Kebenaran dan kebatilan adalah dua kutub yang berlawanan dan takkan pernah bisa disatukan, apalagi dikompromikan.
Keduanya ibarat cahaya dan kegelapan—tak mungkin berada dalam satu ruang tanpa salah satunya sirna. Setiap insan yang memiliki akal sehat dan hati nurani dituntut untuk memilih dengan tegas: berpihak kepada kebenaran atau terjerumus dalam kebatilan.
Orang yang berpikir jernih tentu akan memilih kebenaran, karena kebenaran adalah fitrah jiwa yang bersih. Namun, dalam realitas kehidupan hari ini, keberpihakan terhadap kebenaran semakin langka.
Banyak orang yang memilih diam, membisu, bahkan berpaling, karena tekanan lingkungan, kekhawatiran akan kehilangan kedudukan, atau semata demi kenyamanan duniawi.
Padahal, setiap orang yang mengaku beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala hendaknya menunjukkan keberpihakan yang jelas terhadap kebenaran.
Kebenaran itu kini mulai pudar, lentur, dan bahkan luntur di tengah masyarakat. Terlalu sedikit yang berani menegakkan kebenaran secara terang-terangan.
Mereka yang bersuara sering dianggap aneh, dicibir, bahkan dikucilkan. Tetapi ingatlah, kebenaran tetaplah kebenaran, meski hanya sedikit yang membelanya. Dan kebatilan tetaplah kebatilan, meski banyak yang mendukung dan memujanya.
Benar, keberpihakan kita tidak akan mengubah takdir Allah Azza Wa Jalla. Namun sikap kita menentukan di posisi mana kita berdiri di hadapan-Nya.
Apakah kita termasuk orang-orang yang membela kebenaran, ataukah justru termasuk mereka yang memihak kebatilan, bahkan dengan diam sekalipun.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan katakanlah, ‘Kebenaran telah datang dan yang batil telah lenyap.’ Sungguh, yang batil itu pasti lenyap.”
(QS. Al-Isra’: 81)
“Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.”
(QS. Al-Baqarah: 147)
“Dan katakanlah, ‘Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu.’”
(QS. Al-Kahfi: 29)
“Hal itu karena sesungguhnya Allah sajalah yang haq dan sesungguhnya Dialah yang menghidupkan segala yang mati dan sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
(QS. Al-Hajj: 6)
Al-Imam Abu Ishaq Ibrahim bin Musa asy-Syathibi rahimahullah berkata:
“Akal, jika tidak mengikuti syariat, maka yang tersisa hanyalah hawa nafsu dan syahwat.”
(Al-I’tisham, Jilid 1, hal. 51)
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah mengingatkan bahwa di akhir zaman, kebaikan akan semakin sedikit, sementara kebatilan dan kemungkaran akan semakin merajalela.
Fitnah syubhat—yang membingungkan antara yang benar dan salah—dan fitnah syahwat—yang menjauhkan dari kebenaran karena keinginan duniawi—akan menguasai hati banyak manusia.
Rasulullah bersabda:
“Akan datang suatu masa, di mana orang yang bersabar berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.”
(HR. At-Tirmidzi no. 2260)
Di tengah gempuran zaman seperti itu, kita dituntut untuk tetap istiqamah, teguh memegang kebenaran. Walau berat, walau penuh risiko, namun itulah jalan yang diridhai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata:
“Dunia ini adalah tempat beramal, sedangkan akhirat adalah tempat pembalasan. Maka barang siapa yang tidak beramal di dunia, niscaya ia akan menyesal di akhirat.”
(Az-Zuhd, al-Baihaqy no. 725)
Dunia ini adalah ladang untuk menanam amal. Tanamlah kebaikan, siramilah dengan keikhlasan, dan rawatlah dengan kesabaran. Suatu saat, kita pasti akan memetik hasilnya dalam bentuk pahala dan keridhaan Allah di akhirat kelak.
Bersyukurlah atas setiap nikmat dan bersabarlah atas setiap ujian. Allah Azza Wa Jalla tidak pernah menzalimi hamba-Nya. Segala sesuatu telah ditetapkan dengan kebijaksanaan dan keadilan-Nya.
Hidup ini ibarat gelombang laut yang terkadang tenang, terkadang mengguncang. Tapi yakinlah, setelah badai, pasti datang ketenangan. Jangan pernah berputus asa, karena di balik semua peristiwa, ada kehendak dan kasih sayang Allah yang tak terbatas.
Semoga Allah Azza Wa Jalla senantiasa mencurahkan hidayah-Nya kepada kita semua, agar kita mampu tetap istiqamah berada di jalan kebenaran, hingga akhir hayat. Sebab itulah jalan satu-satunya menuju ridha dan surga-Nya.
Aamiin Yaa Rabbal ‘Aalamiin. (*)
