Banyak mengeluh, kecewa atas karunia Allah, dan iri terhadap kebahagiaan orang lain adalah tanda bahwa kita kurang sabar dan kurang bersyukur.
Dua sifat itu, sabar dan syukur, merupakan pilar penting dalam kehidupan seorang mukmin.
Pernahkah kita merenungi kisah Nabi Ayyub ‘alaihis salam? Beliau adalah teladan kesabaran yang dipuji langsung oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Dengan ujian hidup yang begitu berat, Nabi Ayyub tetap teguh dalam iman dan tawakalnya.
Beliau diuji dengan penyakit yang dideritanya selama bertahun-tahun, kehilangan seluruh harta benda hingga hidup miskin, bahkan kehilangan anak-anak yang beliau cintai.
Namun semua ujian itu tidak memadamkan cahaya kesabaran dan keikhlasan di hatinya. Nabi Ayyub menerima segala takdir Allah tanpa keluh kesah.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sungguh, dia sangat taat kepada Allah.” (QS. Shad: 44)
Betapa kontrasnya dengan diri kita yang sering rapuh, mudah mengeluh, kurang sabar, dan kurang bersyukur.
Kita kadang lupa bahwa keluarga, rumah, kendaraan, perhiasan, tabungan, dan seluruh harta hanyalah titipan Allah.
Tidak sepantasnya kita merasa memiliki segalanya secara mutlak, karena semua itu dapat Allah ambil kapan saja.
Kesabaran dan keikhlasan dalam menerima ujian hidup adalah kunci agar doa-doa kita pantas dihadapkan ke hadapan Allah. Sebagaimana firman-Nya:
“Dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan, mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 177). (*)
