Ramadan adalah bulan penuh berkah. Kita sepatutnya menyambutmya dengan persiapan:
A. PERSIAPAN MENGHADAPI RAMADAN
Ramadan adalah bulan yang agung juga penuh berkah, sehingga Rasulullah saw setiap akhir bulan Sya’ban selalu mengingatkan para sahabatnya dengan bersabda:
ياأيها الناس قد أظلكم شهر عظيم مبارك. رواه إبن حزيمة والبيهقي وإبن حبان عن سلمان الفارسي رض
“Wahai manusia, sungguh suatu bulan yang agung lagi penuh berkah menaungi kamu semua.” (HR Ibnu Hibban dari Salman Al-Farisi RA)
Seorang Ulama Sufi dari Persia (Iran), wafat tahun 893 M, yang bernama Abu Bakar Al-Balkhi, berkata:
شهر رجب شهر الزرع وشهر شعبان شهر سقي الزرع وشهر رمضان شهر حصاد الزرع
“Bulan Rajab adalah bulan menanam, bulan Sya’ban adalah bulan mengairi tanaman, dan bulan Ramadan adalah bulan memanen tanaman”
Sehingga para ulama menamakan Bulan Ramadan dengan beberapa nama:
- Bulan Al-Qur’an (شهر القرأن)
- Bulan Membaca (شهر التلاوة)
- Bulan Puasa (شهر الصوم)
- Bulan Rahmat (شهر الرحمة)
- Bulan Keselamatan (شهر النجاة)
- Bulan Kembali (شهر العيد)
- Bulan Derma (شهر الجود)
- Bulan Sabar (شهر الصبر)
- Bulan Doa ( شهر الدعاء)
- Bulan I’tikaf (شهر الإعتكاف)
- Bulan Allah (شهر الله)
Karena itu, agar kita bisa memperbesar nilai ibadah pada Bulan Ramadan, maka kita seharusnya mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya
- Memperbanyak Puasa Pada Bulan Sya’ban
Aisyah RA berkata:
وما رأيته أكثر صياما منه فى شعبان. متفق عليه
“Dan aku tidak melihat Nabi SAW paling banyak puasanya, kecuali pada bulan Sya’ban.” (HR Bukhari Muslim)
- Menata Niat
Mulai saat ini, kita harus menancapkan niat dengan sungguh-sungguh untuk mengisi Bulan Ramadan dengan sebaik-baiknya, karena keberhasilan suatu ibadah tergantung pada niatnya, sebagaimana sabda Rasulullah saw:
إنما الأعمال بالنيات. متفق عليه عن عمر بن الخطاب رض
“Sesungguhnya amal ibadah itu tergantung pada niatnya. (HR Bukhari Muslim dari Umar bin Khattab r.a)
Niat adalah pangkal ibadah. Semua amal ibadah tergantung pada niatnya. Niat harus bersih dari riya’ (pamer), sum’ah (cerita kebaikan pribadi), dan ujub (bangga pada diri sendiri)
Niat harus ikhlas, dan menurut Imam Al-Ghazali, ikhlas terbagi menjadi tiga:
- Ikhlasul ‘Abidin (Ikhlasnya Hamba, Buruh, Pegawai), yaitu ikhlasnya seseorang yang beribadah karena ingin mendapatkan pahala.
- Ikhlasul Muhibbin (Ikhlasnya Pecinta, Pesuka), yaitu ikhlasnya seseorang yang beribadah karena suka melaksanakan perintah Allah Swt.
- Ikhlasul ‘Arifin (Ikhlasnya Pengenal, Ahli Ilmu), yaitu ikhlasnya seseorang yang beribadah karena semata-mata ingin mendapatkan ridho dari Allah Swt
- Memantapkan Iman
Iman bisa bertambah-berkurang, naik-turun, pasang-surut. Ada 3 faktor yang menyebabkan iman bertambah, naik, dan pasang:
- Suka mengaji, suka belajar, suka menuntut ilmu, dan suka membaca Al-Qur’an dan Al-Hadits. Allah Swt berfirman dalam QS Fathir (35): 28
إنما يخشى الله من عباده العلماء. فاطر (٣٥): ٢٨
Sesungguhnya hanya yang takut kepada Allah dari hamba-hamba-Nya adalah para ulama
- Suka beramal sholeh, berbuat kebaikan dan kebajikan. Rasulullah saw bersabda:
الإيمان يزيد بالطاعة وينقص بالمعصية
Iman bertambah dengan taat dan berkurang dengan maksiat
- Suka beristighfar, berdzikir, berdoa, bertahmid, bertasbih, dan bershalawat.
Seorang sahabat yang bernama Umair bin Hubaib r.a, ketika ditanya oleh salah seorang sahabat, mengapa iman bisa bertambah dan berkurang, beliau menjawab:
إيماننا يزيد حين نذكر الله ونحمده ونسبحه وينقص حين نغفله وننسىه
“Iman kita bertambah ketika kita selalu berzikir kepada Allah, memuji-Nya, dan mensucikan-Nya, dan iman kita berkurang ketika kita lupa dan lalai kepada Allah”
4. Mengkaji Ilmu Puasa
Mengkaji ilmu bukan hanya terbatas pada Ilmu Syariat, tetapi harus menembus pada Ilmu Hakikat dan Ma’rifat secara Syariat. Puasa kita sudah sah apabila sejak Subuh sampai Maghrib, kita tidak makan, tidak minum, tidak berhubungan suami-istri, dan tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa.
Tetapi, secara Hakikat dan Ma’rifat, tujuan puasa adalah:
- Tarbiyatul Ilahiyah (Pendidikan Ketuhanan), yaitu kita dididik, digembleng, dan dilatih oleh Allah Swt untuk selalu mengikuti ajaran, aturan, dan syariat Allah SWT.
- Tarbiyatul Iradah (Pendidikan Keinginan, Kemauan), yaitu kita dituntut oleh Allah Swt untuk selalu suka beramal sholeh, berbuat kebaikan dan kebajikan.
- Tazkiyatun Nafsi (Penyucian Diri), yaitu kita dituntut untuk selalu mensucikan diri dari maksiat dan dosa serta penyakit hati, seperti rakus, bakhil, iri, dengki, dendam, angkuh, sombong, dan lain-lain.
B. KURIKULUM RAMADAN
Selama bulan Ramadan, kita dituntut untuk mengisi dengan amal ibadah utama, yaitu berpuasa sebulan penuh, bertarawih sebulan penuh, mengaji, belajar, menuntut ilmu, membaca Al-Qur’an minimal khatam satu kali, berzakat, berinfaq, bersedakah, beristighfar, berdzikir, berdoa, bertakbir, bertahmid, bertasbih, bershalawat, dan Beri’tikaf. || Disampaikan pada Pengajian Marhaban Ya Ramadan 1447 H/2026 M di Masjid Ar-Royyan Brondong, Lamongan, Rabu, 11 Februari 2026.
