Menjaga Hati dari Syubhat dan Pemikiran Menyimpang

*) Oleh : Ferry Is Mirza DM
Jurnalis Senior dan Aktivis Muhammadiyah
www.majelistabligh.id -

Syaikh Yahya bin Ali Al-Hajuri pernah berkata:

“Janganlah kamu bersandar pada kecerdasan atau kepandaianmu ketika duduk bersama ahli bid‘ah, dan jangan pula bersandar pada kekuatan imanmu. Hendaklah kamu menjauh dari mereka, baik itu Dajjal maupun para pendusta lainnya.”

Kesimpulannya, para ahli bid‘ah dan pendusta dapat menyesatkan seseorang dari kebenaran.

Perkataan Syaikh Yahya hafizhahullah ini adalah nasihat agar seorang Muslim tidak terlalu percaya diri ketika berhadapan dengan ahli bid‘ah atau pembawa pemikiran sesat, meskipun merasa pintar atau memiliki iman yang kuat.

Syubhat (kerancuan pemikiran) yang dibawa oleh ahli bid‘ah bisa menipu hati, dan sering kali seseorang tidak sadar bahwa dirinya telah terpengaruh.

Bahkan Nabi shallallahu alaihi wasallam memerintahkan umatnya untuk menjauh dari fitnah Dajjal, padahal beliau adalah manusia yang paling kokoh imannya.

Faedah atau pelajaran yang dapat diambil:

  • Wajib menjauh dari majelis ahli bid‘ah demi menjaga kemurnian akidah.
  • Tidak boleh tertipu dengan kecerdasan atau kekuatan iman sendiri, karena syubhat dapat merusak hati siapa pun.

Syubhat sering memiliki daya tarik tersembunyi, sehingga pencegahan lebih baik daripada mengobati.

Peringatan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam tentang fitnah Dajjal menunjukkan bahwa sekuat apa pun iman seseorang, ia tetap diperintahkan untuk menjauh dari sumber fitnah.

Kaidah umum: “Menjaga diri dari sumber kesesatan lebih aman daripada menguji diri dengan mendatanginya.”

Dalil-dalil pendukung:

Larangan menghadiri majelis kebatilan
Allah Ta‘ala berfirman:

“Dan sungguh Dia (Allah) telah menurunkan kepada kalian di dalam Al-Kitab, bahwa apabila kalian mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olok, maka janganlah kalian duduk bersama mereka, sampai mereka berbicara pada pembicaraan yang lain.” (QS. An-Nisā’ : 140)

Perintah menjauh dari fitnah Dajjal
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“Barangsiapa mendengar tentang Dajjal, hendaklah ia menjauh darinya. Demi Allah, seseorang mendatanginya dengan mengira dirinya beriman, lalu ia mengikutinya karena terpengaruh syubhat yang dibawanya.” (HR. Abu Dawud no. 4319, dishahihkan Syaikh Al-Albani)

Larangan bermajelis dengan ahli bid‘ah
Al-Imam Al-Fudhoil bin ‘Iyadh berkata:

“Barangsiapa duduk bersama ahli bid‘ah, maka waspadalah terhadapnya.” (Al-Ibānah, 2/476)

Syubhat dapat menyesatkan siapa saja
Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu sekaligus dari manusia, tetapi mencabutnya dengan mewafatkan para ulama. Hingga jika tidak tersisa seorang alim pun, manusia mengangkat pemimpin-pemimpin bodoh; mereka ditanya, lalu memberi fatwa tanpa ilmu. Maka mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Bukhari no. 100, Muslim no. 2673)

Hadits ini menunjukkan bahwa kesesatan muncul ketika ilmu agama yang benar berkurang, lalu kebodohan dan syubhat mengambil alih.

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberi kita hidayah dan taufik untuk istiqamah di atas agama yang benar serta menjauhkan kita dari segala hawa nafsu yang sesat dan menyimpang. Āmīn. (*)

Tinggalkan Balasan

Search