Tidak dapat dipungkiri bahwa hati adalah jendela jiwa, maka kata hati dan bahasa kalbu tidak pernah bisa dibohongi.
Semakin berontak kita terhadap kata hati, akan semakin gelisah jiwa kita. Selamilah bahasa hati, niscaya akan kita temukan kedamaian. Karena bahasa hati adalah bahasa kebenaran. Bahasa hati adalah bahasa kearifan.
Marilah kita meraih kearifan intelektual dan spiritual dengan mendengar apa kata hati, dan marilah kita luangkan sejenak waktu untuk merenung memahami hakikat diri.
Janganlah memaki di kala emosi. Janganlah menyumpah di kala marah. Janganlah berkata di kala murka.
Endapkan semua ke dalam hati. Selami segalanya karena kehendak Allah Azza wa Jalla. Serahkan segala peristiwa karena kehendak Allah Azza wa Jalla. Janganlah turuti pemuasan nafsu diri yang hanya untuk pelampiasan sesaat…
Hidup di alam fana hanyalah sementara. Ingatlah bahwa hidup tetap berlanjut di alam selanjutnya. Tentukanlah langkah terbaik, jangan sampai salah, karena tak bisa menahan diri dari nafsu duniawi…
Ada suatu pertanyaan yang barangkali sering muncul di tengah amaliah ibadah kita: sudah sepantasnyakah kita meraih surga?
قال الحافظ ابن رجب – رحمه الله – :
آدم أُخرج من الجنة بذنب واحد ، وأنتم تعملون الذنوب وتكثرون منها وتريدون أن تدخلوا بها الجنة
[ لطائف المعارف (٨١) ]
Al-Imam Al-Hafidz Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah pernah berkata:
“Nabi Adam ‘alaihis salam, beliau dikeluarkan dari surga oleh Allah disebabkan satu dosa yang dilakukan oleh beliau.
Sedangkan kalian wahai kaum Muslimin, melakukan dosa-dosa dan memperbanyaknya, tetapi bersamaan dengan itu pula kalian menginginkan meraih surga dengan membawa dosa-dosa tersebut.
Pantaskah hal itu ? Tidak malukah kalian kepada Allah ?”
(Latha’iful Ma’arif, hlm. 18, karya Al-Imam Al-Hafidz Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah)
Ini adalah nasihat dan teguran yang sangat lembut untuk kita semua, yang tentunya bercita-cita dan berharap meraih surga, tetapi amalannya masih penuh dosa dan maksiat, tanpa diiringi taubat dan istighfar, memohon ampunan kepada Allah Azza wa Jalla.
Atau bagi kita yang enggan bertaubat dan beristighfar, karena kesombongannya, terlalu yakin bahwa Allah Azza wa Jalla pasti mengampuni dosa-dosanya, tetapi juga masih meremehkan dosa-dosa itu hingga terus-menerus mengulangi melakukannya.
Saudaraku,
Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya masih terdapat kesombongan,
عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه عَن النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ، قَالَ رَجُلٌ: إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا، وَنَعْلُهُ حَسَنَةً، قَالَ: إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ، وَغَمْطُ النَّاسِ . [رواه مسلم والترمذي وأبو داود وابن ماجه وأحمد ]
“Dari Abdullah bin Mas’ud ra, dari Nabi sallallahu ‘alaihi wasalam bersabda: “Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar dzarrah.” Ada seseorang yang bertanya: “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau saw. menjawab: “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.” (HR. Muslim no. 91)
Hadis tersebut menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan kesombongan adalah menolak kebenaran, menolak nasihat kebaikan, memandang rendah orang yang menyampaikan kebenaran, sehingga pesan apapun yang disampaikan kepada mereka, meskipun pesan itu mengenai kebaikan akan dipandang sebelah mata.
Harus kita sadari bahwa sesungguhnya kesombongan adalah sifat warisan Iblis laknatullah yang menjadi penghalang seseorang meraih surga. (*)
