Menyusuri Lorong Kehidupan dengan Hati yang Lapang

*) Oleh : Agus Wahyudi
www.majelistabligh.id -

Khalid bin al-Walid adalah salah satu panglima perang yang paling terkenal dalam sejarah Islam. Dia dikenal dengan julukan “Saifullah al-Maslul.”

Sebelum masuk Islam, Khalid adalah seorang pejuang yang sangat tangguh dan berani di pihak musuh. Bahkan, dia dikenal sebagai jenderal terbaik dalam pasukan Quraisy yang berperang melawan Rasulullah saw. dan para sahabat.

Namun, meskipun dia memiliki banyak kemenangan dalam peperangan, hatinya tidak pernah merasa damai.

Pada awalnya, Khalid adalah musuh yang keras terhadap Islam. Ia berperang melawan Rasulullah dalam beberapa pertempuran besar seperti Perang Uhud dan Perang Mu’tah.

Namun, dalam setiap pertempuran, meskipun ia berperang dengan gagah berani, kegagalan dan kekecewaan selalu mengikuti.

Puncaknya, ketika Khalid akhirnya menginsyafi kegagalannya. Setelah banyak kalah dalam peperangan dan menyaksikan kemenangan-kemenangan Islam yang terus menerus, ia mulai merenung dan akhirnya merasa bahwa apa yang ia perjuangkan selama ini salah.

Khalid mulai mendekati Islam dengan niat tulus untuk mencari kebenaran.

Suatu hari, Khalid memutuskan untuk datang menemui Rasulullah saw dengan hati yang penuh penyesalan.

Ketika ia menghadap Rasulullah, ia menyatakan tobatnya dan masuk Islam dengan sepenuh hati, berkata:

“Ya Rasulullah, aku datang dengan penuh penyesalan dan taubat atas segala perbuatan yang telah kulakukan. Aku ingin membuktikan keikhlasan hatiku kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Rasulullah saw. menerima Khalid dengan penuh kasih dan berkata, “Kamu adalah Khalid bin al-Walid, Saifullah al-Maslul. Kamu telah diampuni.”

Sejak saat itu, Khalid tidak hanya menjadi seorang pejuang hebat di jalan Allah, tetapi juga seorang sahabat yang sangat mencintai Islam.

Dia bahkan menjadi salah satu panglima perang terkemuka dalam pasukan Muslim dan memainkan peran penting dalam kemenangan-kemenangan besar seperti dalam Perang Yarmuk.

Khalid menginsyafi, meskipun dia seorang pahlawan dalam pertempuran, ia gagal dalam hal yang lebih besar: mengenal kebenaran Islam. Kesadaran ini membawanya untuk bertobat dan berjuang di jalan Allah.

***
Saya teringat lagu Karimata, grup musik legendaris di Indonesia. Judulnya, Kisah Kehidupan. Lagu karya Erwin Gutawa dan Harry Kiss. Yang hits di era 1987. Lagu tersebut dibawakan Harvey Malaiholo, penyanyi yang mendapat julukan Macan Festival. Berikut sepenggal liriknya:

Semakin jauh langkah menuju/ titian celah-celah kehidupan
dunia beraneka/penuh dengan legenda manusia…
dalam…..lingkup…/satu tema yang berulang
kisahnya…silih berganti

Ketika dalam jiwa berguncang/tetaplah pada arti kehidupan
dunia beraneka/penuh dengan legenda manusia
dalam…..suka…./dan dukanya bertentangan
bersama silih berganti/di kehidupan…

Langkah kita dalam hidup ini ibarat menapaki titian sempit di antara celah-celah dunia. Setiap langkah membawa kita semakin jauh dari titik awal, memasuki dunia yang luas, beraneka, penuh warna, dan dihuni oleh berjuta kisah manusia. Di sana, setiap individu menulis legendanya sendiri, membangun mozaik besar dari suka dan duka.

Namun, di tengah keragaman itu, ada satu tema yang selalu berulang dalam kisah manusia, meski berbeda rupa dan bentuk, memiliki pola yang sama: tentang perjuangan, pencarian, kehilangan, harapan, dan cinta.

Hidup ini, sesungguhnya, adalah sebuah perjalanan untuk menemukan arti di balik setiap langkah.

Kehidupan adalah tema yang terus berulang. Setiap zaman melahirkan tokoh baru, tantangan baru, tetapi hakikat perjuangannya tetap sama. Suka dan duka silih berganti, bersaing dalam menguji keteguhan jiwa manusia.

Ketika jiwa berguncang, dihantam kegagalan, kesepian, atau ketakutan, kita diminta untuk tetap teguh pada makna kehidupan.

Tidak terombang-ambing oleh gemerlap dunia yang menipu, tidak terhempas oleh kesedihan yang membelenggu.

Tetapi berdiri kokoh, berpegang pada nilai-nilai yang kekal: kejujuran, kesetiaan, dan keberanian.

Ada saatnya dalam perjalanan ini kita berhenti sejenak, menoleh ke belakang. Bukan untuk meratapi, bukan pula untuk terjebak dalam penyesalan, melainkan untuk belajar.

Masa lalu adalah guru yang berbicara dalam bisu. Ia mengingatkan kita bahwa tragedi di masa depan sering kali berupa bayang-bayang dari kesalahan masa lalu yang tidak kita pelajari.

Masa lalu adalah dulu, dan memang seharusnya begitu. Kita tidak hidup dalam bayang-bayangnya, tetapi memetik hikmah darinya. Agar langkah kita ke depan lebih bijaksana dan lebih teguh.

Jalan hidup tidak pernah lurus. Ia berputar, mengelilingi lorong-lorong misteri yang semakin menjulang dan mencekam. Semakin jauh kita melangkah, semakin banyak ketidakpastian yang menghadang.

Kadang lorong itu gelap, penuh teka-teki yang menuntut keberanian untuk terus maju. Kadang lorong itu bercahaya, seolah menunjukkan bahwa harapan selalu ada.

Namun satu hal pasti: jalan ini akan terus membawa kita menuju suatu kepastian, suatu titik di mana semua perjalanan ini menemukan jawabannya.

Dalam setiap putaran, kita diuji: apakah kita tetap teguh, atau justru terjebak dalam ilusi dunia?

Setiap perjalanan hidup akan sampai di ujungnya. Saat itu, tidak ada lagi tempat untuk bersembunyi, tidak ada lagi ruang untuk berpura-pura.

Semua usaha, semua perjuangan, semua pilihan yang kita buat akan ditimbang di hadapan kebenaran.

Apakah kita mengisi perjalanan ini dengan makna? Atau kita hanya larut dalam permainan dunia yang fana?

Ketika jiwa berguncang, tetaplah ingat arti kehidupan. Karena hanya dengan berpegang pada arti itu, kita bisa sampai ke penghabisan dengan hati yang damai.

Cerita hidup ini bukan sekadar hiburan. Ia adalah peringatan. Ia adalah ajakan untuk merenung, untuk lebih bijak, untuk lebih manusiawi.

Dunia beraneka, penuh dengan legenda manusia. Suka dan duka bertentangan, silih berganti.

Tetapi bagi mereka yang mau berhenti sejenak, menoleh ke belakang, dan memetik pelajaran, kehidupan ini akan menjadi perjalanan yang bermakna. Bukan sekadar putaran nasib tanpa arah.

Hidup terus berjalan, lorong misteri terus memanggil. Tapi dengan hati yang setia pada makna, kita tidak akan pernah benar-benar tersesat.

***

Pada akhirnya, perjalanan hidup akan membawa kita pada sebuah titik pertemuan dengan kebenaran yang tak terbantahkan.

Seperti Khalid bin al-Walid, yang awalnya terjerat dalam kebingungannya, kita pun sering kali harus melalui lorong-lorong gelap dalam kehidupan untuk menemukan cahaya yang sesungguhnya.

Kehidupan, dalam segala liku dan misterinya, mengajarkan pada kita bahwa setiap kesalahan adalah pelajaran. Setiap kegagalan adalah batu loncatan. Dan, setiap penyesalan adalah peluang untuk bangkit menjadi lebih bijaksana.

Lorong-lorong yang kita tempuh mungkin tidak selalu terang benderang, dan kadang, kita merasa terperangkap dalam ketidakpastian.

Namun, seperti yang terjadi pada Khalid, pintu-pintu kebijaksanaan seringkali terbuka ketika kita memiliki keberanian untuk bertanya, untuk mencari, dan untuk menerima kenyataan.

Dengan hati yang teguh memahami makna kehidupan, kita tidak akan pernah benar-benar tersesat, meskipun jalan yang kita tempuh dipenuhi tikungan dan tantangan.

Allah SWT berfirman,
“Dan Kami berikan kepada mereka kekuatan yang besar di dunia dan akhirat. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Anfal: 74)

Ayat ini mengajarkan bahwa setiap perjalanan, betapapun sulitnya, akan melahirkan kekuatan bagi mereka yang bertahan dan berjuang dengan niat yang lurus.

Allah SWT juga berfirman,
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah’, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan, ‘Janganlah kamu takut dan janganlah kamu bersedih hati, dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan kepadamu.” (QS. Fussilat: 30)

Dengan keyakinan dan keteguhan hati, kita melangkah. Percaya bahwa setiap ujian adalah jalan menuju kekuatan, rahmat, dan janji kemenangan abadi.

Wallahualam bissawab. (*)

Tinggalkan Balasan

Search