Merajut Silaturrahim untuk Ketakwaan dan Kepekaan Sosial

www.majelistabligh.id -

*Oleh: Bahrus Surur-Iyunk
Guru SMA Muhammadiyah I Sumenep

Silaturrahim bukan sekadar kunjungan atau salam sapa. Ia adalah jembatan hati. Tali kasih yang menghubungkan satu jiwa dengan jiwa lainnya. Dalam Islam, silaturrahim adalah perintah, bukan sekadar anjuran.

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung silaturrahim.” (HR. Bukhari dan Muslim). Artinya, silaturrahim bukan hanya soal hubungan antarmanusia, tapi juga berdampak pada hidup kita secara keseluruhan.

Di tengah zaman yang serba cepat ini, banyak dari kita yang mulai abai. Sibuk bekerja, sibuk mengejar mimpi, hingga lupa menyapa saudara. Padahal, silaturrahim adalah kebutuhan jiwa. Ia menyembuhkan. Ia menumbuhkan.

Silaturrahim bukan hanya dengan keluarga. Ia juga merangkul tetangga, teman lama, bahkan sesama hamba Allah yang belum kita kenal dekat. Di situlah letak ketakwaan. Sebab takwa bukan hanya soal ibadah personal, tapi juga relasi sosial.

Orang yang bertakwa adalah mereka yang peduli. Yang peka terhadap penderitaan orang lain. Yang tak tega melihat saudara kelaparan sementara dirinya kenyang. Kepekaan sosial tumbuh dari hati yang terhubung. Dan hati hanya bisa terhubung melalui silaturrahim.

Dalam silaturrahim, kita belajar mendengar. Belajar memahami. Kita diajak keluar dari egoisme diri. Kita diajak menengok dunia orang lain. Mungkin, di balik senyum tetangga, ada duka yang tersembunyi. Mungkin, di balik kata-kata teman, ada luka yang tak tampak.

Silaturrahim membuat kita lebih manusia. Kita tak hanya hidup untuk diri sendiri. Kita hidup untuk saling menguatkan. Saling menopang.

Apalagi dalam konteks masyarakat modern, di mana banyak orang merasa kesepian. Merasa tak punya siapa-siapa. Silaturrahim bisa menjadi oase di tengah gersangnya relasi sosial.

Ketika kita menjenguk yang sakit, menghadiri undangan, atau sekadar menyapa lewat pesan singkat—itu semua bentuk silaturrahim. Sederhana, tapi bermakna.

Ketika silaturrahim terjaga, muncul rasa empati. Kita jadi tahu siapa yang butuh bantuan. Kita bisa mengulurkan tangan sebelum diminta. Di situlah kepekaan sosial lahir: bukan karena formalitas, tapi karena cinta.

Ketika cinta itu tumbuh, kita akan terdorong untuk berbagi. Tak perlu menunggu jadi kaya. Cukup dengan memberi perhatian, waktu, atau sekadar doa. Itu pun sudah bentuk ketakwaan.

Ketakwaan yang sejati tak hanya diukur dari banyaknya ibadah. Tapi juga dari sejauh mana kita peduli pada sesama. Allah SWT memuji orang-orang yang “memberi makan, meski mereka sendiri mencintai makanan itu” (QS. Al-Insan: 8).

Itulah orang yang peka. Yang silaturrahimnya tidak hanya lewat kata, tapi juga perbuatan.

Maka mari kita rajut kembali silaturrahim yang mungkin sempat renggang. Kunjungi keluarga yang lama tak disapa. Maafkan sahabat yang pernah menyakiti. Ajak bicara tetangga yang mungkin berbeda pandangan.

Dari silaturrahim, lahir persatuan. Dari persatuan, tumbuh kekuatan. Kekuatan umat yang tidak hanya saling mendoakan, tapi juga saling menolong.

Masyarakat yang kuat bukan yang saling menjatuhkan. Tapi yang saling merangkul dalam perbedaan.

Mari kita mulai dari hal kecil. Sapa orang di sekitar kita. Kirim pesan kebaikan. Doakan yang sedang kesulitan.

Karena bisa jadi, dari silaturrahim kecil itulah, Allah turunkan berkah besar dalam hidup kita.

Silaturrahim adalah jalan menuju surga. Dan surga itu tak bisa dimasuki sendiri. Kita perlu menggandeng tangan orang lain. Kita perlu hati yang lapang, dan jiwa yang peka.

Mari merajut silaturrahim. Untuk ketakwaan. Untuk kepekaan sosial. Untuk menjadi hamba yang lebih manusiawi dan bermakna. Wallahu a’lamu. (*)

Tinggalkan Balasan

Search