Bertaubat karena kesalahan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala ada 3 macam:
- Berhenti dari Perbuatan yang dikerjakan.
- Menyesali Perbuatannya.
- Berazam, Bertekad untuk tidak mengulanginya lagi.
Bertaubat karena kesalahan kepada sesama manusia ada 4 syarat, dari 3 syarat di atas, dan ditambah satu lagi: Memenuhi hak-hak yang telah dilakukannya. Misalnya: Kesalahan berkaitan dengan harta maka kembalikan dulu, bayar dulu baru bertaubat.
Bertaubat kepada sesama manusia lebih berat daripada kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Di antara dalil yang menjelaskan peristiwa tersebut di antaranya:
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera- putera suami mereka atau saudara- saudara laki-laki mereka, atau putera- putera saudara lelaki mereka, atau putera- putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak- anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang- orang yang beriman supaya kamu beruntung.”(QS. An Nur : 31)
“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni murninya) Mudah- mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai- sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan : “Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. At Tahrim : 8)
Hadis Nabi:
“Bahwasannya Allah senang dengan hamba yang bertaubat. Bahkan gembiranya Allah melebihi seorang hamba sedang berjalan mengendarai untanya. Tiba-tiba untanya lepas dan hamba ini putus asa, kemudian dia duduk di bawah pohon, tiba-tiba untahnya kembali, maka hamba ini senang sekali sampai kembali berterima kasih kepada Allah Wa Ta’ala.”
Kapan Batas Kita Bertaubat?
Bahwasannya Allah Wa Ta’ala akan menerima taubat seorang hamba sebelum Matahari Terbit dari Barat. (maksudnya sebelum kiamat)
Hadis Nabi: “Sesungguhnya Allah Wa Ta’ala menerima taubat seorang hamba sebelum nyawanya sampai tenggorokan.”
Cerita tentang taubat diambil dari Hadist Nabi Bukhori Muslim.
Terjadi sebelum Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam, ada seorang hamba ingin bertaubat setelah membunuh 99 orang dan mendatangi seorang pendeta. Dia bertanya, “Apakah taubat saya diterima?” jawab pendeta, “tidak karena kamu sudah banyak dosa”. Akhirnya pendeta itu dibunuh, dan dia mencari orang lagi untuk pertanyaan yang sama. Dalam kisahnya si fulan akhirnya bertemu dengan salah seorang hamba yang saleh, dengan pertanyaan yang sama, bertanyalah tentang sepenggal kisah perjalanan hidupnya yang lekat akan maksiat.
Satu jawaban yang muncul dari seorang alim sebagaimana harapan dari sang fulang yaitu pengampunan dosa dari Allah Wa Ta’ala yang akhirnya menjadi perantara hadirnya ruang rindu akan pengampunan dosa dari sang Tuhan terhadap si fulan.
Satu syarat yang diberikan oleh sang alim untuk sang fulan yaitu anjuran untuk bertemu dan berintaraksi dengan para alim dengan harapan akan mengubah sikap dan perbuatanya untuk menjadi lebih baik dan bermanfaat untuk sesama. Pada akhir cerita tersebut, saat dalam proses perjalanan si fulan menuju suatu wilayah yang penghuninya adalah orang-orang alim, qodarullah Allah telah mengambil nyawanya.
Apa yang terjadi? dari peristiwa tersebut membuat malaikat berselisih untuk menentukan bagaimana nasib si fulan, apakah tetap menjadi orang yang ingkar dan neraka kelak sebagai balasanya, atau surga sebagai predikat alim atas niat kebaikan yang akan di tunaikan.
Di tengah perdebatan itu, akhirnya kedua malaikat tersebut sepakat untuk mengukur jarak sepanjang si fulan telah melakukan maksiat dengan tempat tujuan yaitu berkumpulnya dengan orang-orang alim. Melihat jarak yang telah ditempuh telah jauh meninggalkan tempat maksiat dan lebih dekat dengan tempat tujuan bersama orang-orang alim, maka diputuskan diterimalah taubatnya dan masuk surga.
Sepenggal hikmah dari peristiwa tersebut:
Jangan pernah putus asa dari ampunan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Bergabunglah, berkumpullah dengan orang-orang saleh. Yakinlah, Allah Wa Ta’ala pasti menerima Taubat kita.
In syaa Allah bermanfaat, silakan dishare untuk meraih pahala amal jariyah. || fimdalimunthe55@gmail.com
