Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Syafiq A. Mughni, menekankan pentingnya membangun umat Islam yang unggul melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang selaras dengan akhlak mulia.
Menurutnya, umat Islam hanya akan mampu memainkan peran sebagai khairu ummah jika keduanya berjalan beriringan di tengah kompleksitas tantangan zaman.
Kedua hal ini penting bagi Syafiq, mengingat jika tidak memiliki keselarasan antar-keduanya maka implementasi Khairu Ummah sulit untuk tercapai.
“Kalau umat Islam memiliki ilmu pengetahuan yang rendah atau sedang-sedang saja, maka tidak akan mungkin bisa bergerak menjadi khairu ummah dalam situasi seperti sekarang ini” ungkap Syafiq dalam acara Diskusi Publik “Seruan Ahlul Qiblah’ dan Ikhtiar Menguatkan Dialog Intra-Islam” di ICC Hall A Senayan, Jakarta pada Sabtu (21/6/205).
Ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang secara linier dengan adanya penemuan-penemuan dan teori-teori baru, merupakan sifat yang kumulatif dalam perkembangan sebuah ilmu pengetahuan. Dari era Yunani kuno beralih ke era Romawi, hingga era keemasan dalam Islam.
“Jadi, persoalannya adalah siapa yang memegang tampuk di dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi itu, tapi secara universal, ilmu itu tidak pernah mengalami masa surut, pasti terus berkembang,” ungkapnya.
Situasi yang dilematis bagi Syafiq mengingat tidak sepenuhnya ilmu pengetahuan dan teknologi dapat menjamin umat Islam dalam menjalani perannya sebagai khairu ummah.
Maka dari itu, Syafiq mengatakan dengan adanya diskusi publik ini, umat muslim harus memiliki keselarasan akan ilmu pengetahuan dan akhlak yang baik sebagai Khairu ummah.
“Di situlah kunci dari kemajuan sebuah bangsa disamping penguasaan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi adalah persoalan akhlak, persoalan moral,” tegas Syafiq.
Fenomena dalam menyikapi tantangan zaman ini, Syafiq menekankan pada pentingnya akan sebuah ilmu pengetahuan dan teknologi bagi umat Islam, juga memiliki keselarasan dengan akhlak yang baik.
Inklusivitas dalam Beragama
Syafiq memaparkan bagaimana peran seorang muslim yang inklusif menyikapi tantangan antar sesama muslim yang begitu beragam. Ia membaginya dalam dua klasifikasi; pertama ekstrim kanan, yakni dengan menyatakan bahwa umat Islam yang di luar keyakinannya tidak lagi berIslam dengan baik.
Kedua ekstrim kiri, yakni umat yang merasa cukup menjadi muslim dan enggan memperdalam ilmu keagamaan.
Implementasi inklusif yang harus ditanamkan bagi umat muslim, menurut Syafiq, bahwa sepanjang kita meyakini Allah adalah Esa, sepanjang kita yakin bahwa Al-Quran adalah kitab suci kita, Nabi Muhammad adalah Rasul panutan kita, dan kiblat adalah kompas kita di dalam melaksanakan ibadah maka kita harus menganggap mereka sebagai umat Islam
Kata dia, peran inklusivisme ini penting karena jika pola ekstrim terus terjadi maka umat islam tidak akan menjadi umat yang kuat, dan akan terjebak dalam konflik yang sulit untuk diselesaikan.
“Wawasan kita harus semakin luas sehingga tidak mudah sekali untuk mendiskreditkan, mengeks-komunikasi, dan mentakdirkan orang lain,” tegasnya.
Lebih lanjut, Syafiq menekankan pentingnya dialog ini untuk meningkatkan wawasan dan pengetahuan sehingga umat Islam menjadi umat yang beradab dan memberikan manfaat bagi seluruh umat islam.
“Maka barulah kita akan bisa melihat atau merasakan umat Islam menjadi Khairu Ummah karena kebaikannya dapat dirasakan oleh umat yang lain, karena memberikan manfaat bagi dunia pada umumnya, juga bagi kemanusiaan,”pungkasnya. (hizqil)
