Menjalani Hidup Tanpa Penyesalan: Hikmah di Balik Waktu

www.majelistabligh.id -

Sinar iman yang telah tumbuh dalam jiwa dan telah menjadi keyakinan, dengan sendirinya menimbulkan perbuatan yang baik. Dalam kandungan perut ibu tubuh kita bergerak. Untuk lahir ke dunia kita pun bergerak. Maka hidup itu sendiri pun adalah gerak. Gerak itu adalah gerak maju.

Berhenti sama dengan mati. Mengapa kita akan berdiam diri? Mengapa kita akan menganggur? Tabiat tubuh kita sendiri adalah bergerak dan bekerja. Kerja hanyalah satu dari dua, kerja baik atau kerja jahat. Setelah kita meninggalkan dunia ini, kita menghadapi dua kenyataan: kenang-kenangan orang yang tinggal dan Kembali ke hadirat Allah.

Kalau kita beramal saleh di masa hidup, namun setelah mati kenangan kita akan tetap hidup berlama masa. Kadang-kadang kenangan itu hidup lebih lama daripada masa hidup jasmani kita sendiri. Dan sebagai mukmin kita percaya bahwa di sisi Allah amalan yang kita tinggalkan itulah kekayaan yang akan kita hadapkan ke hadirat Ilahi. Sebab itu tidaklah rugi masa hidup kita.

“Dan Berpesan-Pesanan dalam Kebenaran”

Karena nyatalah sudah bahwa hidup yang Bahagia itu adalah hidup bermasyarakat. Hidup nafsi-nafsi adalah hidup yang sangat rugi. Maka hubungkanlah tali kasih sayang dengan sesama manusia, beri memberi ingat akan kebenaran. Supaya yang benar itu dapat dijunjung tinggi Bersama. Ingat memperingatkan pula mana yang salah, supaya yang salah itu sama-sama dijauhi.

Dengan demikian beruntunglah masa hidup. Tidak akan pernah merasa rugi. Karena setiap pribadi merasakan bahwa dirinya tidaklah terlepas dari ikatan Bersama. Bertemulah pepatah yang terkenal,”Duduk seseorang bersempit-sempit, duduk ramai berlapang-lapang.” Dan rugilah orang yang menyendiri, yang menganggap kebenaran hanya untuk dirinya seorang.

Dan Berpesan-Pesanan dalam Kesabaran.” (Ujung Ayat 3)

Tidaklah cukup kalau hanya berpesan-pesan tentang nilai-nilai kebenaran. Sebab hidup di dunia ini bukanlah jalan datar saja. Kerap kali kaki ini terantuk duri, teracung kerikil. Cobaan terlalu banyak. Kesusahan kadang-kadang sama banyaknya dengan kemudahan. Banyaklah orang yang rugi karena dia tidak tahan menempuh kesukaran dan halangan hidup. Dia rugi sebab dia mundur, atau dia rugi sebab dia tidak berani maju. Dia berhenti di Tengah perjalanan. Padahal berhenti artinya pun mundur. Sedang umur berkurang juga.

Di dalam Al-Qur’an banyak diterangkan bahwa kesabaran hanya dapat dicapai oleh orang yang kuat jiwanya (surat Fushilat ayat 35). Orang yang lemah akan rugilah.

Maka daripada pengecualian yang empat ini, 1. Iman. 2. Amal Saleh. 3. Ingat mengingat tentang kebenaran. 4. Ingat mengingat tentang kesabaran, maka kerugian yang mengancam masa hidup itu pastilah dapat dielakkan. Kalau tidak ada syarat yang empat ini rugilah seluruh masa hidup.

Ibnul Qayyim dalam kitabnya “Miftahu Daris Sa’adah” menerangkan, ”Kalau keempat martabat telah tercapai oleh manusia, dapat hasil menuju kesempurnaan hidup. Pertama, mengetahui kebenaran. Kedua, mengamalkan kebenaran itu. Ketiga, mengajarkannya kepada orang yang belum pandai menjalankannya. Keempat, sabar dalam menyesuaikan diri dengan kebenaran, dalam mengamalkan dan mengajarkannya. Jelaslah susunan yang empat itu di dalam surah ini…”

Sumber:

  • Hamka, Tafsir Al Azhar (9), Jakarta: Gema Insani, 2017.

Untuk mendapatkan update cepat silakan berlangganan di Google News

Tinggalkan Balasan

Search