Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional yang jatuh setiap tanggal 2 Mei, Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Irwan Akib, menegaskan pentingnya peran pendidikan bermutu dalam menentukan masa depan Indonesia.
Dia menyoroti bahwa cita-cita besar bangsa ini untuk menjadi “Indonesia Emas” pada tahun 2045 tidak akan terwujud tanpa fondasi pendidikan nasional yang kuat, inklusif, dan berdaya saing.
“Visi Indonesia Emas 2045 bukan sekadar jargon, tetapi sebuah harapan besar yang hanya dapat diwujudkan melalui investasi serius di bidang pendidikan. Pendidikan adalah kunci peradaban,” ungkap Irwan, saat dimintai pendapatnya pada Jumat (2/5/2025).
Dia kemudian mengutip filsuf Yunani Aristoteles, yang menyatakan bahwa kondisi masyarakat saat ini adalah hasil dari pendidikan yang diterima oleh generasi mudanya di masa lalu. Pandangan ini, menurut Irwan, merefleksikan pentingnya pendidikan sebagai penentu arah bangsa.
Namun, Irwan menekankan bahwa tanggung jawab pendidikan tidak hanya berada di pundak guru dan lembaga pendidikan formal saja.
Menurutnya, keberhasilan pendidikan, terutama dalam pembentukan karakter anak, sangat dipengaruhi oleh peran serta masyarakat, khususnya para tokoh publik, pemimpin masyarakat, dan figur-figur panutan lainnya.
“Anak-anak kita sangat membutuhkan sosok teladan. Tidak sedikit dari mereka yang menjadikan selebritas, tokoh politik, maupun pejabat publik sebagai figur inspiratif dalam kehidupan sehari-hari. Sayangnya, dalam banyak kasus, perilaku figur publik ini justru bertentangan dengan nilai-nilai karakter yang diajarkan di sekolah, seperti kejujuran, integritas, dan kedisiplinan,” tutur Irwan.
Dia menambahkan bahwa ironi besar muncul ketika di satu sisi guru-guru berusaha keras menanamkan nilai-nilai luhur di kelas, namun di sisi lain anak-anak dihadapkan pada kenyataan pahit di luar sekolah, seperti maraknya kasus korupsi yang melibatkan pejabat publik.
Kondisi ini menurutnya bisa menimbulkan kebingungan moral pada anak didik, bahkan berpotensi mengikis nilai-nilai karakter yang telah dibangun di lingkungan pendidikan formal.
“Oleh karena itu, para tokoh masyarakat, pejabat publik, dan seluruh figur yang memiliki pengaruh di ruang publik harus ikut bertanggung jawab dalam membangun budaya pendidikan yang bermutu dan berkarakter. Mereka harus menunjukkan keteladanan dalam ucapan dan tindakan, karena mereka pun bagian dari sistem pendidikan sosial yang diamati oleh anak-anak kita setiap hari,” imbuh Irwan.
Dalam konteks pemerataan dan kualitas pendidikan, Irwan menegaskan bahwa pendidikan yang bermutu harus dapat diakses oleh seluruh anak bangsa tanpa memandang perbedaan status sosial, latar belakang ekonomi, budaya, etnis, bahkan kondisi fisiologis dan psikologis masing-masing peserta didik.
Dia menyatakan bahwa pemenuhan hak atas pendidikan tidak boleh bersifat seragam, melainkan harus mempertimbangkan keberagaman dan kebutuhan spesifik dari setiap anak.
“Ketika kita berbicara tentang pendidikan bermutu untuk semua, itu tidak cukup hanya berarti bahwa sekolah atau fasilitas pendidikan tersedia di seluruh pelosok negeri. Lebih dari itu, setiap anak harus memiliki kesempatan yang setara untuk berkembang, belajar, dan meraih cita-citanya. Kita tidak boleh mendiskriminasi anak berdasarkan kekayaan orang tuanya, budaya asalnya, atau karena ia memiliki kebutuhan khusus,” jelas Irwan.
Menurutnya, sistem pendidikan nasional perlu dirancang sedemikian rupa agar responsif terhadap kompleksitas sosial yang ada di Indonesia.
Dengan cara itu, pendidikan tidak hanya menjadi alat untuk mentransfer pengetahuan, tetapi juga sebagai sarana untuk membentuk karakter bangsa yang kuat, inklusif, dan berkeadaban.
Di akhir pernyataannya, Irwan mengajak semua pihak—baik pemerintah, lembaga pendidikan, tokoh masyarakat, hingga individu-individu berpengaruh di masyarakat—untuk bahu-membahu dalam menciptakan iklim pendidikan yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kokoh secara moral dan spiritual.
Irwan meyakini bahwa melalui kerja kolektif ini, cita-cita Indonesia Emas 2045 dapat diwujudkan dengan lebih nyata. (wh)
