Di penghujung zaman, umat manusia menghadapi berbagai ujian dan tantangan yang sangat kompleks. Fitnah—yang dalam Islam tidak sekadar bermakna tuduhan dusta, tetapi juga berarti ujian dan cobaan dalam berbagai bentuk—semakin merajalela.
Baik di dunia nyata maupun di dunia maya, manusia terus dihadapkan pada godaan yang bisa melemahkan keimanan dan mengaburkan kebenaran.
Sejak berabad-abad yang lalu, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah memperingatkan umatnya akan datangnya masa penuh fitnah.
Rasulullah menekankan pentingnya bekal keimanan yang kokoh dan hati yang teguh dalam menghadapi zaman yang penuh dengan kekacauan moral dan krisis spiritual ini.
Ulama besar, Ibnu Arabi, menjelaskan makna fitnah secara mendalam. Dalam pandangannya, fitnah tidak hanya terbatas pada satu jenis ujian, melainkan mencakup berbagai hal yang dapat menggoyahkan keyakinan seseorang. Ia berkata:
“Fitnah bermakna ujian, fitnah bermakna cobaan, fitnah bermakna harta, fitnah bermakna anak-anak, fitnah bermakna kekafiran, fitnah bermakna perselisihan pendapat di antara manusia.” (Lisanul Arab, Ibnu Mandzur al-Ifriqi, 13/317)
Dengan begitu banyaknya bentuk fitnah, seorang Muslim sejatinya harus senantiasa kembali kepada Allah Azza wa Jalla, menguatkan hubungan spiritualnya melalui doa, zikir, dan ibadah yang istikamah.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sendiri memberikan teladan yang sangat jelas tentang pentingnya memohon perlindungan kepada Allah dari fitnah-fitnah akhir zaman.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda:
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur, dari azab neraka, dari fitnah kehidupan dan kematian, serta dari fitnah al-Masih Dajjal.” (HR. Al-Bukhari)
Salah satu ulama besar Islam, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, dalam kitabnya Ighatsatul Lahfan, menyebutkan bahwa satu-satunya obat untuk menghadapi fitnah adalah sabar.
Menurutnya, kesabaran adalah penempa diri yang paling efektif, seperti halnya api membakar logam untuk mengeluarkan emas dan perak yang murni.
Fitnah adalah alat uji kejujuran keimanan seseorang; siapa yang bersabar, maka ia akan keluar darinya sebagai mukmin sejati yang tangguh dan tulus.
Lebih dari itu, menyibukkan diri dalam ketaatan kepada Allah di tengah zaman yang penuh fitnah merupakan langkah strategis untuk menjaga keimanan.
Orang yang menyegerakan amal saleh akan memiliki benteng spiritual yang kokoh, sehingga tidak mudah goyah oleh tipu daya dunia dan godaan setan.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berpesan dalam sabdanya:
“Bersegeralah beramal sebelum datangnya fitnah yang bagaikan potongan-potongan malam yang gelap gulita. Seseorang di pagi harinya masih beriman, namun di sore harinya telah menjadi kafir; atau sorenya beriman, tapi pagi harinya telah menjadi kafir. Ia menjual agamanya demi secuil dunia.” (HR. Muslim)
Hadits ini adalah peringatan keras bahwa iman seseorang bisa sangat rapuh bila tidak dilandasi dengan amal shaleh yang konsisten dan kesabaran yang tulus.
Dunia hari ini telah membuktikan betapa cepatnya perubahan nilai dan betapa mudahnya orang tergelincir dalam kemaksiatan—bahkan hanya dengan satu klik di layar ponsel.
Maka dari itu, sabar bukanlah sikap pasif, melainkan sebuah kekuatan aktif yang membuat seseorang tetap teguh dalam kebenaran.
Sabar menghadapi fitnah berarti tetap berpegang teguh pada prinsip Islam meskipun lingkungan sekitar mendorong kepada kebatilan.
Sabar berarti tetap jujur saat kejujuran dianggap bodoh, tetap lurus saat kebohongan dianggap cerdas, dan tetap taat saat kebebasan tanpa batas menjadi tren.
Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang diberi kesabaran dalam menghadapi fitnah, dan senantiasa dilindungi oleh Allah dari godaan yang menyesatkan di akhir zaman ini. (*)
