Salah satu kewajiban utama bagi setiap muslim adalah menjaga dua jenis hubungan yang sangat penting, yaitu Habluminallah (hubungan dengan Allah) dan Habluminannas (hubungan dengan sesama manusia).
Kedua aspek ini merupakan fondasi dari keislaman yang utuh dan seimbang. Islam tidak hanya mengajarkan tentang ibadah vertikal kepada Sang Pencipta, tetapi juga menekankan pentingnya akhlak dan interaksi sosial yang baik kepada sesama.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
“Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling bagus akhlaknya.”
(HR. At-Tirmidzi, No. 2612, shahih)
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menganugerahkan kita begitu banyak kenikmatan. Kesehatan, rezeki, perlindungan, pertolongan, akal, ilmu, kreativitas, dan berbagai nikmat lainnya adalah karunia yang tak terhingga.
Semua ini menuntut kita untuk senantiasa bersyukur dan memperbaiki hubungan kita dengan Allah.
Kita seharusnya merasa malu jika mengabaikan perintah-Nya, menunda-nunda kewajiban, atau bahkan malas dalam beribadah.
Justru, kesadaran atas nikmat-nikmat tersebut seharusnya mendorong kita untuk lebih bertakwa, tunduk, dan taat kepada-Nya.
Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an:
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”
(QS. Az-Zariyat: 56)
Ayat ini menjadi pedoman utama dalam menjalani Habluminallah. Kita diciptakan untuk beribadah, mengingat Allah, memohon ampunan-Nya, dan mengharapkan rida-Nya dalam setiap aspek kehidupan.
Selain menjaga hubungan dengan Allah, seorang muslim juga diwajibkan untuk memperbaiki hubungan dengan sesama manusia. Ini meliputi keluarga, tetangga, teman, rekan kerja, dan masyarakat secara umum.
Akhlak yang mulia, sikap jujur, keadilan, tolong-menolong, dan kasih sayang adalah bentuk implementasi dari Habluminannas.
Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang diharapkan kebaikannya dan orang lain merasa aman dari kejelekannya.”
(HR. At-Tirmidzi, No. 2263)
Dengan akhlak yang baik, seorang muslim menjadi sumber kedamaian dan kebaikan bagi lingkungannya. Dalam kehidupan bermasyarakat, sangat penting untuk menjaga tutur kata, perilaku, dan empati terhadap sesama. Jangan sampai kesalehan ritual tidak diimbangi dengan kesalehan sosial.
Dalam ibadah salat yang kita lakukan lima kali sehari, terdapat simbol hubungan vertikal dan horizontal. Salat diawali dengan takbiratul ihram—sebagai bentuk penyerahan diri kepada Allah—dan ditutup dengan salam—yakni doa keselamatan untuk seluruh makhluk di muka bumi.
Hal ini menunjukkan bahwa dalam satu ibadah, Islam telah mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan antara hubungan dengan Sang Pencipta dan hubungan dengan sesama.
Allah menjanjikan balasan yang luar biasa bagi mereka yang bertakwa, yaitu ampunan dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi.
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabb-mu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. Yaitu orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.”
(QS. Ali ‘Imran: 133-134)
Seorang muslim sejati adalah mereka yang mampu menjaga keseimbangan antara Habluminallah dan Habluminannas.
Keimanan yang kuat tidak hanya tercermin dari rajinnya beribadah, tetapi juga dari akhlaknya yang mulia kepada sesama.
Marilah kita terus berupaya memperbaiki kedua hubungan ini, karena keduanya merupakan jalan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. (*)
