Merenunglah, Maka Kau Temukan Cahaya Hidupmu

*) Oleh : Ferry Is Mirza DM
Jurnalis Senior dan Aktivis Muhammadiyah
www.majelistabligh.id -

Islam adalah agama yang tidak hanya mengajak umatnya untuk taat, tetapi juga untuk berpikir, merenung, dan menemukan makna yang dalam dari kehidupan.

Dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala berulang kali menyeru manusia dengan kalimat:

“Afala tatafakkarun?” (Tidakkah kalian berpikir?)
“Afala ta’qilun?” (Tidakkah kalian menggunakan akal?)

Ini merupakan ajakan untuk merenung dan menggali hikmah dari setiap peristiwa.

Renungan dalam Islam bukan sekadar lamunan kosong. Renungan yang benar adalah renungan yang mendekatkan kepada Allah Ta’ala, menumbuhkan pemahaman, dan melahirkan temuan—baik dalam makna, hikmah, maupun ilmu.

Renungan: Jalan Para Nabi dan Ulama

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sebelum diangkat menjadi Nabi sering menyendiri di Gua Hira untuk merenung.

Dalam kesendirian itulah beliau menerima cahaya wahyu pertama. Hal ini menunjukkan bahwa temuan besar dalam hidup sering lahir dari keheningan dan perenungan yang mendalam.

Ulama besar dalam sejarah Islam, seperti Imam Al-Ghazali, Ibnu Sina, dan Ibnu Khaldun, menempatkan perenungan sebagai dasar dari pencapaian ilmu dan kebijaksanaan.

Perenungan yang dilandasi iman dan pencarian kebenaran melahirkan karya besar dan perubahan nyata.

Al-Qur’an: Sumber Renungan yang Tak Pernah Habis

Allah Ta’ala berfirman:

“Ini adalah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah supaya mereka merenungkan ayat-ayat-Nya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang berakal.” (QS. Shad: 29)

Ayat ini menegaskan bahwa tujuan diturunkannya Al-Qur’an adalah untuk direnungkan, bukan sekadar dibaca secara lisan. Dari perenungan itu, lahirlah temuan-temuan hati, pikiran, dan tindakan.

Renungan yang Produktif

Dalam kehidupan sehari-hari, merenung bisa menghasilkan banyak temuan, di antaranya:

  • Menemukan kelemahan diri, lalu memperbaikinya.
  • Menemukan hikmah di balik musibah.
  • Menemukan solusi dari masalah dengan bantuan doa dan akal.
  • Menemukan potensi diri yang selama ini tersembunyi.

Perlu diingat: merenung dalam Islam bukan untuk berlarut-larut dalam kegelisahan, melainkan untuk menghasilkan perubahan, perbaikan, dan penguatan iman.

Merenung adalah ibadah hati dan akal. Ia menjadi jalan untuk mengenal diri, mengenal Allah Ta’ala, dan menemukan arah hidup yang lebih baik.

Maka, merenunglah, bukan untuk menyesali masa lalu, tapi untuk menemukan hikmah, potensi, dan solusi yang Allah Ta’ala sembunyikan di balik setiap kejadian.

Allah Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Ali Imran: 190)

Doa Penutup

Allahumma sholli ‘ala Sayyidina Muhammad, wa ‘ala aali Sayyidina Muhammad.

Ya Allah, sungguh aku meminta kepada-Mu dengan cahaya wajah-Mu yang dengannya langit dan bumi bercahaya, agar Engkau menjadikan aku dalam pemeliharaan-Mu, pengawasan-Mu, dan di bawah penjagaan-Mu.

Robbana taqobbal minna
Ya Allah, terimalah amalan kami. Aamiin. (*)

Tinggalkan Balasan

Search