Sesungguhnya Manusia Itu Dalam Kerugian (Ayat 2)
Di dalam masa yang dilalui itu nyatalah bahwa manusia hanya rugi selalu. Dalam hidup melalui masa itu tidak ada keuntungan sama sekali. Hanya rugi jua yang didapati. Sehari mulai lahir ke dunia, di hari itu juga usia sudah kurang satu hari. Setiap hari dilalui, sampai hitungan bulan dan tahun, dari muda ke tua, hanya kerugian jua yang dihadapi.
Di waktu kecil senanglah badan dalam pengakuan ibu, itu pun rugi karena belum merasai arti hidup. Setelah mulai dewasa bolehlah berdiri sendiri, beristri atau bersuami. Sebab hidup mulai bergantung kepada tenaga dan kegiatan sendiri, tidak lagi ditanggung orang lain.
Sampai kepada kepuasan bersetubuh suami istri yang berlaku dalam beberapa menit, untuk membuahkan anak yang akan dididik dan diasuh, menjadi tanggungjawab sampai ke sekolahnya dan perguruannya selama bertahun-tahun.
Di waktu badan masih muda dan gagah perkasa, harapan masih banyak. Tetapi bilamana usia mulai lanjut, barulah kita Insaf bahwa tidaklah semua yang kita angankan di waktu muda telah tercapai.
Banyak pengalaman di masa muda telah menjadi kekayaan jiwa setelah tua. Kita berkata dalam hati supaya bekerja begini, jangan ditempuh jalan ini itu, begini mengurusnya, begitu melakukannya, tetapi kita tidak ada tenaga lagi buat mengerjakannya sendiri. Setinggi-tingginya hanyalah menceritakan pengalaman itu kepada yang muda. Pengalaman itu mahal sekali.
Sesudah itu kita bertambah ‘nyanyuk’, bertambah sepi, bahkan kadang-kadang bertambah menjadi beban buat anak cucu. Sesudah itu kita pun mati.
Itu juga kalau umur Panjang. Kalau usia pendek, kerugian bisa lebih besar lagi. Belum ada amal apa-apa kita pun sudah pergi.
Kecuali Orang yang Beriman (Pangkal Ayat 3)
Yang tidak akan merasakan kerugian dalam masa hanyalah orang-orang beriman. Orang-orang yang mempunyai kepercayaan bahwa hidupnya ini adalah atas kehendak Allah Yang Maha Kuasa. Manusia dating ke dunia sementara waktu, namun masa yang sementara itu dapat diisi dengan baik karena ada kepercayaan, ada tempat berlindung. Iman menyebabkan manusia Insaf dari mana datangnya.
Iman menimbulkan keinsafan tentang guna kehidupan ini, yaitu untuk berbakti kepada Sang Maha Pencipta, dan berbagi kebaikan kepada sesama manusia. Iman menimbulkan keyakinan bahwasanya sesudah hidup yang sekarang ini ada lagi hidup yang lain, itulah hidup sebenarnya, hjdup yang baqa. Di sana kelak segala sesuatu yang kita lakukan selama masa hidup di dunia ini akan diberi nilai oleh Allah.
“Dan beramal yang saleh” bekerja yang baik dan berfaedah. Sebab hidup itu adalah suatu kenyataan, mati pun kenyataan pula dan manusia yang di sekeliling kita pun suatu kenyataan. Yang baik terpuji di sini, yang buruk merugikana diri sendiri dan merugikan orang lain.
