Mewisuda Mahasiswa Nonmuslim, Bukti Kampus Muhammadiyah yang Inklusif

Kristofora Karolina Kewa, mahasiswa nonmuslim UMMAD usai diwisuda. (ist)
www.majelistabligh.id -

Muhammadiyah berkomitmen menjunjung tinggi nilai-nilai moderasi melalui penyelenggaraan pendidikan tinggi yang inklusif dan toleran terhadap keberagaman suku, budaya, maupun agama. Terbukti, Universitas Muhammadiyah Madiun (UMMAD) telah meluluskan mahasiswa yang berasal dari Nusa Tenggara Timur dan beragama Katolik.

Hal ini menunjukkan, meski tergolong perguruan tinggi yang relatif muda, UMMAD telah berkembang menjadi salah satu tujuan pendidikan bagi mahasiswa dari berbagai daerah, termasuk luar pulau dan kalangan nonmuslim.

Komitmen tersebut tercermin pada sosok Kristofora Karolina Kewa. Mahasiswa lulusan UMMAD yang baru diwisuda itu telah menyelesaikan studinya di UMMAD dan meraih gelar sarjana Kesehatan. Bahkan ia dinobatkan sebagai salah satu wisudawan terbaik pada Wisuda UMMAD Tahun 2025 yang diselenggarakan akhir tahun lalu.

Menurut Kristofora Karolina Kewa, atau yang biasa disapa Olin, selama menempuh pendidikan di UMMAD, dirinya merasa diterima dengan sangat baik meskipun berstatus mahasiswa nonmuslim. Ia menegaskan tidak pernah mengalami perlakuan negatif, baik dari dosen maupun sesama mahasiswa.

Lingkungan kampus UMMAD cukup terbuka dan menghargai perbedaan, dan dosen juga bersikap profesional serta adil tanpa membedakan latar belakang agama. Dukungan dan sikap ramah juga ia rasakan dari teman-teman mahasiswa, baik dalam kegiatan akademik maupun nonakademik.

Terkait kewajiban mengikuti mata kuliah Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK), Olin mengaku sempat merasa canggung pada awalnya. Namun seiring berjalannya waktu, ia mampu menyesuaikan diri karena materi yang disampaikan lebih menitikberatkan pada nilai moral, etika, dan toleransi. Menurutnya, mata kuliah tersebut relevan untuk seluruh mahasiswa dan menjadi tambahan wawasan tentang keberagaman tanpa adanya pemaksaan keyakinan.

Dalam kisah perjalanannya memilih UMMAD, Olin menjelaskan bahwa sejak awal ia bercita-cita melanjutkan studi di bidang kesehatan, khususnya keperawatan. Namun, pertimbangan biaya pendidikan yang relatif tinggi membuatnya mencari alternatif lain di bidang kebidanan, tetapi karena hanya tersedia pada jenjang D3, sementara dirinya ingin menempuh pendidikan S1, Olin akhirnya mencari pilihan lain.

Melalui diskusi dan pencarian informasi bersama teman, Olin mengetahui bahwa UMMAD memiliki program studi Administrasi Kesehatan. Setelah mempelajari lebih lanjut, ia merasa program studi tersebut sesuai dengan minat, kemampuan, serta rencana kariernya di bidang kesehatan. Oleh karena itu, Olin memantapkan pilihannya untuk melanjutkan pendidikan di UMMAD melalui program studi Administrasi Kesehatan.

Program studi Administrasi Kesehatan ini memberikan pembekalan terkait pengelolaan pelayanan kesehatan, administrasi rumah sakit, hingga sistem pelayanan kesehatan secara profesional. Ia menilai pilihan tersebut tepat karena tetap memungkinkan dirinya berkontribusi di bidang kesehatan meskipun tidak terjun langsung sebagai tenaga medis.

Prestasi akademik Olin menjadi bukti dedikasi dan kerja kerasnya selama menempuh pendidikan. Ia berhasil meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sebesar 3,79 dan tercatat sebagai wisudawan dengan IPK tertinggi di antara tiga lulusan terbaik pada Wisuda UMMAD 2025. Skripsi yang ia susun berjudul “Analisis Peran Sekolah Luar Biasa dalam Implementasi Program Posyandu Rutin untuk Meningkatkan Layanan Kesehatan bagi Anak Disabilitas di Sekolah Luar Biasa.

Rektor UMMAD, Sofyan Anif, dalam sambutan wisuda menyampaikan bahwa Olin merupakan representasi nyata UMMAD sebagai kampus moderasi yang menjunjung tinggi nilai toleransi beragama. Ia menegaskan bahwa UMMAD tidak pernah membedakan mahasiswa berdasarkan agama, suku maupun ras, melainkan memandang seluruh civitas akademik sebagai bagian utuh dari universitas. Nilai-nilai tersebut terus dikembangkan sebagai bentuk kontribusi UMMAD bagi bangsa dan negara. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search