Ada segumpal daging yang bernama hati:
الا و إن فى الجسد مضغة إذا صلحت صلح سائر الجسد كله,و إذا فسدت فسد الجسد كله ألا وهي القلب
“Ketahuilah, bahwa di dalam tubuh manusia ada segumpal daging, apabila daging tersebut baik, maka baiklah seluruh tubuh. Tetapi apabila daging tersebut buruk, maka tubuh yang lain akan ikut buruk pula. Ketahuilah daging itu bernama hati” (Mutafaqqun ‘alaih)
Untuk merawat hati yang sudah bercahaya dan memperindahnya, maka kita perlu terus-menerus mempertahankan dan mengamalkan kebaikan. Hati akan terus bersih, bening dan bercahaya jika kejahatan terus dihindari, jauh dari debu-debu iri, dengki, riya, takabbur dan cobaan dijalani dengan ikhlas.
Perumpamaan hal ini adalah seorang ibu hamil yang selalu ikhlas menahan sakit, lemah tanpa pamrih demi mengandung anak yang ia cintai. Jika kita telah mencintai permata (hati kita), maka kita harus merawatnya terus-menerus.
Imam Al-Ghazali mendefinisikan hati manusia menjadi tiga bentuk, yaitu: hati yang sehat, hati yang sakit, dan hati yang mati. Hati yang sehat akan berfungsi optimal, mampu memilih dan memilah mana yang baik dan yang buruk. Hati mereka kenal betul dengan Allah, sifat, af’al, kasih sayang, janji, qudrah, sunah dan kemulian-Nya.
Kondisi hati ini akan selalu bersyukur atas nikmat, sabar dan rida akan takdir dan cobaan yang diberikan-Nya. Hati yang mampu bermakrifat (mengenal Allah) ini adalah salah satu yang menjadikan manusia lebih unggul dari makhluk lainnya.
Dalam bab ini juga dibahas tentang Qalbun Salim (hati yang selamat) yakni hati yang istikamah dan mampu menetapi kebaikan berbalik hanya pada kebaikan saja seperti yang disinggung Nabi saw dalam doanya yang bersabda: “Hai yang membolak balikkan hati tetapkanlah hatiku dalam agama-Mu dan taat pada-Mu’.
Mengenai hal ini Allah juga berfirman:
يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ … إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
“Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak bermanfaat, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat (qalbun salim).” (QS. 26, as-Syura: 88-89).
Hati yang bening inilah yang mampu menjaga perilakunya, menahan pandangannya, menjaga lisan, perut dan mampu memilih pergaulan yang baik. Hati menjadi suci dan bening karena tidak ada tingkah laku yang mengotorinya, ingatnya selalu pada Allah, istikamahnya terus-menerus tanpa henti, dakwahnya ikhlas tanpa pamrih dan seterusnya.
Usaha menjaga kesucian hati dengan menghindari maksiat pandangan, telah disebutkan dalam sebuah hadis, Rasulullah saw bersabda: “Pandangan itu salah satu panah dari panah iblis yang berbisa. Siapa saja yang meninggalkannya karena takut pada Allah, maka Allah akan memberinya keimanan yang terasa sangat manis di dalam hati.” (HR. al-hakim).
Mengenai menjaga lisan Nabi saw bersabda: “Setiap ucapan bani adam itu membahayakan dirinya (tidak memberi manfaat), kecuali kata-kata yang berupa amar makruf nahi munkar (mengajak kebaikan dan mencegah kejahatan) dan zikrullah. (HR. Tirmidzi).
Hati adalah pusat kebaikan dan kejahatan. Hati adalah ibarat Raja yang punya hak veto dalam memerintah seluruh anggota jasmani untuk berbuat baik atau jahat. Oleh karena itu bersihkanlah ia, beningkanlah dari segala kotoran, isilah dengan sifat-sifat yang baik agar ia tetap terang benderang, bersinar dan bercahaya, serta mudahnya berbalik terus dalam kebaikan dan takwa.
Dalam diri manusia ada hati. Jika ia baik maka baik juga seluruh anggota tubuhnya. Sebaliknya jika ia buruk, maka buruk pula seluruh anggota tubuhnya. Hati yang baik akan bercahaya dan hati yang buruk akan tertutup noda hitam. Jika noda hitam ini tidak dibersihkan dengan segera, niscaya ia akan menutupi seluruh hati sampai hitam legam dan gelap hingga akhirnya mematikannya.
Noda hitam yang disebut menutupi hati seperti dikatakan Nabi saw adalah dosa dan maksiat, baik itu kepada Allah maupun kepada sesama manusia. Beliau mengistilahkannya dengan ran (titik hitam).
Beliau bersabda, “Seorang hamba apabila melakukan suatu dosa maka akan ada titik hitam di hatinya. Apabila ia meninggalkannya, meminta ampun dan bertobat kepada Allah, hatinya bersih kembali. Apabila ia kembali berdosa, titik hitam itu akan kembali lagi hingga menutupi hatinya. Itulah yang disebut ran,” (HR al-Bukhari dan Muslim).
Noda hitam itu membuat hati menjadi berkarat. Syekh Abdul Qadir al-Jailani dalam kitab al-Fath ar-Rabbani wa al-Faidh ar-Rahmani mengatakan bahwa hati itu bisa berkarat. Namun, sebagaimana yang dinasihatkan Nabi saw, jika pemiliknya merawatnya dengan baik maka hati itu akan bercahaya kembali. Jika tidak dirawat, hati akan menjadi hitam kelam karena jauh dari nur (cahaya). Selain karena dosa, kata sang Syekh, hati menjadi hitam juga karena cinta dan rakusnya terhadap dunia, tanpa punya sikap wara’. Orang seperti ini akan terus-menerus mengumpulkan dunia tanpa pernah merasa puas, sampai melakukannya dengan cara yang diharamkan.
Untuk membersihkan hati yang berkarat ini, kata Syekh, setidaknya ada tiga hal yang bisa dilakukan. Ia mengutip sabda Nabi saw, “Sesungguhnya hati itu bisa berkarat, dan sesungguhnya penggosoknya adalah membaca Al-Qur’an, mengingat mati, dan menghadiri majelis zikir.”
- Al-Qur’an adalah Kalamullah. Dalam Al-Qur’an, misalnya, disebutkan bahwa ia adalah obat bagi penyakit hati dan fisik, “Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi obat (penawar) dan rahmat bagi orang beriman.” (QS al-Isra [17]: 82). Semakin seseorang banyak membaca Al-Qur’an lalu mengamalkannya dalam kehidupan, karat di hatinya akan semakin berkurang dan hilang.
- Mengingat Mati. Cara ini juga bisa membersihkan karat di hati. Nabi saw mengatakan, “Perbanyaklah mengingat mati karena sesungguhnya mengingat mati itu dapat menghilangkan dosa-dosa dan menjadikannya zuhud terhadap dunia.” (HR Ibnu Abi ad-Dunya). Dengan mengingat mati, seseorang akan menyadari dirinya, mengingat dosanya, lalu berusaha memperbaiki dirinya menjadi lebih baik.
- Menghadiri Majelis Zikir. Cara ini juga dapat membersihkan karat di hati. Dalam hadis disebutkan bahwa malaikat berkeliling mencari majelis zikir. Ketika menemukannya, ia memanggil malaikat lainnya untuk ikut dalam majelis tersebut dan mendoakan orang-orang di situ. Allah kemudian berkata kepada para malaikat itu, “Persaksikanlah oleh kalian bahwasanya Aku telah mengampuni mereka.” (HR al-Bukhari dan Muslim). Allah mengampuni dosa mereka dan membersihkan hatinya. (*)
