Menunggu Subuh di Masjid Jami’ Dzun Nurain Makkah

Para jemaah berlama-lama di masjid Dzun Nurain untuk memperbanyak ibadah. (slamet)
www.majelistabligh.id -

Wakil Ketua Majelis Tabligh PWM Jatim, Slamet Muliono Redjosari, sedang menjalankan ibadah umrah di Tanah Suci. Sejenak dia beristirahat di salah satu masjid, berikut penuturannya:

***

Masjid Jami’ Dzun Nurain menjadi salah satu tempat persinggahan ibadah yang cukup nyaman bagi para musafir maupun jamaah yang tinggal sementara di sekitar Kota Makkah. Meski tidak sebesar Masjidil Haram, masjid ini memiliki suasana yang hangat, khusyuk, dan sangat mendukung aktivitas ibadah, terutama bagi jamaah umrah yang ingin merasakan ketenangan di luar keramaian pusat kota.

Jemaah umrah asal Indonesia banyak yang memanfaatkan masjid ini, ada yang dari Kalimantan, Sumatra, maupun Sulawesi, dan tentu saja dari Jawa Timur.

Pengalaman spiritual di masjid yang jaraknya sekitar 5 kilometer dari Masjidil Haram ini, terasa begitu kuat terutama saat menjelang waktu salat subuh. Sekitar 30 menit sebelum azan berkumandang, jamaah sudah mulai berdatangan dan memenuhi ruang utama masjid.

Pemandangan ini menunjukkan tingginya semangat umat Islam untuk meraih keutamaan salat berjamaah di awal waktu. Dalam tradisi Islam, menunggu waktu salat dengan membaca Al-Qur’an atau berzikir memang dianjurkan.

Masjid Jami’ Dzun Nurain sendiri memiliki bangunan yang cukup luas dengan dua lantai yang mampu menampung ratusan jamaah. Tata ruangnya dirancang sederhana namun fungsional, sehingga jamaah dapat beribadah dengan nyaman tanpa merasa sesak. Salah satu hal yang menarik dari masjid ini adalah keberadaan sandaran yang dipasang di saf pertama. Fasilitas ini tidak banyak ditemui di masjid-masjid lain.

Sandaran tersebut biasanya dimanfaatkan oleh jamaah yang datang lebih awal. Mereka duduk bersandar sambil membaca Al-Qur’an hingga waktu iqamah tiba. Bahkan tidak sedikit yang memanfaatkan waktu menunggu salat dengan mengkhatamkan beberapa halaman mushaf.

Sandaran ini dapat digunakan dari dua arah: bagian depan menghadap kiblat untuk membaca Al-Qur’an, sedangkan bagian belakang dapat digunakan untuk bersandar sambil beristirahat sejenak.

Mayoritas jamaah yang memanfaatkan fasilitas ini adalah mereka yang berusia lanjut. Namun semangat mereka dalam membaca Al-Qur’an sangat menginspirasi. Dengan mushaf di tangan, mereka tetap tekun melantunkan ayat-ayat suci meski usia sudah tidak muda lagi. Pemandangan seperti ini sering kali menjadi pelajaran spiritual tersendiri bagi jamaah yang lebih muda tentang pentingnya menjaga kedekatan dengan Al-Qur’an sepanjang hayat.

Suasana khusyuk juga didukung oleh kualitas imam yang memimpin salat di masjid tersebut. Imam di Masjid Jami’ Dzun Nurain juga merupakan seorang yang sudah lanjut usia, tetapi memiliki bacaan Al-Qur’an yang sangat baik. Tajwidnya terjaga, hafalannya kuat, dan irama bacaannya merdu. Bahkan dalam beberapa kesempatan, gaya bacaannya dinilai mampu mengimbangi kualitas para imam di Masjidil Haram, yang memang dikenal memiliki standar qiraah yang sangat tinggi.

Selain aspek spiritual, kenyamanan fisik jamaah juga sangat diperhatikan. Sistem pendingin udara di masjid ini cukup memadai. Tercatat terdapat sekitar 15 unit AC besar yang dipasang di berbagai sudut ruangan, ditambah dengan sekitar 15 kipas angin yang semuanya aktif saat waktu-waktu salat. Kombinasi pendingin tersebut membuat suasana di dalam masjid tetap sejuk meskipun jumlah jamaah cukup banyak.

Bagi para jamaah umrah, pengalaman berada di masjid-masjid seperti Masjid Jami’ Dzun Nurain memberikan warna tersendiri dalam perjalanan spiritual mereka. Tidak hanya fokus pada ibadah di Masjidil Haram, tetapi juga merasakan kehidupan religius masyarakat sekitar yang tetap hidup dengan tradisi memakmurkan masjid sejak sebelum fajar hingga larut malam. Pengalaman sederhana inilah yang sering kali meninggalkan kesan mendalam dalam perjalanan ibadah di Tanah Suci. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search