*) Oleh: Dr. Ajang Kusmana
Waktu adalah seluruh rangkaian saat ketika proses, perbuatan, atau keadaan berada atau berlangsung. Atau bisa merupakan lama berlangsungnya suatu kejadian.
Imam Al Ghazali rahimahullahu menjelaskan tentang makna waktu
قال الإمام الغزالي رحمه الله :
أربع لا يعرف قدرها إلا أربعة :
لا يعرف قدر الحياة إلا الموتى،
ولا قدر الصحة إلا أهل السقم،
ولا قدر الشباب إلا أهل الهرم،
ولا قدر الغنى إلا أهل الفقر.
Imam Al Ghazali rahimahullahu berkata: Tidak akan mengerti berharganya 4 hal kecuali 4 orang: Tidak akan mengerti berharganya kehidupan kecuali orang yang sudah wafat, tidak mengerti berharganya sehat kecuali orang yang sudah sakit, tidak mengerti berharganya masa muda kecuali orang yang sudah tua, tidak mengerti berharganya masa kaya kecuali orang yang sudah fakir…
Imam al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata:
اِبْنَ آدَمَ إِنَّمَا أَنْتَ أَيَّامٌ كُلَّمَا ذَهَبَ يَوْمٌ ذَهَبَ بَعْضُكَ
“Wahai Ibnu Adam (manusia), kamu itu hanyalah (kumpulan) hari-hari, tiap-tiap satu hari berlalu, hilang (adanya kematian) sebagian dirimu.” (Riwayat Abu Nu’aim dalam Hilyatul-Auliya)
Berikut kisah ilustrasi dalam hal mengelola waktu, kaitannya dengan sikap keberagamaan kita.
Dikisahkan ada seorang anak kecil bertanya pada ayahnya: “Ayah, bisakah selama hidup, kita tidak berbuat dosa?”
Ayahnya menjawab sepertinya tidak mungkin, Nak..”
“Mungkinkah jika setahun saja kita tidak berbuat dosa sama sekali?” anak kecil itu bertanya lagi dan ayahnya menjawab dengan jawaban yang sama.
“Bagaimana jika sebulan saja, kita melewati hidup ini tanpa berbuat dosa, bisakah Ayah?” tanyanya lagi pada ayahnya.
Lagi-lagi ayahnya menjawab, “Sepertinya juga tidak mungkin sayang…”
Anak kecil itu terus mengejar dengan pertanyaan, “Bagaimana jika seminggu atau sehari tidak berbuat dosa?”
Dan ayahnya menjawab dengan jawaban yang hampir sama.
Akhirnya ia bertanya, “Bagaimana jika sedetik saja kita tidak berbuat dosa? Bisakah Ayah?” Kali ini ayahnya tersenyum lebar dan menjawab, “Sepertinya itu masuk akal dan bisa dilakukan Nak.”
Anak kecil itupun gembira dan berkata, “Kalau begitu, aku mau menjaga detik demi detik hidup yang aku jalani agar aku terhindar dari berbuat dosa. Aku rasa menjalani hidup detik demi detik itu jauh lebih mudah kan, Ayah?”
Subhaanallah,
Memang begitulah seharusnya kita jalani hidup ini. Detik demi detik dengan terus menjaga kesucian diri, dengan kesabaran, ketabahan dan keikhlasan hingga nanti menghadap menemui Allah Azza wa Jalla. (*)
Untuk mendapatkan update cepat silakan berlangganan di Google News
