Dalam pandangan Islam, ujian hidup bukanlah tanda kebencian Allah, melainkan undangan untuk meningkatkan keimanan dan jalan menuju kedudukan tertinggi di akhirat. Ujian yang dihadapi dengan sabar, ridha, dan istiqamah akan mengangkat derajat seorang hamba, menghapus dosa, dan mengantarkannya pada posisi istimewa di surga.
Bahwa cobaan kadang dapat meninggikan derajat seorang muslim di sisi Allah dan tanda bahwa Allah semakin cinta kepada hamba-Nya. Dan semakin tinggi kualitas imannya, semakin berat pula ujiannya. Namun ujian terberat ini akan dibalas dengan pahala yang besar pula. Sehingga kewajiban kita adalah bersabar. Sabar ini merupakan tanda keimanan dan kesempurnaan tauhidnya.
Dari Anas bin Malik, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِى الدُّنْيَا وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَفَّى بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba, Dia akan segerakan hukumannya di dunia. Jika Allah menghendaki kejelekan padanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang ia perbuat hingga akan ditunaikan pada hari kiamat kelak.” (HR. Tirmidzi no. 2396, hasan shahih kata Syaikh Al Albani).
إنَّ الرَّجلَ لَتكونُ له عندَ اللهِ المنزلةُ فما يبلُغُها بعملٍ فلا يزالُ اللهُ يبتليه بما يكرَهُ حتَّى يُبلِّغَه إيَّاها
خلاصة حكم المحدث : أخرجه في صحيحه
الراوي : أبو هريرة | المحدث : ابن حبان | المصدر : صحيح ابن حبان
الصفحة أو الرقم : 2908 التخريج : أخرجه أبو يعلى (6095)، والحاكم (1274)، والبيهقي في ((الآداب)) (735) باختلاف يسير
Dari Abu Hurairah-radiallahu anhu-berkata: Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wa sallam-bersabda: “Sunguh ada seseorang memiliki kedudukan di sisi Allah, namun ibadahnya belum bisa menyampaikannya kepada kedudukan tersebut, maka Allah terus memberi ujian kepadanya dengan ujian yang ia benci, hingga dengan ujian itulah, ia sampai pada kedudukan tersebut”. (HR. Ibnu Hibban, Abu Ya’ala, dan Al-Hakim dengan sanad yang shahih).
Jadi, terkadang ada seseorang jika dilihat dari ibadahnya biasa saja, namun ia memiliki kedudukan istimewa. Kedudukan itu ia dapatkan, karena selama di dunia ia senantiasa diuji dengan cobaan yang bertubi-tubi.
Juga, cobaan dan ujian yang ditimpakan kepada seorang hamba adalah cara Allah untuk menampakkan cinta-Nya kepada hamba tersebut.
عن أنس بن مالك رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: “إن عِظَمَ الجزاءِ مع عِظَمِ البلاءِ، وإن الله تعالى إذا أحب قوما ابتلاهم، فمن رَضِيَ فله الرِضا، ومن سَخِطَ فله السُّخْطُ”.
Diriwayatkan dari Anas ibn Malik radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya besarnya pahala itu sesuai dengan besarnya cobaan. Dan sesungguhnya apabila Allah mencintai sebuah kaum niscaya Allah akan memberikan cobaan kepada mereka. Maka barangsiapa yang ridha (dengan ketetapan Allah –pent), maka Allah akan ridha kepadanya. Dan barangsiapa yang tidak ridha, maka Allahpun tidak akan ridha kepadanya.” (HR. At-Turmudzi, no. 2320 dan Ibnu Majah, no. 4021 dengan sanad yang hasan)
Jika Allah menghendaki kejelekan padanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang ia perbuat hingga akan ditunaikan pada hari kiamat kelak. Ath Thibiy berkata, “Hamba yang tidak dikehendaki baik, maka kelak dosanya akan dibalas hingga ia datang di akhirat penuh dosa sehingga ia pun akan disiksa karenanya.” (Lihat Faidhul Qodir, 2: 583, Mirqotul Mafatih, 5: 287, Tuhfatul Ahwadzi, 7: 65)
Dari Anas bin Malik, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِى الدُّنْيَا وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَفَّى بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba, Dia akan segerakan hukumannya di dunia. Jika Allah menghendaki kejelekan padanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang ia perbuat hingga akan ditunaikan pada hari kiamat kelak.” (HR. Tirmidzi no. 2396, hasan shahih kata Syaikh Al Albani).
jika Allah menghendaki kejelekan bagi seseorang, Dia akan menunda pembalasan dosanya hingga Hari Kiamat agar siksaannya lebih berat, berbeda jika Dia menghendaki kebaikan, Dia akan segera memberi musibah di dunia untuk membersihkan dosa-dosanya, seperti dijelaskan dalam hadis-hadis dari Anas bin Malik yang diriwayatkan oleh berbagai ulama seperti At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Al-Baihaqi, yang maknanya serupa dengan makna yang disampaikan Ath Thibiy. (*)
