Menjaga Kebugaran Selama Puasa dengan Olahraga Ringan

*) Oleh : Suharto Fauzan
Simpatisan Muhammadiyah Surabaya
www.majelistabligh.id -

Menjalani ibadah puasa bukan berarti kita harus mengurangi aktivitas fisik. Justru menjaga tubuh tetap bergerak melalui olahraga ringan dapat menjadi strategi untuk menjaga kebugaran dan metabolisme tetap optimal di tengah perubahan pola makan.

Meski tantangan seperti rasa haus dan lemas sering kali membayangi, olahraga saat berpuasa sebenarnya menyimpan segudang manfaat bagi kesehatan jantung hingga pengelolaan berat badan. Dengan pengaturan waktu yang tepat dan intensitas yang terukur, kita tidak hanya mampu mempertahankan stamina, tetapi juga meraih manfaat detoksifikasi tubuh yang lebih maksimal di bulan suci ini.

Memilih jalan santai setelah sahur adalah langkah cerdas untuk memulai hari dengan energi positif tanpa menguras cadangan tenaga secara berlebihan. Udara pagi yang masih segar dan bersih tidak hanya memberikan ketenangan pikiran, tetapi juga membantu tubuh tetap aktif bergerak sebelum matahari mulai terik. Aktivitas intensitas rendah ini sangat ideal dilakukan saat berpuasa karena tidak memicu rasa haus yang berlebihan, namun tetap efektif dalam menjaga kelenturan otot dan sendi.

Dari sisi kesehatan, jalan santai setelah makan sahur berperan besar dalam melancarkan proses pencernaan dan mencegah rasa kantuk berlebih akibat lonjakan gula darah. Gerakan tubuh yang stabil membantu metabolisme bekerja lebih efisien dalam membakar kalori dan mendistribusikan nutrisi ke seluruh tubuh. Selain itu, aktivitas ini juga memicu pelepasan hormon endorfin yang mampu meningkatkan suasana hati (mood), sehingga Anda tetap fokus dan produktif dalam menjalani rutinitas harian hingga waktu berbuka tiba.

Meskipun olahraga ringan seperti jalan santai sangat bermanfaat, kita tidak wajib melakukannya setiap hari selama berpuasa, karena tubuh tetap membutuhkan waktu untuk pemulihan. Mengingat asupan nutrisi dan cairan yang terbatas, memberikan jeda istirahat sebanyak 1 hingga 2 hari dalam seminggu justru membantu mencegah kelelahan kronis dan menjaga keseimbangan metabolisme. Kuncinya adalah kualitas dan konsistensi, bukan kuantitas yang dipaksakan. Tujuan kita adalah stamina tetap stabil hingga akhir bulan Ramadan.

Selain jalan santai, yoga atau peregangan ringan merupakan opsi cerdas untuk menjaga kebugaran tanpa menguras banyak energi. Fokus pada pernapasan dan gerakan yang tenang membantu tubuh tetap fleksibel serta mengurangi ketegangan otot yang sering muncul akibat perubahan pola tidur selama puasa. Karena intensitasnya yang rendah, aktivitas ini sangat aman dilakukan di sore hari menjelang berbuka untuk mengalihkan rasa lapar sekaligus menenangkan pikiran dari stres pekerjaan.

Pilihan lain yang tak kalah efektif adalah bersepeda santai dengan rute datar di sekitar lingkungan rumah. Bersepeda membantu menjaga kesehatan kardiovaskular dan kekuatan otot kaki tanpa memberikan beban berlebih pada sendi, asalkan dilakukan dengan durasi terbatas sekitar 20 hingga 30 menit. Dengan memilih jenis olahraga yang tidak memicu keringat berlebih, kita tetap bisa menjaga metabolisme tubuh tetap aktif sehingga badan tidak terasa lemas atau kaku selama menjalani ibadah.

Waktu untuk olahraga juga perlu diperhatikan. Mengelola waktu olahraga saat puasa adalah menyelaraskannya dengan ritme energi tubuh agar tidak terjadi dehidrasi atau kelelahan ekstrem. Banyak ahli menyarankan untuk berolahraga sekitar 30 hingga 60 menit sebelum berbuka puasa, sehingga tubuh yang kehilangan cairan bisa segera terhidrasi kembali saat azan berkumandang. Namun, jika Anda bukan tipe orang yang kuat beraktivitas saat perut kosong, melakukan olahraga ringan 1-2 jam setelah berbuka juga menjadi pilihan bijak karena tubuh sudah mendapatkan asupan nutrisi untuk membakar energi.

Selain pemilihan jam, konsistensi dan durasi yang terukur jauh lebih penting daripada intensitas yang tinggi. Alih-alih memaksakan durasi panjang, cukup lakukan aktivitas fisik selama 20 hingga 30 menit secara rutin agar metabolisme tetap terjaga tanpa mengganggu kualitas ibadah lainnya. Dengan membagi waktu secara disiplin dan mendengarkan sinyal tubuh, Anda dapat tetap meraih kebugaran maksimal tanpa harus mengorbankan kekhusyukan dan kesehatan selama bulan suci Ramadan. (*)

Tinggalkan Balasan

Search