempat. Kebenaran tak lagi penting, selama ambisi pribadi bisa diraih.
Mereka inilah para penghamba kekuasaan. Mereka menjilat ke atas dan menginjak ke bawah. Mereka mengira bahwa kekuasaan adalah segalanya, padahal ia hanya ujian yang menyingkap siapa sejatinya manusia.
Lebih tragis lagi, banyak di antara mereka yang terbuai oleh janji-janji palsu. Mereka dilambungkan oleh angan-angan indah yang tak pernah nyata.
Mereka diberi harapan seolah akan diberi posisi, peran, atau tempat di lingkar kekuasaan, padahal kenyataannya hanya menjadi pion yang mudah dipinggirkan.
Seperti madu di ujung bibir—mereka hanya bisa meliriknya tanpa pernah mencicipi. Manisnya hanya bayangan, yang tersisa hanya kecewa dan kehampaan.
Allah SWT telah memperingatkan dalam firman-Nya:
“Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya).” (QS. At-Talaq: 3)
Namun orang-orang ini justru bersandar pada makhluk, bukan pada Sang Khalik. Mereka berikhtiar bukan karena iman, tetapi karena takut tersingkir dari arena kekuasaan.
Mereka lupa bahwa manusia hanyalah makhluk yang lemah, berubah-ubah, dan tidak punya kuasa mutlak atas nasib orang lain.
Rasulullah saw menegaskan:
“Barang siapa mencari keridhaan Allah walaupun manusia murka, maka Allah akan meridhainya dan menjadikan manusia juga meridhainya. Namun, barang siapa mencari keridhaan manusia dengan mengundang kemurkaan Allah, maka Allah akan murka kepadanya dan akan menjadikan manusia juga murka kepadanya.” (HR. Ibn Hibban dan Tirmidzi)
Betapa banyak di antara mereka yang rela menjual kejujuran hanya untuk mendapat simpati penguasa.
Mereka tersenyum manis di hadapan yang berkuasa, namun penuh siasat licik di belakang layar.
Mereka bukan sekadar takut kehilangan jabatan. Mereka merasa tak punya nilai tanpa jabatan itu. Jabatan telah menjadi identitas. Menjadi agama baru yang mereka sembah.
Padahal Nabi Muhammad saw bersabda:
“Sesungguhnya kamu sekalian akan sangat tamak terhadap jabatan, dan jabatan itu akan menjadi penyesalan pada hari Kiamat. Jabatan itu awalnya adalah kenikmatan, tetapi akhirnya adalah penyesalan.” (HR. Bukhari)
Sungguh ironis. Mereka mengejar jabatan seakan-akan itu kehidupan abadi. Padahal semua itu hanyalah titipan, yang kelak akan diambil kembali—sering kali tanpa pemberitahuan.
Allah SWT memperingatkan dalam firman-Nya:
“Barang siapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia ini apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki. Kemudian Kami sediakan baginya neraka Jahannam.” (QS. Al-Isra: 18)
***
Esai ini bukan untuk mencibir. Bukan pula untuk mencaci. Ini ajakan untuk introspeksi. Terutama bagi penulis sendiri. Sebuah pengingat yang lahir dari kegelisahan. Bahwa menggantungkan hidup kepada manusia hanyalah menjemput kekecewaan. Yang tak berkesudahan
Sebab, hidup yang bersandar pada makhluk akan selalu rapuh dan gamang. Ia mudah goyah oleh penolakan, mudah retak oleh pengkhianatan.
Dan mengejar jabatan dengan mengorbankan integritas adalah jalan sunyi yang berujung pada kehancuran batin. Perlahan, namun pasti.
Kita harus kembali pada akar iman: bahwa hanya kepada Allah kita bergantung. Nilai seseorang tak ditentukan oleh jabatan atau pengaruh, tapi oleh kejujuran hatinya dan keberaniannya untuk berdiri di sisi kebenaran, walau harus sendirian.
Semoga kita dijauhkan dari godaan untuk menggadaikan harga diri demi kedudukan. Dan semoga kita diberi kekuatan untuk tetap teguh memegang prinsip, meski arus dunia terus mendorong ke arah sebaliknya.
Wallahu a‘lam bish-shawab. (*)
